Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sorkam dalam Krisis Usai Banjir Surut: Warga Berbagi Makanan di Tengah Kenaikan Harga dan Minimnya Bantuan

Editor:  Herman Saleh Harahap
Reporter: Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kondisi rumah warga desa Sorkam, Kecamatan Sorkam, usai dilanda banjir paling parah dalam riwayat banjir di desa. Beberapa benda dan barang milik warga turut hanyut. (Foto:istimewa)

Nusantaraterkini.co,MEDAN - Warga Kecamatan Sorkam dan Kecamatan Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), dilanda banjir hingga menyentuh leher orang dewasa, pada Rabu (26/11/2025) dini hari. Usai mengungsi dan selamat, kini, mereka bertahan dengan berbagi makanan karena belum disentuh bantuan.

Padahal, dua kecamatan itu, menjadi salah satu titik yang dilalui oleh kendaraan pengangkut bantuan. Warga juga dihadapkan dengan kenaikan harga sembako yang tiba-tiba.

Baca Juga : Bantuan Banjir dan Longsor di Tapteng Belum Merata, Banyak Wilayah Masih Terisolasi 

Nanda Azahari Tanjung, warga Desa Sorkam, Kecamatan Sorkam, menceritakan kesaksiannya tentang kondisi para warga usai dilanda banjir paling parah dalam riwayat panjangnya. Kepada Nusantaraterkini.co pada Senin (1/12/2025), Nanda menyebut, saat ini, warga bertahan hidup tanpa adanya bantuan.

Nanda, tiba di lokasi bencana Jumat (28/11/2025) kemarin. Dia didorong oleh rasa khawatir atas kondisi orangtuanya yang saat ini berada di desa. Kadang-kadang, jelasnya, warga yang kebetulan memiliki stok makanan berlebih, mau tidak mau, berbagi ke warga lain. Meskipun itu, tak cukup untuk seluruh warga Desa Sorkam.

"Palingan berapa lah itu. Semua orang terdampak, kemarin hari Sabtu, penjual bakso juga bagi-bagikan ke warga, itupun karena bakso berbahan daging. Listrik padam sejak banjir soalnya," ucap Nanda dalam perjalanan menuju kota perantauannya melalui saluran telepon, Senin pagi.

Nanda menjelaskan, di Desa Sorkam, saat ini, kondisi lingkungan masih menunjukkan jejak kuat dari banjir. Air memang telah surut, namun, permukaan tanah berubah menjadi campuran lumpur pekat dan pasir halus yang terbawa dari kawasan hulu. Sementara di kawasan hulu, sebanyak kurang lebih tiga rumah telah hanyut dibawa arus banjir.

Baca Juga : Minimarket Dijarah Warga Tapteng Usai Terisolasi Banjir–Longsor, Polisi Turun Tangan
"Perabotan diletakkan di teras atau digantung di pagar-pagar, beberapa digantung juga dipagar masjid," ujar Nanda.

Banyak bagian tertutup lumpur tebal, dan beberapa titik amblas akibat arus deras. Hanya sepeda motor tertentu yang berani melintas, itupun dengan risiko terpeleset. Di area kembatan penghubung ke Kecamatan Sorkam Barat, warga menempatkan batang kayu sebagai penanda.

Di balai desa, ataupun titik keramaian di kecamatan tidak ada posko atau dapur umum. Petugas kecamatan, kelurahan, dan desa juga belum diketahui akan bertindak seperti apa.

Kurnia, warga Desa Pasar Sorkam, Kecamatan Sorkam Barat, mengeluh setelah banjir surut. Dia gelisah karena harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta sejumlah bahan makanan melambung tinggi.

Baca Juga : Warga Tapteng di Medan Turun ke Jalan: Galang Dana untuk Korban Bencana 

"Beras harganya sudah  30 ribu 1 kilo, bensin 1 liter 35 ribu, cabai merah 1 kilo sudah 200 ribu. Itupun masih mending kalau stoknya ada. Sulit makanan sekarang di sini," kata Kurnia, kepada Nusantaraterkini.co.

