Nusantaraterkini.co - Saat Debat Cawapres pada Minggu, (21/1) malam. Cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka menanyakan persoalan greenflation yang berujung pada gerakan rompi kuning.
Saat itu, Gibran diberi waktu untuk melontarkan pertanyaan kepada cawapres nomor urut 3 Mahfud MD, "Bagaimana cara mengatasi greenflation? Terima kasih," ujarnya.
Lantas, Apa sih Demo Rompi Kuning atau The Yellow Vest Movement?
Baca Juga : Respon Gibran Memberantas Mafia Tanah, Gunakan One Map Policy
Demo ini merupakan gerakan protes yang muncul di Prancis tahun 2018 silam. Warga melakukan aksi blokade yang menyebabkan kemacetan dan kelangkaan bahan bakar menjelang musim libur.
Gerakan ini muncul setelah petisi online yang diunggah pada bulan Mei berhasil menarik hampir satu juta tanda tangan. Demonstrasi massal rompi kuning dimulai pada 17 November di seluruh Prancis. Massa mengenakan jaket berpendar dengan visibilitas tinggi melakukan aksi demonstrasi.
Gerakan ini dilatarbelakangi oleh kebijakan Presiden Emmanuel Macron yang kala itu menaikan pajak bahan bakar solar dan harga bahan bakar fosil yang membuat biaya hidup hingga kesenjangan ekonomi di Prancis makin tinggi lantaran biaya hidup di Prancis sendiri sudah menjadi beban warga.
Baca Juga : Arief Rosyid Ungkap Gibran Hanya Ingin Cairkan Suasana Terkait Ungkapan Songong Gibran saat Debat Cawapres
Para pengunjuk rasa menyerukan penurunan pajak bahan bakar, pemberlakuan kembali pajak solidaritas atas kekayaan, kenaikan upah minimum, penerapan referendum inisiatif Warga Negara, serta pengunduran diri Presiden Emmanuel Macron dan pemerintah.
Jaket Kuning sendiri diambil dari rompi neon yang wajib dibawa oleh pengemudi di Prancis jika terjadi keadaan darurat di pinggir jalan. Intinya, dengan simbol itu warga ingin Macron membatalkan kenaikan pajak.
Di sisi lain, pemerintah Prancis berharap dengan kenaikan pajak warga akan lebih banyak membeli kendaraan minim polusi.
Baca Juga : Jokowi-Gibran Berencana Melayat ke Keraton Surakarta, Bisa Lengser
Pada tanggal 17, sekitar 280.000 orang melakukan protes di jalan-jalan di seluruh negeri pada hari itu. Kala itu, demonstrasi berubah menjadi kekerasan dengan kebakaran terjadi di jalan Champs-Élysées sementara pengunjuk rasa bertopeng mengibarkan bendera Prancis.
Dikutip NPR, di beberapa wilayah, demonstrasi berlangsung rusuh hingga menyebabkan 11 orang tewas dan sekitar 4 ribu orang terluka.
Polisi menanggapi bentrokan dengan meriam air dan gas air mata, serta kuda untuk menyerang pengunjuk rasa yang melemparkan proyektil, membakar mobil, dan menggeledah beberapa toko. Lebih dari 100 orang ditangkap. Macron mengutuk serangan terhadap petugas polisi dalam tweetnya. Dengan nada tajam ia mengatakan "tidak ada tempat untuk ini" di Prancis.
Baca Juga : Setahun Dampingi Prabowo, Gibran Harus Perbaiki Kualitas
(Ann/Nusantaraterkini.co)
