Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Sembilan Tewas di Subang, DPR Desak Polisi Bongkar Mafia Miras Oplosan hingga ke Produsen

9 tewas akibat miras oplosan di Subang, DPR desak polisi bongkar mafia hingga produsen.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Rano Alfath, meminta aparat kepolisian tidak bermain aman dalam mengusut kasus miras oplosan yang ada di Subang. Jakarta, Jumat (13/2/2026).(foto:istimewa)
Wakil Ketua Komisi III DPR, Rano Alfath, meminta aparat kepolisian tidak bermain aman dalam mengusut kasus miras oplosan yang ada di Subang. Jakarta, Jumat (13/2/2026).(foto:istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA– Tragedi kematian sembilan warga di Kabupaten , , akibat minuman keras oplosan kembali menampar wajah dan pengawasan negara. Desakan keras pun datang dari Wakil Ketua , , meminta aparat tidak bermain aman dalam mengusut kasus ini.

Rano menegaskan, pengusutan tidak boleh berhenti pada level pengecer dan pemasok kecil. Menurutnya, pola lama yang hanya menyentuh pelaku lapangan tanpa menyentuh aktor utama di balik distribusi bahan berbahaya justru memperlihatkan lemahnya keberanian aparat dalam membongkar jaringan yang lebih besar.

“Kalau hanya penjual dan pemasok yang ditangkap, itu bukan solusi. Produsen bahan baku berbahaya yang selama ini leluasa memproduksi dan mendistribusikan zat yang disalahgunakan untuk oplosan juga harus ditelusuri,” tegasnya, Jumat (13/2/2026).

Sejauh ini, telah menangkap empat orang, dengan dua di antaranya ditetapkan sebagai tersangka—pemasok dan pemilik toko penjual miras. 

Namun langkah tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan. Praktik bukan fenomena baru, ia terus berulang, memakan korban, lalu mereda tanpa perubahan sistemik yang berarti. 

Rano menyoroti bahwa miras oplosan kerap mengandung dan bahan kimia industri lain yang jelas-jelas berbahaya dan mematikan. Fakta bahwa bahan tersebut dapat diperoleh dan disalahgunakan secara relatif mudah menunjukkan adanya celah pengawasan serius, baik dari sisi distribusi bahan kimia maupun pengawasan minuman beralkohol.

“Nyawa sembilan orang menjadi alarm keras. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, tetapi kegagalan pengawasan yang menyangkut keselamatan jiwa masyarakat,” ujarnya.

Sebagai mitra kerja aparat penegak hukum, didesaknya tidak sekadar menyuarakan keprihatinan, tetapi memastikan ada langkah konkret. Pengetatan pengawasan distribusi minuman beralkohol, razia rutin di titik rawan, hingga pengawasan ketat peredaran bahan kimia industri harus menjadi agenda serius, bukan reaksi sesaat setelah korban berjatuhan.

Lebih jauh, tragedi ini juga memunculkan pertanyaan politis: mengapa pola yang sama terus berulang setiap tahun? Apakah ada pembiaran, lemahnya koordinasi antarinstansi, atau bahkan permainan kepentingan dalam rantai distribusi ilegal yang selama ini tak tersentuh?

Rano menegaskan bahwa harus tegas dan menyeluruh. Tanpa keberanian membongkar jaringan hingga ke hulunya, negara hanya akan terus sibuk mengurus dampak, bukan menyelesaikan sumber masalah.

“Penegakan hukum yang tegas, pengawasan ketat, serta edukasi masif adalah kunci agar tidak ada lagi korban jiwa akibat ,” pungkasnya. 

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru