Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

PHK Massal di Kompas TV Sampai Lakukan Layoff Jadi Momen Mengharukan di Hari Buruh

Editor:  Team
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Program Kompas Sport Pagi, yang telah mengudara lebih dari satu dekade, menjadi salah satu tayangan yang terkena dampak dari keputusan restrukturisasi perusahaan.

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Soal Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal di Kompas TV jadi momen mengharukan di Hari Buruh.

Momen itu ketika Gita Maharkesri, salah satu presenter senior Kompas TV, tak kuasa menahan air mata saat membawakan siaran terakhirnya dalam program Kompas Sport Pagi.

BACA: Presenter Senior Kompas TV Tak Kuasa Menahan Air Mata dalam Siaran Terakhirnya Kena PHK Massal

Baca Juga : Daftar Media Terkena Badai PHK Massal Selain Kompas TV, Ada Apa Ya?

Video haru tersebut dengan cepat menjadi viral dan memunculkan simpati dari netizen di berbagai platform media sosial.

Dalam siaran pamungkasnya, Gita mengucapkan salam perpisahan dengan suara bergetar:

"Tak terasa inilah akhir perjalanan panjang Kompas Sport Pagi selama hampir 12 tahun. Kami hadir menemani Anda dengan berbagai macam berita olahraga, baik dari dalam maupun luar negeri, serta kabar inspiratif dari atlet kebanggaan Indonesia dan dunia," tuturnya.

Baca Juga : Presenter Senior Kompas TV Tak Kuasa Menahan Air Mata dalam Siaran Terakhirnya Kena PHK Massal

BACA: Kisah Nyata! Seorang TKW Asal Jawa Timur 48 Jam dalam Peti Es Masih Hidup dan Tersenyum Manis

Program Kompas Sport Pagi, yang telah mengudara lebih dari satu dekade, menjadi salah satu tayangan yang terkena dampak dari keputusan restrukturisasi perusahaan.

Kenapa Kompas TV Melakukan Layoff?

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, keputusan layoff ini diambil sebagai bagian dari langkah efisiensi dan restrukturisasi internal perusahaan.

Kompas TV, seperti banyak media konvensional lainnya, kini menghadapi tantangan berat di tengah pergeseran perilaku penonton dan tekanan finansial.

Digitalisasi konten dan meningkatnya konsumsi media melalui platform daring seperti YouTube, TikTok, dan media sosial lainnya menyebabkan penurunan signifikan pada pemirsa televisi tradisional.

Akibatnya, pendapatan iklan yang sebelumnya menjadi tulang punggung bisnis televisi juga ikut menurun drastis.

Dalam kondisi seperti ini, beberapa program televisi lama, meski punya sejarah panjang dan basis pemirsa yang loyal, tetap harus dihentikan demi menyesuaikan struktur biaya perusahaan.

Apa Itu Layoff dan Bagaimana Dampaknya?

Secara umum, layoff adalah tindakan PHK yang dilakukan bukan karena kesalahan atau pelanggaran dari karyawan, melainkan karena perusahaan perlu melakukan penghematan, efisiensi, atau restrukturisasi bisnis.

Langkah ini sering kali diambil dalam kondisi darurat keuangan atau perubahan strategi besar-besaran.

Dalam kasus Kompas TV, layoff merupakan dampak langsung dari tekanan ekonomi dan penurunan daya saing televisi dalam era digital yang serba cepat.

Perusahaan harus merombak struktur organisasinya agar tetap bisa bertahan, meski harus mengorbankan program-program ikonik dan sejumlah pekerja berpengalaman.

Bagi karyawan yang terdampak, seperti Gita Maharkesri yang telah mengabdi selama 12 tahun, keputusan ini tentu meninggalkan luka emosional yang mendalam.

Kehilangan pekerjaan tidak hanya berarti kehilangan penghasilan, tetapi juga identitas dan rutinitas profesional yang telah mereka bangun bertahun-tahun.

Tantangan Serius Dunia Media di Era Digital

Fenomena PHK di Kompas TV hanyalah bagian kecil dari gejolak yang terjadi di industri media saat ini.

Banyak media televisi, cetak, hingga radio yang terpaksa mengevaluasi ulang model bisnis mereka untuk menyesuaikan diri dengan era digital.

Transisi ke model digital-first menuntut kecepatan, fleksibilitas, dan pendekatan baru terhadap distribusi konten serta monetisasi.

Namun, proses adaptasi ini tidak selalu berjalan mulus dan sering kali menelan korban, yakni karyawan yang harus kehilangan pekerjaannya.

Layoff massal ini menjadi pengingat bahwa industri media harus terus berinovasi, tidak hanya dalam konten, tetapi juga dalam cara menjangkau audiens dan menjaga keberlangsungan finansialnya.

Sementara itu, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya perlu memastikan bahwa para pekerja media yang terdampak tetap mendapatkan perlindungan yang layak, termasuk akses pada pelatihan ulang dan kesempatan kerja baru.

(wiwin/nusantaraterkini.co)