Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Pupuk Indonesia Tekan Impor Melalui Pabrik Soda Ash ​

Pupuk Indonesia mengembangkan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Gresik untuk menekan impor dan memperkuat industri nasional.

Penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara dua anak perusahaan Pupuk Indonesia, yakni PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind), Jumat (30/10/2026).(foto: istimewa)
Penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara dua anak perusahaan Pupuk Indonesia, yakni PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind), Jumat (30/10/2026).(foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA-PT (Persero) terus mengakselerasi agenda nasional sekaligus mendukung percepatan pemanfaatan emisi karbon menjadi produk kimia bernilai tambah. Hal ini diwujudkan lewat pengembangan proyek pabrik dan di area operasional PT , Jawa Timur.

​Pengembangan rantai pasok kimia baru ini ditandai dengan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara dua anak perusahaan , yakni PT dan PT Rekayasa Industri (Rekind), Jumat (30/10/2026).

Pabrik ini disiapkan sebagai fasilitas manufaktur kedua di lingkungan grup guna mengurangi kebergantungan industri dalam negeri terhadap pasokan dari luar negeri.

​Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan, pembentukan industri turunan di dalam negeri menjadi fondasi paling krusial untuk membangun kemandirian sektor manufaktur nasional secara komprehensif dan berkelanjutan.

​“Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Rahmad Pribadi dalam keterangan resmi yang dirilis pada Sabtu (31/10/2026).

​Dikatakannya, pentingnya kehadiran fasilitas produksi ini terlihat dari ketergantungan penuh Indonesia pada pasar impor Soda Ash pada 2025 yang mencatatkan angka 1,05 juta ton dengan nilai mencapai 225 juta dolar AS. Kehadiran pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik yang dirancang memiliki kapasitas 300.000 ton per tahun diproyeksikan bakal menyerap dan menggantikan sekitar 29 persen pasokan impor nasional. Pengurangan ketergantungan bahan baku impor ini diperkirakan mendatangkan penghematan devisa negara hingga Rp1,4 triliun per tahun.

Produksi

​Tidak hanya mengolah Soda Ash, sebutnya, fasilitas industri ini juga akan memproduksi Amonium Klorida dengan alokasi kapasitas mencapai 300.000 ton per tahun. Produk Amonium Klorida tersebut nantinya diserap langsung sebagai bahan baku utama pembuatan pupuk majemuk NPK, sehingga memperkuat integrasi rantai pasok pupuk dan bahan kimia nasional dari hilir ke hulu.

​Pengembangan manufaktur di Gresik ini menjadi bagian tak terpisahkan dari peta jalan industrialisasi Pupuk Indonesia yang menargetkan pembangunan serta revitalisasi delapan pabrik dalam tempo lima tahun ke depan.

​“Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional. Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kita jalankan,” kata Rahmad.

​Dari dimensi lingkungan, katanya lagi, proyek ini dirancang terintegrasi dengan teknologi pemanfaatan emisi karbon. Pabrik disiapkan untuk menyerap dan memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun yang dihasilkan dari proses pengolahan pupuk baku. Pemanfaatan gas buang ini merupakan manifestasi konkret dari transformasi hijau perusahaan menuju target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

​“Melalui Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi dapat dikembangkan menjadi kemampuan industri, dan bahwa teknologi rendah karbon dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” lanjutnya.

Telah Diuji 

​Efektivitas penangkapan gas sisa industri ini sebelumnya telah diuji coba oleh Petrokimia Gresik melalui pilot plant teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU). Hasil pengujian mengonfirmasi tingkat efisiensi penangkapan emisi CO2 yang sangat tinggi, berada di rentang 91,48 persen hingga 97,79 persen untuk dikonversi menjadi bahan baku Soda Ash.

​“Momentum ini menjadi kesempatan bagi Pupuk Indonesia Group untuk menunjukkan bahwa industri pupuk mampu menjadi penggerak transformasi industri nasional melalui penguatan pasokan bagi pertanian, perluasan hilirisasi, dan pengembangan industri rendah karbon yang berdaya saing,” tutur Rahmad.

​Penguatan industri bahan baku ini tidak berhenti di Jawa Timur. Pupuk Indonesia secara paralel juga mengeksekusi proyek pembuatan Soda Ash serupa melalui PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) di Bontang, Kalimantan Timur.

​Jika kedua pabrik strategis di Gresik dan Bontang tersebut telah beroperasi penuh kelak, kombinasi kapasitas produksi keduanya bakal menyentuh angka 600.000 ton per tahun.

"Angka produksi ini sanggup mensubstitusi hingga 60 persen kebutuhan impor Soda Ash nasional, yang secara kumulatif berpotensi mengamankan devisa negara sebesar Rp2 triliun setiap tahun," pungkasnya.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait