Bait Energi & Buah Inovasi, Pelita Bersih Masa Depan Sekolah
SMAN 14 Palembang kembangkan PLTS dan budaya ramah lingkungan lewat Program Sekolah Energi Berdikari Pertamina
Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Di tengah rimbunnya pepohonan dan suasana asri SMAN 14 Palembang, cahaya matahari kini memiliki peran lebih dari sekadar menerangi ruang kelas dan halaman sekolah. Dari atap bangunan, sinarnya ditangkap panel surya, kemudian diubah menjadi energi listrik untuk mendukung aktivitas belajar-mengajar.
Dari sana, sebuah perubahan perlahan tumbuh. Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi bagian dari upaya sekolah menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus mengenalkan pemanfaatan energi bersih kepada generasi muda.
Bagi SMA Negeri 14 Palembang, kehadiran PLTS bukan hanya tentang teknologi dan penghematan biaya operasional. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan sekolah dalam membangun budaya ramah lingkungan, membuka ruang pembelajaran, dan melahirkan berbagai inovasi, serta memperkuat budaya lingkungan yang selama ini dibangun
Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) SMB II bertajuk Sekolah Energi Berdikari (SEB), sekolah ini menjadi salah satu percontohan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Sumatera Selatan.
Menangkap Energi Matahari, Menyalakan Semangat Belajar
Kepala SMA Negeri 14 Palembang, Nyayu Nurlaila menyampaikan jika keterlibatan sekolah dalam Program Sekolah Energi Berdikari berawal dari komitmen menjaga kelestarian lingkungan. Sejak 2023, sekolah ini telah meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional dan terus berproses menuju Adiwiyata Mandiri.
Oleh sebab itu, rekam jejak tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan sekolah sebagai penerima bantuan fasilitas panel surya dari Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel (AFT SMB II).
“Program bantuan panel surya ini diinisiasi melalui Program TJSL/CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel (AFT SMB II) bertajuk Sekolah Energi Berdikari (SEB). SMA Negeri 14 Palembang terpilih berkat komitmen tinggi pihak sekolah dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Yang mana, sekolah telah meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional sejak tahun 2023 dan saat ini sedang berproses menuju Adiwiyata Mandiri,” ujar Nurlaila, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, penetapan sekolah sebagai salah satu lokasi percontohan di Sumatera Selatan juga mempertimbangkan rekam jejak, visi kepemimpinan, serta kesiapan infrastruktur yang dimiliki.
“Melihat rekam jejak, visi kepemimpinan sekolah, serta kesiapan infrastruktur, Pertamina menetapkan SMAN 14 Palembang sebagai salah satu pilot project Sekolah Energi Berdikari di Sumatera Selatan guna mendukung akselerasi energi bersih dan edukasi keberlanjutan,” katanya.
Instalasi PLTS Atap mulai dipasang pada November 2023. Fasilitas tersebut kemudian diresmikan, sekaligus diserahterimakan pada 24 November 2023 dalam rangkaian peluncuran Program Sekolah Energi Berdikari di SMA Negeri 14 Palembang. Sejak peresmian tersebut, sistem PLTS mulai beroperasi untuk menyuplai sebagian kebutuhan listrik harian di lingkungan sekolah.
Secara teknis, fasilitas bantuan Pertamina ini terdiri atas beberapa komponen utama, di antaranya modul panel photovoltaic (PV) yang menangkap radiasi matahari, inverter yang mengubah arus listrik searah (DC) menjadi arus bolak-balik (AC), serta baterai penyimpan energi agar daya yang dihasilkan dapat dimanfaatkan ketika intensitas matahari berkurang. Instalasi tersebut juga dilengkapi panel kontrol dan sistem pemantauan untuk melihat produksi energi, konsumsi listrik, hingga estimasi pengurangan emisi karbon.
Dari sisi keamanan, sistem PLTS turut dilengkapi perangkat proteksi kelistrikan, seperti MCB, grounding, surge arrester atau penangkal lonjakan arus, serta kabel distribusi sesuai standar kelistrikan. Seluruh komponen tersebut mendukung operasional instalasi agar dapat dimanfaatkan secara aman dan berkelanjutan.
