Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Turun ke Rp16.680 di Tengah Pelemahan DXY

Editor:  hendra
Reporter: Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang karyawan memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)

nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (6/11/2025). Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY) setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertingginya dalam lima bulan terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di posisi Rp16.680 per dolar AS, naik 0,12% dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.700 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat melemah tiga hari berturut-turut.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat melemah 0,15% ke level 100,051, setelah sebelumnya menyentuh posisi tertinggi di level 100,360.

Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis di Awal Februari, Bayang-bayang Dolar Masih Membatasi

Minim Sentimen Domestik, Pergerakan Rupiah Dipengaruhi Faktor Global

Pergerakan rupiah hari ini cenderung dipengaruhi sentimen eksternal. Dari dalam negeri, belum ada katalis kuat yang mampu menopang penguatan signifikan. Sebaliknya, dinamika dolar AS di pasar global masih menjadi penentu arah rupiah.

Dolar AS tetap berada dekat level puncaknya dalam lima bulan terakhir terhadap enam mata uang utama dunia. Penguatan ini ditopang oleh data ekonomi AS yang menunjukkan ketahanan sektor tenaga kerja dan aktivitas bisnis.

Baca Juga : Rupiah Melemah ke Rp16.803, Dolar AS Menguat di Tengah Sentimen Global dan Isu MSCI

Data ADP Employment mencatat, sektor swasta AS menambah 42.000 lapangan kerja pada Oktober, melampaui ekspektasi pasar sebesar 28.000. Angka tersebut meredakan kekhawatiran akan pelemahan pasar tenaga kerja yang sempat muncul pada data sebelumnya.

Selain itu, indeks aktivitas jasa AS juga menunjukkan peningkatan pada Oktober, didorong oleh lonjakan pesanan baru.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Menyempit

Baca Juga : Rial Iran Anjlok ke Level Terendah Sepanjang Sejarah, Krisis Ekonomi Makin Memanas

Menurut Karl Schamotta, Chief Market Strategist di Corpay, rebound pada data ketenagakerjaan menjadi sinyal bahwa pelaku pasar mulai meragukan prospek pemangkasan suku bunga agresif oleh The Federal Reserve (The Fed).

"Mayoritas data menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih solid. Hal ini membuat investor menahan diri untuk mengambil posisi besar pada penurunan imbal hasil,” ujar Schamotta, dikutip dari Reuters.

Bagi rupiah, kondisi ini menandakan tekanan masih bisa berlanjut dalam jangka pendek jika dolar AS tetap kuat. Namun, pelemahan DXY pagi ini memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih stabil, terutama di tengah minimnya sentimen domestik.

Baca Juga : Harga Emas Tahun 2026 Masih Bullish

(Dra/nusantaraterkini.co)