Pasca banjir, kata Kurnia, grosir besar yang menjual bahan pokok mulai kehabisan stok. Beberapa bahan tidak lagi di jual ke warga. "Yang punya grosir juga terdampak. Wajar aja mereka gak mau jual lagi," ujar Kurnia.

Desa Pasar Sorkam, merupakan desa yang sangat dekat dengan laut. Kawasan tersebut dikenal karena pantainya. Belakangan, sebelum banjir melanda ikan sudah mulai sulit didapat nelayan. Bahkan, Kurnia khawatir karena laut terlihat surut.

"Takut saat itu, kayak tanda-tanda mau sunami," katanya.

Kondisi terkini, di sepanjang pesisir desa Pasar Sorkam, jejak banjir masih tampak jelas meski air telah surut. Garis pantai yang biasanya dipenuhi perahu kecil dan jaring nelayan kini tampak berantakan. Banyak sampan terempas hingga ke daratan, beberapa terbalik, sementara sebagian lainnya tersangkut pada tumpukan kayu dan sampah yang dibawa arus banjir.

Lapisan lumpur menutupi area pesisir perlahan mengering, menimbulkan bau anyir. Jalan-jalan kecil menuju pantai yang biasa dilalui warga kini berlubang dan licin, masih menyisakan genangan dan retakan akibat tergerus arus deras.

Rumah-rumah panggung di tepi pantai menunjukkan kerusakan pada bagian bawah. Banyak warga menjemur kasur basah, pakaian, dan peralatan dapur di depan rumah. Beberapa rumah yang lebih rendah kondisinya lebih para lantai masih dipenuhi sisa lumpur, dengan garis air di dinding sebagai penanda betapa tinggi banjir sempat naik hingga ke atap rumah warga.

Di warung-warung kecil, rak-rak terlihat lebih kosong dari biasanya. Kata Kurnia, aktivitas ekonomi nyaris terhenti, dengan sebagian warga lebih fokus membersihkan rumah daripada bekerja.

"Yang mau dikerjakan saat ini juga enggak ada. Semua orang kelaparan. Bantuan belum ada hingga saat ini," tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, mengatakan jika Kabupaten Tapanuli Tengah terisolasi usai bencana. Sejumlah kecamatan yang ada juga turut terisolasi. Akibatnya distribusi bantuan sulit.

"Stok bantuan aman. Hanya saja banyak lokasi yang terisolasi di dalam Tapteng itu sendiri," kata Bobby saat meninjau lokasi bencan di Tapteng.

Baca Juga : Gudang Bulog di Tapanuli Tengah Dijarah, Kanwil Bulog Sumut: Konsekuensi di Tengah Krisis Pangan 

Bobby menyebut pemerintah menargetkan 10 titik penyaluran bantuan melalui jalur udara untuk menjangkau kawasan yang sama sekali tak bisa diakses lewat darat. Dua di antaranya berada di daerah Tukah dan Lumut.

“Beberapa titik jaraknya cukup jauh sehingga helikopter harus kembali meninjau ulang lokasi sebelum menjatuhkan bantuan,” ujarnya.

Selain akses darat yang putus, gangguan listrik dan jaringan komunikasi membuat pemetaan kebutuhan warga terdampak lebih sulit.

“Informasi kebutuhan dari TNI, pihak kecamatan, dan desa masih terbatas karena komunikasi belum pulih,” kata Bobby.

Ia mendesak PLN dan operator telekomunikasi mempercepat pemulihan layanan agar koordinasi lapangan dapat berjalan lebih efektif.

Sementara dari tinjauan udara, kata Bobby, tim penanganan bencana juga mencatat titik-titik koordinat wilayah yang masih terisolir untuk keperluan pengiriman bantuan berikutnya.

Banjir dan longsor di Tapteng dan Sibolga sejak Selasa, 26 November 2025, mengakibatkan ribuan warga mengungsi dan memutus sejumlah jalur transportasi, sehingga bantuan belum dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)