Suryanti Sulap Limbah Buah jadi Cairan Eco Enzyme Penetralisir Asap
Suryanti Sulap Limbah Buah jadi Cairan Eco Enzyme Penetralisir Asap
Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Di tengah kepungan kabut asap pekat yang melumpuhkan kualitas udara Kota Palembang selama kurang lebih empat bulan terakhir, sebuah solusi kesehatan lahir secara mandiri dari seorang warga yang tinggal di Jalan MP. Mangkunegara RT.001 RW.01 Nomor 1, Depan Kantor Telkom Palembang.
Dari pekarangan rumah sederhana yang rindang di bawah naungan pohon bambu, Suryanti mengolah limbah sampah dapur menjadi cairan penawar polusi udara.
Suryanti berhasil menciptakan manfaat besar bagi lingkungan dengan menyulap sampah limbah kulit buah dan sisa sayuran menjadi cairan eco enzyme penekan polusi kabut asap karhutla.
Suryanti yang menjabat sebagai Ketua Komunitas Rumah Enzim Bakti Nusantara (REBN) menyampaikan jika eco enzyme mampu menghasilkan dan memancarkan ion negatif secara alami selama proses fermentasi maupun setelah dipanen.
“Mungkin sebagian orang masih awam soal eco enzyme. Tapi ini memiliki manfaat besar. Eco enzyme mampu menghasilkan ion negatif secara alami,” ujar Ketua REBN, Suryanti, Sabtu (24/10/2026).
Sifat pemancaran ion negatif tersebut mirip dengan cara kerja air terjun, ombak laut, atau pohon hidup yang mampu mengikat debu, asap kendaraan, asap rokok, dan partikel polutan melayang di udara agar jatuh ke bawah.
Selain menetralisir bau dan membuat kualitas udara terasa lebih segar bagi pernapasan, eco enzyme dalam skala besar berpotensi membantu mengurangi polusi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meskipun mempunyai beragam manfaat, bahan alami hasil fermentasi ini tidak memiliki masa kadaluarsa dalam pemanfaatannya, tetapi tidak untuk dikonsumsi.
Untuk menjaga kualitas udara dari kabut asap bahaya, cairan dapat diencerkan kemudian disemprotkan di lingkungan sekitar baik di dalam maupun luar ruangan berdasarkan komposisi tertentu.
Suryanti menyebut bahan mentah pembuatan berasal dari kulit buah dan batang sayur, kecuali kulit buah alpukat dan kelapa karena mengandung minyak.
“Bahan mentah dari kulit buah, batang sayur. Tapi tidak dengan kulit buah alpukat dan kelapa, karena mengandung minyak,” jelas Suryanti.
Di halaman belakang rumah yang dipenuhi baskom, ember plastik, dan gentong biru, Suryanti mempraktekkan cara pembuatan dengan mencampur bahan mentah, air, dan molase (gula alami) dari limbah ampas tahu yang beraroma mirip kecap dan bertekstur kental hitam kecokelatan.
Formula pembuatan untuk 15 kilogram bahan mentah menggunakan takaran perbandingan 1:3:10, di mana molase juga dapat diganti menggunakan gula aren atau gula merah yang telah mencair.
“Bahan organik dari satu baskom untuk 15 kilogram. Perbandingannya 1:3:10. Jadi satu botol minum mineral ukuran 1,5 liter gula atau molase atau juga bisa dengan gula merah atau gula aren dengan 3 kilogram bahan organik dan 10-nya itu air 10 liter,” jelasnya.
Proses fermentasi membutuhkan waktu minimal 3 bulan dalam wadah tertutup rapat dan kedap udara, di mana makin lama disimpan akan menghasilkan kualitas eco enzyme terbaik.
Saat proses fermentasi berlangsung, akan muncul lapisan jamur pitera atau cairan fermentasi berupa jamur putih kecokelatan secara alami dari sisa bahan organik.
Awal mula Suryanti fokus mengenalkan eco enzyme dimulai sejak mengenal teorinya pada 2019, lalu konsisten belajar meracik pada 2023 dari peneliti Naturopati asal Penang Malaysia, Dr. Joean Oon, saat kabut asap karhutla melanda.
Selama memproduksi eco enzyme sejak 2023, Suryanti tidak menerima bantuan dana dari pemerintah dan murni mengandalkan biaya mandiri, serta hasil donasi ke REBN.
“Niat awalnya untuk berbagi kebaikan. Kita baik dan membagikan kebaikan bisa jadi berkah. Apalagi ternyata eco enzyme ini bisa jadi penetralisir kabut asap,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan limbah kulit buah, menyumbang bahan organik, atau berdonasi dapat menghubungi Suryanti via WhatsApp (0895323332333), Instagram (@rebn_official1), atau rekening BCA REBN (1510391265).
(Tia/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
OLAHRAGAVeda Ega Pratama Raih Pole Position Perdana di Moto3 Australia
Herman Saleh Harahap·24 menit yang lalu -
SUMUTSultan Deli dan Tokoh Agama Desak Penegakan Hukum Karhutla
Herman Saleh Harahap·45 menit yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALPolda Metro Jadwalkan Pemeriksaan Dandhy Laksono Soal Dokumenter Pesta Babi
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NEWSPrakiraan BMKG: Sejumlah Daerah Berpotensi Hujan Sepekan ke Depan
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
SUMUTPemprov Sumut Pacu Pembangunan Kawasan Pertanian Unggulan Daerah
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSUsman Husin Desak Pembakar Hutan Ditindak Tegas, 243 Orang Jadi Tersangka Karhutla
hendra·2 jam yang lalu -
-
NEWS VIDEOSuryanti Sulap Limbah Buah jadi Cairan Eco Enzyme Penetralisir Asap
Fadli Tara·3 jam yang lalu -
-
NEWSDugaan Keracunan MBG Berulang, Irma Suryani Desak Kepala SPPG dan Ahli Gizi Dievaluasi
hendra·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan