Nusantaraterkini.co, MEDAN – Gaya hidup serba instan membuat makanan siap santap seperti sosis, nugget, hingga kornet semakin akrab di meja makan masyarakat. Praktis dan mudah disajikan, namun di balik kelezatannya tersimpan ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengingatkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses secara rutin dapat meningkatkan risiko kanker, terlebih jika dikonsumsi sejak usia dini.
“Sekarang banyak sosis yang bisa langsung dimakan. Kalau begitu terus, siap-siap saja menghadapi kanker 20 tahun ke depan, terutama pada anak-anak,” ujar Prof. Aru dalam acara World Cancer Day 2026 bersama MSD Indonesia di SCBD Park, Jakarta, Rabu (4/2).
Baca Juga : Temuan Kasus TB Sumut Capai 18.411 Kasus, Dinkes Dorong PHBS dan Penggunaan Masker Cegah Penularan
Menurut Prof. Aru, masyarakat perlu lebih jeli dalam membaca label kandungan gizi (nutrition facts) pada kemasan makanan. Daftar bahan yang panjang dengan istilah asing menandakan produk tersebut telah melewati proses industri berlebihan.
“Kalau di kemasannya tertulis macam-macam bahan yang aneh, itu tandanya sudah pakai pengawet. Ini yang disebut ultra-processed food. Sebaiknya dihindari,” jelasnya.
Ia menerangkan, secara umum makanan terbagi menjadi tiga kategori. Makanan non-proses adalah bahan segar seperti sayur, buah, dan daging mentah. Jika bahan tersebut dimasak sendiri di rumah, masih tergolong processed food yang relatif aman.
Baca Juga : Segini Durasi Mandi Anak yang Baik Untuk Kesehatan, Ini Alasannya
Masalah muncul pada ultra-processed food, yaitu makanan yang telah melalui pengolahan industri berat hingga bentuk aslinya nyaris hilang dan nilai gizinya menurun drastis.
“Ayam yang sudah berubah jadi nugget itu contoh ultra-proses. Nugget di supermarket belum tentu benar-benar mengandung ayam,” kata Prof. Aru.
Hal serupa berlaku pada sosis dan kornet. Produk daging olahan ini kerap mengandung nitrat, zat kimia yang digunakan sebagai pengawet dan pewarna agar tampil lebih menarik. Namun, zat tersebut dikenal berisiko memicu kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Baca Juga : Promo Skincare dan Make Up di Watsons #BeautyMyWay, Bisa Ketemu Influencer Ternama Juga
“Daging yang diproses itu pakai nitrat. Warna merah pada kornet itu dari nitrat. Nah, zat itulah yang bisa memicu kanker. Jadi kalau daging sudah diolah, sebaiknya dijauhi,” tegasnya.
Prof. Aru menekankan pentingnya membatasi konsumsi makanan ultra-proses, khususnya pada anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan, demi mencegah risiko penyakit kronis di masa depan.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Baca Juga : Manfaat dan Risiko Olahraga Malam yang Perlu Anda Ketahui