Manfaatnya juga terasa pada pengeluaran rutin sekolah. Pemanfaatan energi matahari membantu mengurangi tagihan listrik PLN sekitar 15 persen setiap bulan, meskipun besarnya penghematan bergantung pada intensitas penyinaran matahari.
“PLTS Atap yang terpasang di SMAN 14 Palembang memiliki kapasitas 6,6 kWp, dengan dukungan baterai penyimpanan sebesar 5 kWh. Dengan kapasitas tersebut membantu memenuhi sebagian kebutuhan listrik pada jam kegiatan belajar, terutama untuk pencahayaan laboratorium komputer, pengoperasian komputer, dan pendingin ruangan,” jelasnya.
Kehadiran panel surya juga memberikan dampak terhadap biaya operasional. Menurut Nurlaila, pemanfaatan energi matahari membantu sekolah menghemat tagihan listrik PLN setiap bulan, meskipun besar penghematan dapat dipengaruhi intensitas penyinaran matahari.
“Penggunaan panel surya ini memberikan dampak langsung pada penurunan beban biaya operasional sekolah. Sekolah berhasil menghemat tagihan listrik bulanan PLN sebesar 15 persen per bulan, bergantung pada intensitas penyinaran matahari,” ungkapnya dengan senyum hangat.
Nurlaila menatakan jika dana yang berhasil dihemat kemudian dapat dialihkan untuk mendukung kebutuhan lain. Dana yang sebelumnya digunakan untuk membayar tagihan listrik, sekarang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler, pemeliharaan fasilitas pembelajaran, serta pengembangan sarana Adiwiyata.
“Ada penghematan dari alokasi tagihan listrik bulanan yang kemudian dapat dialihkan untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler, pemeliharaan fasilitas pembelajaran, serta pengembangan sarana Adiwiyata sekolah,” katanya.
Agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang, sekolah menerapkan pemeliharaan berkala terhadap instalasi PLTS. Permukaan panel dibersihkan setiap satu hingga dua bulan untuk menghilangkan debu, dedaunan, maupun kotoran burung yang dapat menghalangi penyerapan cahaya matahari. Pemeriksaan visual terhadap kabel, konektor, inverter, dan baterai juga dilakukan oleh tim sarana dan prasarana sekolah.
Nurlaila menjelaskan jika perawatan tidak hanya dilakukan melalui pembersihan panel, tetapi juga pemeriksaan kondisi fisik dan kelistrikan perangkat. Sekolah turut mendapatkan pendampingan dari Pertamina dan teknisi mitra penyedia sistem PLTS.
“Untuk memastikan sistem panel surya tetap berfungsi secara optimal dalam jangka panjang, diterapkan pemeliharaan berkala. Perawatan rutin meliputi pembersihan permukaan kaca panel surya dari debu, dedaunan, dan kotoran burung setiap satu hingga dua bulan sekali agar penyerapan cahaya matahari tidak terhalang,” jelasnya.
Lebih lanjut, pemeriksaan juga dilakukan terhadap kabel, soket konektor, serta indikator inverter dan baterai. Guru fasilitator maupun petugas sekolah telah mendapatkan edukasi teknis dasar untuk membantu penanganan awal jika terjadi kendala sederhana.
“Selain pemeriksaan oleh tim sarana dan prasarana sekolah, ada pendampingan dan monitoring berkala dari tim TJSL/CSR Pertamina Patra Niaga AFT SMB II serta teknisi mitra penyedia sistem PLTS. Edukasi teknis dasar juga diberikan kepada guru fasilitator dan penjaga sekolah,” katanya.
Di lingkungan pendidikan, nilai lebih dari fasilitas tersebut justru terletak pada kesempatan belajar yang dihadirkannya. Panel surya dimanfaatkan sebagai living lab, tempat siswa dapat mengamati secara langsung proses perubahan energi matahari menjadi listrik.
“Fasilitas panel surya ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana teknis penerangan, tetapi diintegrasikan secara aktif dalam proses pendidikan di SMA Negeri 14 Palembang,” tuturnya.
