Kisah Lansia di Bencana Tapteng, Beras untuk Ramadhan Hanyut dan Dua Kali Terseret Arus
Sari Asi Simanullang (64) korban banjir Tapteng kehilangan rumah & beras Ramadhan, dua kali terseret arus. Waduk tua Sorkam jebol
Nusantaraterkini.co, TAPTENG - Sudah hampir tiga pekan, langit-langit rendah sebuah gubuk darurat menjadi saksi bisu hari-hari panjang Sari Asi Simanullang (64).
Perempuan senja itu terpaksa berkarib dengan dingin setelah banjir bandang menyapu habis huniannya di Kecamatan Sorkam, Tapanuli Tengah, pada penghujung November lalu.
Air yang datang dari hulu, tidak hanya meluluhlantakkan dinding rumahnya, tetapi juga menghanyutkan isinya. Stok beras hasil jerih payahnya pada panen Juni silam kini juga raib ditelan arus. Tak menyisakan apa pun selain trauma.
Di gubuknya pada Senin (16/12/2025), Asi baru saja selesai menunaikan salat Maghrib. Dulunya, kata Asi, rumahnya yang berlokasi dekat sebuah waduk tua itu, menjadi tempat pulang anak, cucu, dan kerabat dari luar kota ketika lebaran sudah tiba. Tiap tahunnya begitu.
Di bawah temaram atap gubuknya pada Senin (16/12/2025), Asi baru saja melipat sajadahnya setelah menuntaskan sembahyang Maghrib yang khidmat.
Baca Juga : Kejagung Sebut Pembalakan Liar di Tapsel–Tapteng Diduga Picu Bencana Lingkungan
Dahulu, kenang Asi, huniannya yang berada tak jauh dari waduk tua di Kelurahan Sorkam, adalah muara bagi kepulangan anak, cucu, serta kerabat dari tanah rantau kala Idulfitri menyapa. Saban tahun, siklus itu selalu berlangsung di sana.
"Sekarang tidak lagi sama. Banjir itu menghancurkan rumah kami, beras yang saya simpan untuk puasa nanti sudah tidak ada lagi. Rumah kami juga udah hancur," ujarnya.
Saat yang sama, Asi merajut kembali memori kelam pada Selasa malam November itu. Di dalam rumah yang ia sangka aman, ia menyaksikan hujan menderas tanpa henti. Seperti warga lainnya, Asi terbuai dalam ketidaktahuan, sebelum akhirnya menyadari bahwa hujan malam itu berubah menjadi petaka.
"Orang sini sudah terbiasa dengan banjir sebenarnya. Tapi, seumur hidup saya inilah yang paling parah. Saya juga masih trauma mengingat kejadian itu," katanya.
Asi tak sendirian di bawah atap itu. Menjelang pukul 22.00 WIB, suasana rumah mulai senyap saat anak, dua cucu, cicit, dan kerabatnya bersiap untuk tidur. Namun, jeda istirahat itu hanya bertahan sejenak. Teriakan tetangga mendadak memecah malam, memberi peringatan bahwa air telah mengepung rumah.
Baca Juga : Tulang Orang Utan Ditemukan di Sungai Garoga Usai Banjir Tapanuli Tengah
Malam itu juga, mereka berenam dipaksa bergegas keluar, meninggalkan rumah yang sudah dikepung air.
"Saat saya terbangun air telah setinggi betis. Saya meletakkan perabotan dan beras ketempat tinggi," kata Asi.
Setelah semua siap, mereka bergegas menembus pekat malam untuk menyelamatkan diri. Namun, kondisi Asi yang sulit berlari menjadi petaka. Arus deras seketika merenggut tubuhnya, menggulungnya dalam pusaran air yang brutal.
Asi tak ingat berapa lama ia terombang-ambing, melawan ombak buatan alam yang ganas itu. Beruntung, mata jeli para tetangga menangkap tubuhnya di tengah kegelapan, dan berhasil menariknya dari cengkeraman maut.
"Saya langsung dipeluk tetangga dan membawa saya," kata Asi.
Asi dan keluarganya berupaya menggapai daratan yang lebih tinggi, namun petaka rupanya belum usai. Setibanya di jalan utama, pemandangan kacau menyambutnya.
Kerumunan orang tengah bertaruh nyawa melawan terjangan arus yang kian beringas. Saat mencoba menembus jeram di jalanan itu, tubuh Asi kembali kehilangan tumpuan. Ia terbolak-balik, terseret kekuatan air yang sekali lagi nyaris merenggut sisa tenaganya.
Langkah kaki Asi dan keluarganya akhirnya menepi di lokasi tinggi desa tetangga. Di sana, mereka bermalam dalam ketidakpastian hingga fajar keesokan harinya, ketika air perlahan mulai surut pada Rabu (26/11/2025) siang.
Saat itulah, cucu perempuannya memberanikan diri kembali ke desa untuk melihat kondisi. Pemandangan pilu menyergapnya rumah mereka kini porak-poranda, rusak parah dihantam banjir.
Dalam kondisi itu, Asi serta ratusan warga yang hanyut saat itu selamat, setitik harapan muncul. Berkat semangat para warga yang berjibaku melawan arus dan membantu warga lainnya, Asi dan anggota keluarganya berhasil dievakuasi dan tiba di tempat pengungsian yang aman, didampingi oleh kepedulian masyarakat sekitar yang saling membantu di masa kritis tersebut.
Pantauan lokasi mengonfirmasi kediaman Asi menjadi salah satu dari banyak rumah yang mengalami kerusakan parah. Beberapa rumah lain di desa tersebut bahkan hilang sepenuhnya, hanyut tak bersisa tersapu arus.
Rumah Asi kini hanya menyisakan kerangka yang remuk. Batang-batang pohon sawit tampak bersandar pada sisa dinding yang retak, saksi bisu kekuatan air yang menyeret apa pun di jalurnya. Dan disitu pulalah Asi membangun gubuknya secara mandiri. Memanfaatkan sisa-sisa bangunan yang masih berdiri.
Letak rumah Asi yang berdampingan dengan bentangan sawah membuatnya berada di titik paling rentan. Kurang lebih 500 meter dari rumahnya, terdapat sebuah waduk tua yang selama puluhan tahun diandalkan warga untuk mengaliri sawah mereka.
Namun, pada malam bencana itu, tanggul waduk tak lagi kuasa menahan beban. Tanggul itu jebol, melepaskan gelombang besar yang menyapu hunian warga di sekitarnya.
"Saya tak tahu mau mengatakan apalagi. Dalam sejarah kampung ini, banjir ini paling mengerikan. Saya masih trauma," tutur Asi.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSJelang HUT Ke-81, Pasahli Panglima TNI Sambangi Mantan Panglima TNI
Herman Saleh Harahap·Beberapa detik yang lalu -
KOTA MEDANAparat Gabungan Razia Rutan Kabanjahe, Ratusan WBP Dites Urine
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
NEWSHendak Dipulangkan dari Arab Saudi, Warga Lhokseumawe Muhammad Iksan Hilang Kontak
hendra·5 jam yang lalu -
NEWSKPK OTT Bupati Bolmut Sirajudin Lasena, 14 Orang Diamankan Terkait Proyek PUTR
hendra·5 jam yang lalu -
NEWSKetua DPRD Sumut Erni Ariyanti Sitorus Diperiksa Polda, Diduga Terkait Kasus Dhody Thahir
hendra·6 jam yang lalu -
PERISTIWAHujan Deras dan Angin Kencang Diduga Picu Banjir Bandang Solok, Rumah Warga Terdampak
hendra·7 jam yang lalu -
PERISTIWAJalur Padang-Solok Putus Total Diterjang Banjir Bandang, Pengendara Dialihkan via Padang Panjang
hendra·7 jam yang lalu -
PERISTIWABanjir Bandang Terjang Pusat Pemerintahan Kabupaten Solok, Sejumlah Kantor Terendam
hendra·8 jam yang lalu -
KOTA MEDANFraksi PDIP Soroti Keterlambatan Ranperda Pajak dan Tingginya Biaya PBG Medan
hendra·9 jam yang lalu -
PENDIDIKAN5 Kepala SD Negeri di Tebingtinggi Dicopot, Diduga Terkait Dana Revitalisasi Sekolah
hendra·9 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan