Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Perbandingan Beli Beras di Indonesia dan Korsel, Begini Tips Beli Beras Berkualitas

Editor:  Annisa
Reporter: Shakira
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi Beras. (Foto: www.freepik.com)

Nusantaraterkini.co - Sempat ramai di Media sosial X (dulu Twitter) cuitan salah satu akun yang membandingkan membeli beras 10 kilogram (kg) di Indonesia dan Korea Selatan dengan gaji fresh graduate atau lulusan baru.

Dilansir dari detikFinance, menurut akun tersebut, untuk membeli beras di Indonesia dibutuhkan 2,5% dari gaji fresh graduate. Misalnya Rp 6 juta per bulan. Dalam hal ini, dicontohkan harga beras 10 kg sebesar Rp 150.000.

Sedangkan harga beras di Korea Selatan hanya 0,85% dari gaji atau setara dengan 3,5 juta won atau Rp 41,1 juta per bulan. Untuk harga beras yang lebih mahal yakni 29.900 won atau seharga Rp 351.000.

Baca Juga : Indonesia Tak Impor Beras di 2025, Komisi IV Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Produksi

"Di Korea Selatan, seorang fresh graduate harus bekerja sekitar 1,5 jam untuk membeli 10 kg beras. Sedangkan di seorang fresh graduate harus bekerja sekitar 4,4 jam untuk membeli jumlah beras yang sama," kata akun @pri*****, dikutip Senin, (4/3/2024), dilansir dari detik.

Lantas mengapa pengeluaran beras di Indonesia lebih besar namun harga lebih rendah dari Korea Selatan?

Peneliti dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Eliza Mardian mengatakan harga beras di Korea Selatan memang lebih mahal dibandingkan Indonesia. Tapi kenapa ya besaran pengeluaran untuk beras jadi lebih besar di Indonesia?

Baca Juga : Produksi Padi Nasional Diprediksi Meningkat Pesat, Capai 60,25 Juta Ton GKG

Eliza menerangkan pendapatan nasional bruto (gross national income/GNI) Korea Selatan jauh di atas Indonesia, bahkan disebut tiga kali lipat.

"Beras di Korea Selatan memang tergolong mahal bahkan termasuk kedua tertinggi di dunia. Harganya di kisaran Rp 52.000 (per kg), Indonesia per kg dikisaran Rp 18.000," kata dia, dilansir dari detikcom, Senin, (4/3/2024).

"Namun kita lihat GNI per kapita Korea Selatan tahun 2022 versus Indonesia sangat jauh. GNI per kapita Korea Selatan US$ 42.887, sementara Indonesia US$ 12.045," tambahnya.

Baca Juga : Harga Cabai Rawit Naik Hingga 104,2%, Disperindag ESDM Sumut Siapkan Langkah Antisipasi

Pendapatan masyarakat Korea Selatan sangat besar, meskipun harga kebutuhan rumah tangga di sana lebih mahal. Sementara di Indonesia seiring dengan naiknya harga pangan, pendapatan per kapitanya lebih kecil jauh dari Korea Selatan.

"Harga beras Korea Selatan dua kali lipat dari Indonesia, pendapatan perkapita penduduknya Korea itu tiga kali pendapatan penduduk Indonesia. Sehingga memang lebih besar porsi pengeluaran penduduk Indonesia untuk beli beras jika dibandingkan Korea Selatan," terang dia.

Menurut Eliza, seiring dengan tingginya harga beras, daya beli masyarakat akan menurun. Terlebih, beras menjadi pangan yang paling banyak dibeli.

Baca Juga : Soal Impor Beras Sabang Jadi Polemik, Legislator Ingatkan Prinsip Kehati-hatian

"Harga-harga pangan naik ini akan menggerus daya beli masyarakat, masyarakat harus berhitung kembali untuk mengatur pos-pos belanjanya sebagai respons penyesuaian kenaikan harga," kata dia.

Dihubungi terpisah, Perencana keuangan dari Tata Dana, Teja Sari mengatakan ada berbagai cara bagi semua kalangan terutama fresh graduate untuk mengelola keuangan saat harga beras sedang tinggi. Walaupun faktanya, kebutuhan beras setiap orang berbeda-beda.

Menurutnya, ada berbagai alternatif mengatur fiskal saat harga beras sedang tinggi. Pertama, bisa membeli beras berkualitas lebih rendah dengan harga beras lebih murah.

Baca Juga : Waduh! Harga Beras Takkan Turun, Apa Sebabnya? 

"Harus ada pengeluaran yang dikorbankan, pertama apakah mutu beras yang dikonsumsinya diturunkan jadi lebih rendah," kata Teja.

Selain itu, dapat mengurangi pengeluaran lainnya demi menabung untuk pembelian beras yang berkualitas. Ia menyarankan mengurangi biaya gaya hidup seperti nongkrong.

"Misalnya budget nongkrongnya itu Rp 300.000-500.000. Nah itu yang dikurangi. Biasanya akan anak-anak muda fresh graduate banyak nongkrongnya," jelasnya.

Baca Juga : Bapanas Ungkap Alasan HET Beras Premium Naik

Kemudian, para fresh graduate juga bisa mengurangi makan di luar untuk lebih menghemat pengeluaran.

"Kalau jajan itu juga atau makan di luar itu memang relatif lebih mahal, masak sendiri agar lebih hemat," sambungnya.

(Ann/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Detikcom