Dalam pembelajaran, pemanfaatan PLTS dapat dikaitkan dengan Kurikulum Merdeka, termasuk penguatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan mata pelajaran sains. Siswa dapat mempelajari konversi energi dan listrik dinamis melalui Fisika, sumber daya alam terbarukan melalui Geografi, serta keterkaitan lingkungan dan energi melalui Biologi maupun Kimia.
“Panel surya dimanfaatkan sebagai laboratorium terbuka dalam mata pelajaran Fisika, khususnya materi konversi energi dan listrik dinamis, Geografi mengenai sumber daya alam terbarukan, serta pembelajaran Biologi dan Kimia. Dengan begitu, siswa bisa melihat dan mempelajari langsung penerapan energi matahari dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.
Melalui edukasi dan pengenalan teknologi, siswa diajak memahami cara kerja PLTS, efisiensi energi, serta pentingnya menggunakan energi secara bijak. Pembelajaran tersebut sekaligus memperkuat upaya sekolah dalam memenuhi indikator lingkungan menuju predikat Adiwiyata Mandiri.
Keterlibatan siswa sekolah juga dibangun melalui berbagai kegiatan partisipatif. Siswa didorong menjadi kader energi atau Duta Adiwiyata yang mengampanyekan kebiasaan hemat listrik, seperti mematikan lampu dan pendingin ruangan ketika kelas tidak digunakan. Guru turut menyisipkan nilai kesadaran iklim, energi bersih, dan gaya hidup minim emisi dalam proses pembelajaran.
Ia menyebut gerakan bersama tersebut juga diwujudkan melalui pameran inovasi edukasi, lokakarya pengolahan limbah, serta aksi penanaman pohon di lingkungan sekolah. Seluruh kegiatan diarahkan agar kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya dipahami sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi kebiasaan yang dilakukan bersama.
Dirinya berharap agar kedepan SMA Negeri 14 Palembang dapat menjadi model sekolah energi berdikari dan percontohan pemanfaatan EBT bagi institusi pendidikan lain di Sumatera Selatan. Ia juga berharap dukungan tersebut semakin menguatkan langkah sekolah dalam meraih predikat Adiwiyata Mandiri dan membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan.
“Harapan kami, SMA Negeri 14 Palembang dapat menjadi pelopor dan sekolah percontohan dalam penerapan Energi Baru Terbarukan bagi sekolah-sekolah lain di Kota Palembang dan Provinsi Sumatera Selatan. Kami ingin membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis, adaptif terhadap isu perubahan iklim, serta siap menjadi pemimpin masa depan yang berorientasi pada keberlanjutan. Kami juga berharap sinergi dengan Pertamina dapat terus diperkuat demi mendukung peningkatan kualitas sarana dan mutu pendidikan,” ucapnya.
Merawat Bumi dari Kebiasaan Sehari-hari
Di luar pemanfaatan energi matahari, suasana asri SMA Negeri 14 Palembang juga dibangun melalui kebiasaan sehari-hari. Pepohonan yang tumbuh di lingkungan sekolah, halaman yang terjaga, serta pengelolaan sampah menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang belajar yang nyaman dan bersahabat dengan alam.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Hefrin Noviandi mengatakan salah satu pekerjaan rumah sekolah adalah memastikan aktivitas siswa tidak menambah timbulan sampah. Karena itu, siswa dibiasakan membawa botol minum atau tumbler sendiri. Sekolah menyediakan sumber air minum sehingga penggunaan kemasan sekali pakai dapat dikurangi.
“Anak-anak kita biasakan membawa tumbler. Sekolah sudah menyediakan sumber air minum. Kita tidak mewajibkan mereka membeli air kemasan. Kalau masih ada sampah plastik, tetap kita upayakan agar bisa dikelola kembali,” katanya bercerita.
Apabila masih terdapat sampah plastik, sekolah mengelolanya melalui bank sampah yang berada di lingkungan sekolah. Sampah dari siswa maupun unit-unit ruangan dikumpulkan, dipilah, kemudian dijual atau diolah kembali. Sementara itu, sampah organik dikelola melalui unit tersendiri sesuai pembagian tugas warga sekolah.
Pengelolaan sampah tersebut tidak hanya berorientasi pada kebersihan, tetapi juga mendorong kreativitas dalam memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna. Sebagian limbah plastik diolah menjadi produk baru. Sekolah juga mencoba mengembangkan pemanfaatan minyak hasil pengolahan plastik untuk kebutuhan energi dan produk seperti lilin aromaterapi.
Bagi Hefrin membangun budaya Adiwiyata membutuhkan proses panjang. Predikat sekolah berwawasan lingkungan harus tercermin dalam perilaku seluruh siswa sekolah, bukan sekadar menjadi penghargaan atau slogan. Predikat Adiwiyata tidak akan berarti apabila tidak tercermin dalam perilaku sehari-hari.
“Adiwiyata itu adalah sikap mental. Tidak mudah, prosesnya panjang. Kebiasaan yang benar-benar bersahabat dengan lingkungan, bukan sekadar kata-kata, tetapi perilakunya,” tegasnya.
Menurutnya, kebiasaan itu dimulai dari hal-hal sederhana. Siswa diajak menjaga kebersihan sejak memasuki gerbang sekolah, mengambil sampah yang ditemukan, merawat tanaman, hingga menjaga lingkungan kelas. Kegiatan yang kerap disebut sebagai operasi semut tersebut menjadi salah satu cara menanamkan kepedulian lingkungan secara langsung.
“Anak-anak harus dibiasakan. Bahkan sejak pagi masuk gerbang sekolah, mereka sudah diajak mengambil sampah. Jadi, kebiasaan Adiwiyata itu harus benar-benar menjadi perilaku yang bersahabat dengan lingkungan,” ucapnya disela-sela obrolan.
Lebih lanjut, kata dia, sekolah juga membagi peran kepada siswa sekolah dalam berbagai kegiatan Adiwiyata. Ada unit yang berfokus pada pengelolaan sampah, ada pula yang mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah. Dengan pembagian tersebut, setiap siswa sekolah memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.
Upaya menjaga lingkungan juga dilakukan melalui pembinaan terhadap sekolah lain. Dalam proses menuju Adiwiyata Mandiri, SMA Negeri 14 Palembang memiliki tanggung jawab untuk membagikan praktik baik kepada sekolah-sekolah yang sedang mengembangkan budaya peduli lingkungan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi contoh sekaligus motivasi agar sekolah lain berani memulai perubahan.
Bagi Hefrin, pendidikan lingkungan tidak harus selalu menghasilkan produk yang dipasarkan. SMAN 14 Palembang merupakan sekolah umum, sehingga fokus utamanya adalah memberikan edukasi dan menanamkan pola pikir kreatif kepada peserta didik.
“Kita ini sekolah umum, bukan SMK. Artinya tugas kita mengedukasi anak, menanamkan di benak mereka prinsip ‘Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti bisa’. Kita ingin mengajarkan bahwa peluang menciptakan lapangan kerja itu ada bagi mereka yang mau berusaha,” tegasnya.
Pesan tersebut juga tercermin dalam berbagai inovasi yang dikembangkan sekolah. Terinspirasi dari fasilitas PLTS bantuan Pertamina, SMA Negeri 14 Palembang secara mandiri membuat stasiun pengisian daya telepon genggam berbasis panel surya berukuran mini. Inovasi tersebut menggunakan pendanaan sekolah dan menjadi contoh penerapan teknologi energi matahari dalam skala sederhana.
Selain itu, sekolah mengembangkan gagasan Smart Power Energy dan Misting Spray untuk mendukung kebutuhan rumah kaca. Inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan mengenai energi dan teknologi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan di lingkungan sekolah.
Di sisi lain, penghijauan tetap menjadi perhatian. Pepohonan dan tanaman dirawat agar lingkungan sekolah tetap teduh dan nyaman. Bahkan, ketika kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh, petugas piket tetap menjalankan tugas perawatan tanaman agar lingkungan sekolah tidak kehilangan kesan asri.
Menurutnya, seluruh kebiasaan tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter. Siswa tidak cukup hanya mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi perlu membiasakan diri melakukannya. Dari kebiasaan kecil itulah kepedulian diharapkan tumbuh dan terbawa hingga mereka berada di tengah masyarakat.
Memperkuat Energi Bersih dan Memperluas Manfaat Program
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagsel, Rusminto Wahyudi menyebut jika pemilihan sekolah dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan. Salah satu pertimbangannya adalah status SMAN 14 Palembang sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional.
Setelah koordinasi tersebut, tim internal CSR Regional Sumbagsel melakukan survei untuk melihat kesiapan sekolah dalam menerima Program Sekolah Energi Berdikari. Proses tersebut dilakukan agar fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan selaras dengan kebutuhan serta komitmen sekolah.
“Latar belakang pemilihan SMAN 14 Palembang sebagai lokasi Program Sekolah Energi Berdikari melalui koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan terkait sekolah Adiwiyata Nasional. Setelah koordinasi, dilakukan survei oleh Tim Internal CSR Regional Sumbagsel untuk melihat kesiapan sekolah dalam menerima program tersebut,” terangnya.
Dalam pelaksanaannya, program juga disertai transfer pengetahuan mengenai energi baru terbarukan. Pertamina melibatkan Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) untuk memberikan pelatihan dan sosialisasi kepada guru serta siswa. Hasil edukasi tersebut kemudian mendorong warga sekolah mengembangkan berbagai proyek berbasis lingkungan.
“Tentu, dilakukan juga pelatihan dan sosialisasi terkait Energi Baru Terbarukan oleh Pertamina New and Renewable Energy (PNRE). Selain itu juga SMA Negeri 14 Palembang sudah melakukan transfer knowledge ke sekolah-sekolah lainnya,” tuturnya.
Salah satu buktinya terlihat dalam Green Innovation Expo Palembang yang bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret pada 30 Januari 2026. Dalam kegiatan tersebut, siswa dan guru menampilkan proyek-proyek inovasi lingkungan yang kemudian diterapkan di SMAN 14 Palembang. Pengembangan tersebut sekaligus mendukung langkah sekolah menuju predikat Adiwiyata Mandiri.
Rusminto menerangkan jika perkembangan program selama dua tahun terakhir menjadi salah satu pertimbangan dalam rencana penguatan fasilitas PLTS. Pada 2025, SMAN 14 Palembang telah membina dua sekolah lain, yakni SMAN 19 Palembang dan SDN 123 Palembang. Selanjutnya, pada 2026, sekolah mengajukan diri menuju predikat Adiwiyata Mandiri sehingga membutuhkan peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan.
Pertamina juga melakukan asesmen terhadap pelaksanaan Program Sekolah Energi Berdikari di SMAN 14 Palembang. Berdasarkan hasil asesmen, penambahan fasilitas panel surya dinilai diperlukan untuk mendukung berbagai inovasi yang telah dikembangkan siswa dan guru, seperti Smart Power Energy, Misting Spray, dan stasiun pengisian daya berbasis tenaga surya.
“Pada tahun 2025 SMA Negeri 14 Palembang telah membina dua sekolah lainnya, yaitu SMA N 19 Palembang dan SD N 123 Palembang. Sehingga pada tahun 2026, SMA Negeri 14 Palembang telah mengajukan sebagai sekolah Adiwiyata tingkat mandiri dan dibutuhkan peningkatan dari sisi lingkungan,” terangnya.
Selain itu, hasil asesmen tim CSR Regional Sumbagsel juga menjadi dasar perlunya penambahan fasilitas panel surya untuk menunjang inovasi yang telah dikembangkan warga sekolah.
“Berdasarkan hasil asesmen, perlu dilakukan penambahan fasilitas panel surya untuk mendukung inovasi-inovasi yang telah dilakukan oleh siswa dan guru, yaitu Smart Power Energy, Misting Spray, dan Charger Berbasis Tenaga Surya,” lanjutnya.
