Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Analis Pasar: Kurs Rupiah Berfluktuasi Nyaris Menyentuh Rp16.000 Per Dolar AS

Editor:  Team
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
kurs rupiah tercatat hampir menyentuh Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Jika pelemahan rupiah berlanjut, kinerja emiten sektor energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai akan terdampak negatif. 

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan, Jumat (22/11/2024) nilai tukar kurs rupiah tercatat hampir menyentuh Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Jika pelemahan rupiah berlanjut, kinerja emiten sektor energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai akan terdampak negatif. 

BACA: Pulau Kerengge di Selat Singapura Dijual Rp12 Miliar, BP2D Kepulauan Riau Angkat Bicara

Berdasarkan catatan pada perdagangan kemarin, kurs rupiah Jisdor menguat 0,19% ke Rp 15.911 per dolar AS. Rupiah spot juga menguat 0,35% ke Rp 15.875 per dolar AS hari ini.

Baca Juga : IHSG Parkir di Zona Hijau Bertengger di Level 7.926,45 di Perdagangan Sesi I, Jumat (15/8/2025)

Fluktuasi rupiah dinilai memiliki dampak langsung ke kinerja emiten energi dengan pendapatan dalam dolar AS, memiliki obligasi global, serta memiliki bisnis yang erat dengan impor bahan baku.

Untuk emiten dengan pendapatan dolar AS, dampaknya bisa positif dan bisa memperbaiki kinerja mereka yang sempat tergerus per kuartal III 2024 yang salah satunya disebabkan selisih kurs.

BACA: Pulau Kerengge yang Subur Tidak Berpenghuni di Kepulauan Riau Dijual Rp12 Miliar

Baca Juga : IHSG Berhasil Menguat 0,93% Dalam Sepekan Terakhir di Pasar Spot

Ambil contoh, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) alias PGN, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT), dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO).

PGAS mencatat laba bersih sebesar US$ 263,38 juta, berhasil naik 32,69% secara tahunan alias year on year (YoY). Namun, PGAS mengalami rugi selisih kurs penjabaran laporan keuangan entitas anak sebesar US$ 891,40 ribu. 

Corporate Secretary PGAS Fajriyah Usman mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebenarnya tidak secara signifikan memengaruhi operasional utama.  

Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760

BACA: Rekomendasi 5 Surga Wisata di Kepulauan Riau, Ada Jembatan Mirip Golden Gate di San Fransisco, AS

Namun, PGAS terus memonitor fluktuasi nilai tukar dan menerapkan strategi mitigasi risiko, termasuk melalui natural hedge dan kebijakan keuangan yang prudent. 

“Hal ini dilakukan untuk memastikan kinerja tetap solid. Fokus kami adalah terus menjaga efisiensi operasional dan memberikan layanan terbaik bagi pelanggan di tengah dinamika ekonomi,” kata Fajriyah.

Baca Juga : Rupiah Menguat di Awal Pekan, Dolar AS Tertekan ke Rp16.770

Fajriyah mengaku, PGAS saat ini tidak memiliki utang obligasi. PGAS telah melunasi seluruh obligasi pada Mei 2024, sehingga tidak memiliki eksposur obligasi, baik dalam dolar AS maupun mata uang lainnya.

Selain itu, per 30 September 2024, debt-to-equity ratio (DER) PGAS berada pada level yang sehat, yaitu 0,3x. Hal ini diakui Fajriyah mencerminkan struktur keuangan yang solid dan kemampuan PGAS dalam menjaga keseimbangan antara ekuitas dan kewajiban. 

“Dengan posisi keuangan ini, kami dapat fokus pada pengelolaan operasional yang efisien dan tetap tangguh menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah,” ungkapnya.

Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan, Pasar Cermati Arah Suku Bunga dan Sentimen Global

ANJT mencatatkan laba bersih sebesar US$ 1,49 juta per kuartal III 2024, naik US$ 610.300 per periode sama tahun lalu. Selisih kurs penjabaran laporan keuangan entitas anak sebesar US$ 2,83 juta, turun dari US$ 2,92 juta.

Manajemen ANJT mengungkapkan, terjadi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke Rp 15.138 per dolar AS di akhir September 2024.

”Alhasil, nilai aset dari beberapa entitas anak yang pembukuannya dalam rupiah tercatat jadi turun menjadi US$ 2,83 juta di akhir September 2024,” ujarnya dalam keterangan resmi tertanggal 31 Oktober 2024.

Baca Juga : Rupiah Dibuka Melemah, Sentuh Rp16.871 per Dolar AS

ADRO juga mencatatkan penurunan raihan pada selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan sebesar US$ 301 ribu per kuartal III 2024, merosot dari US$ 15,18 juta per periode sama tahun lalu. ADRO akhirnya mencatatkan penurunan laba bersih 10,6% YoY ke US$ 4,45 miliar per kuartal III 2024.

Secara sektoral, Economist NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama melihat, sektor energi secara umum mendapatkan dampak positif. Sebab, para emiten energi banyak melakukan ekspor komoditas ke luar.

”Sektor konsumen juga akan mendapatkan dampak negatif, karena banyak impor bahan baku dari luar,” ujarnya.

Ezaridho melihat, kinerja emiten-emiten energi dan konsumen sangat beragam ke depan. Dengan terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden AS, Amerika Serikat akan kembali ke kebijakan luar negeri mereka sebelumnya, yaitu speak softly and carry a big stick.

“Jadi, Amerika Serikat akan menunjukkan gigi untuk menghentikan perang antara Ukraina-Rusia dan Israel-Palestina,” paparnya. 

Alhasil, harga komoditas energi akan cenderung turun harganya, terutama batubara dan minyak bumi. Jika kita melihat dari periode pertama Trump, dia juga akan deregulasi produksi minyak bumi dalam negeri dan melonggarkan menggunakan fracking untuk ekstraksi minyak.

Trump juga diperkirakan akan mengembalikan AS menjadi net exporter untuk minyak, seperti pada periode pertama kepemimpinannya.

“Namun, pelemahan rupiah tidak akan terlalu berdampak dengan kinerja saham para emiten,” tuturnya.

Ezaridho merekomendasikan beli untuk INDF dengan target harga Rp 10.200 per saham.

“Kinerjanya bisa meningkat ditopang bisnis CPO dan volume penjualan mie instan. Namun, ada risiko menurunnya permintaan lantaran ada subsidi bahan pangan dan meningkatnya tarif di pasar internasional,” tuturnya.(kontan)

(nusantaraterkini.co/win)