Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa (6/1/2026) dengan pergerakan positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring pelemahan terbatas mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di posisi Rp16.730 per dolar AS atau menguat sekitar 0,03%. Penguatan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya rupiah melemah 0,12% dan berakhir di level Rp16.735 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat tipis 0,06% ke posisi 98,325. Meski demikian, sehari sebelumnya indeks dolar justru terkoreksi 0,16% dan ditutup di level 98,270, setelah sempat menguat di awal sesi perdagangan.
Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis di Awal Februari, Bayang-bayang Dolar Masih Membatasi
Pelaku pasar menilai pergerakan rupiah hari ini masih sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya dinamika dolar AS yang bergerak fluktuatif dalam beberapa hari terakhir. Kombinasi rilis data ekonomi Amerika Serikat serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor utama yang membentuk arah pasar.
Dari sisi fundamental, dolar AS sempat berada di bawah tekanan usai rilis data Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur ISM periode Desember. Indeks tersebut kembali menunjukkan fase kontraksi yang lebih dalam, turun ke level 47,9, menjadi kontraksi terdalam dalam 14 bulan terakhir. Data ini memicu kekhawatiran pasar terhadap perlambatan aktivitas industri AS dan menekan permintaan terhadap dolar.
Namun, pelemahan dolar tidak berlangsung lama. Sentimen safe haven kembali menguat seiring meningkatnya tensi geopolitik di Venezuela, ditambah pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat bank sentral AS.
Baca Juga : Rupiah Melemah ke Rp16.803, Dolar AS Menguat di Tengah Sentimen Global dan Isu MSCI
Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menilai tingkat suku bunga saat ini sudah mendekati level netral. Sementara itu, Presiden The Fed Philadelphia, Anna Paulson, menyebut peluang penyesuaian suku bunga lanjutan tetap terbuka apabila inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja bergerak sesuai proyeksi.
Dalam kondisi tersebut, pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 16% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 27–28 Januari mendatang. Adapun untuk jangka menengah, ekspektasi pelaku pasar masih mengarah pada potensi penurunan suku bunga sekitar 50 basis poin sepanjang tahun 2026.
Dengan masih kuatnya pengaruh data ekonomi AS, arah kebijakan The Fed, serta ketidakpastian geopolitik global, volatilitas dolar AS diperkirakan tetap menjadi faktor kunci yang menentukan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.
Baca Juga : Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan, Dolar AS Tertekan di Level Rp16.760
(Dra/nusantaraterkini.co).