Rencana penambahan kapasitas atau perluasan instalasi panel surya tersebut dijadwalkan mulai dilaksanakan pada November 2026 dan ditargetkan selesai pada Desember 2026, apabila berjalan sesuai rencana.
Terkait kapasitas PLTS, Rusminto menyampaikan bahwa berdasarkan data Pertamina, kapasitas PLTS di SMAN 14 Palembang tercatat sebesar 6,6 kilowatt-peak (kWp), dengan baterai penyimpanan berkapasitas 5 kilowatt-hour (kWh).
Angka tersebut merupakan kapasitas yang disampaikan berdasarkan data Pertamina. Sementara itu, kapasitas tambahan yang secara khusus akan dipasang dalam proyek ekspansi November–Desember 2026 belum dirinci secara terpisah.
Rusminto menegaskan jika dukungan Pertamina terhadap dunia pendidikan tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas fisik. Lebih dari itu, program diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku, pengembangan pengetahuan, dan penerapan energi terbarukan dalam aktivitas sehari-hari.
“Dukungan terhadap sekolah tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas, tetapi juga diharapkan mendorong edukasi, inovasi, dan penerapan energi terbarukan dalam aktivitas sehari-hari,” tegasnya.
Ke depan, Pertamina Group berkomitmen mendukung keberlanjutan Program Sekolah Energi Berdikari dan memperluas penerima manfaatnya ke berbagai wilayah di Indonesia. Pengalaman SMAN 14 Palembang diharapkan menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri dapat mendorong pemanfaatan energi bersih sekaligus membangun budaya peduli lingkungan.
“Pertamina Group berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan program Sekolah Energi Berdikari. Ke depannya, Pertamina akan terus memperluas penerima manfaat Sekolah Energi Berdikari di seluruh Indonesia,” ucap dia.
Di SMAN 14 Palembang, perubahan itu kini tumbuh melalui banyak hal. Cahaya matahari yang diubah menjadi listrik, sampah yang dikelola kembali, pepohonan yang dirawat, hingga gagasan sederhana yang dikembangkan menjadi inovasi. Semuanya bertemu dalam satu tujuan, yakni menjadikan sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk belajar bertanggung jawab terhadap bumi.
Di bawah atap yang menangkap cahaya matahari, energi bersih bertemu dengan semangat belajar dan buah inovasi. Dari sana, SMAN 14 Palembang merawat harapan bahwa perubahan besar dapat tumbuh dari langkah-langkah sederhana: menggunakan energi secara bijak, menjaga lingkungan, dan berani menciptakan gagasan baru. Sebuah upaya bersama untuk menyalakan pelita bersih bagi masa depan sekolah dan generasi mendatang.
(Tia/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
HUKUM DAN KRIMINALKepergok Curi Ayam Bangkok, Pria di Bandung Aniaya Pemilik hingga Tewas
hendra·36 menit yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALMA Nyatakan Suket SMA Gibran Tak Sah, Pengacara Sebut Posisi Wapres Tak Terpengaruh
hendra·1 jam yang lalu -
PENDIDIKANBait Energi & Buah Inovasi, Pelita Bersih Masa Depan Sekolah
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
INTERNASIONALPHK di Singapura Tembus 4.800 Orang, Tertinggi Sejak Pandemi COVID-19
hendra·1 jam yang lalu -
INTERNASIONALAS Restui Penjualan Rudal Patriot Rp38 Triliun untuk Ukraina
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALKecoh SPBU Pakai Barcode Ganda, Sopir Truk Penimbun Solar Subsidi untuk Pabrik Beton Diciduk
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NEWSSambut HUT ke-81, Brimob Sulteng Gelar Hipnoterapi Gratis untuk 485 Warga
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
INTERNASIONALBuntut Pelarian Flavio Bolsonaro, Brasil Panggil Kuasa Usaha Argentina
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
PERISTIWA5 Rumah Permanen di Titi Papan Medan Ludes Terbakar, Tidak Ada Korban Jiwa
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
OLAHRAGAJelang Duel Kontra Chelsea, Michael Carrick Tuntut Skuad MU Tetap Pede
Rozie Winata·5 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan