Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada akhir perdagangan Kamis (14/8/2025) nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 16.115 per dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,54% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.202 per dolar AS.
Baca Juga : Analis Pasar: IHSG akan Berlanjut Menguat dengan Support 7.731 dan Resistance di 7.830 Hari Ini
Di perdagangan Asia, nilai tukar rupiah menguat Bersama beberapa mata uang lainnya. Yen Jepang mencatat penguatan terbesar yakni 0,58%, disusul rupiah yang menguat 0,54%, yuan China menguat 0,39%, dan dolar Hong Kong yang menguat 0,02%.
Baca Juga : IHSG Dibuka Positif Naik 57,666 Poin Berada di Level 7.663,591 di Awal Perdagangan Selasa (12/8/2025)
Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS sore ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,48%, disusul peso Filipina yang melemah 0,31%, baht Thailand melemah 0,20%, rupee India melemah 0,20%, dolar Taiwan melemah 0,15%, dolar Singapura melemah 0,06% dan ringgit Malaysia yang melemah 0,04%.
Baca Juga : Analis Pasar: IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan Menguji Level 7.680 di Perdagangan Selasa (12/8/2025)
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Utama dunia ada di 97,86, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 97,84.
Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,56% Berada di Level Rp16.112 Per Dolar AS Siang Ini
Pada awal perdagangan Kamis (14//8/2025) nilai tukar rupiah dibuka berada di level Rp 16.112 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,56% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.202 per dolar AS.
Di Asia, mayoritas mata uang kompak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang mencatat penguatan terbesar yakni 0,58%, disusul rupiah yang menguat 0,56%, ringgit Malaysia menguat 0,41%, baht Thailand menguat 0,12%, yuan China menguat 0,11%, dolar Singapura menguat 0,06%, dolar Taiwan menguat 0,05%, pesso Filipina menguat 0,05% dan dolar Hong Kong yang menguat 0,01% terhadap dolar AS.
Sedangkan won Korea menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS pagi ini dengan pelemahan 0,26%.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 97,64, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 97,84.
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Bakal Menguat Dipicu Data Inflasi Amerika Serikat
Berdasarkan data inflasi Amerika Serikat (AS) untuk Juli 2025 yang dirilis pada 12 Agustus memberi sinyal ganda bagi pasar keuangan Indonesia dan nilai tukar rupiah ke depan.
Inflasi tahunan AS atau headline Consumer Price Index (CPI) tercatat 2,7% secara tahunan (YoY), di bawah ekspektasi pasar sebesar 2,8%. Namun, inflasi inti (core CPI) justru naik tipis menjadi 3,1% YoY, sedikit di atas perkiraan 3,0%.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, data ini menunjukkan tekanan harga inti di AS masih bertahan, tetapi inflasi umum cukup terkendali.
Kondisi tersebut memberi ruang bagi bank sentral AS (The Fed) untuk mulai memangkas suku bunga.
Pasar kini hampir yakin The Fed akan menurunkan suku bunga pada September, bahkan terbuka peluang pemangkasan 50 bps, sejalan dengan tekanan politik dari Presiden Donald Trump dan pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
"Ekspektasi ini telah menekan imbal hasil US Treasury dan indeks dolar (DXY), sehingga memicu sentimen risk-on di pasar negara berkembang," ujar Josua.
Bagi Indonesia, prospek penurunan Fed Rate mengurangi tekanan pada selisih imbal hasil (yield spread) Surat Berharga Negara (SBN) dan mendorong minat investor asing.
Lelang SBN terbaru bahkan mencatat penawaran hingga Rp162 triliun, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Arus dana asing tersebut menambah suplai valuta asing dan menguatkan rupiah. Pada perdagangan 13 Agustus, rupiah di pasar spot menguat 0,54% menjadi Rp16.202 per dolar AS.
Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun juga turun ke 6,41%, menandakan penurunan premi risiko.
Josua memperkirakan, selama sentimen positif global bertahan, rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mendapat dukungan.
Hingga akhir kuartal III-2025, arus modal asing diperkirakan tetap masuk, terutama ke SBN dan saham berkapitalisasi besar.
Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.100–Rp16.300, bahkan berpeluang menembus Rp16.100 jika data ekonomi AS berikutnya seperti producer price index (PPI) dan penjualan ritel mendukung kebijakan moneter longgar.
Meski demikian, ia mengingatkan risiko pembalikan arah tetap ada jika inflasi AS kembali memanas atau The Fed mengirimkan sinyal hati-hati.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menambahkan, dampak tarif baru AS akan mulai terlihat pada September.
Ia memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga 25 bps pada bulan tersebut.
"Ekonomi Indonesia pada semester II akan lebih baik dibanding semester I, sehingga memberi efek positif bagi pertumbuhan, arus modal, dan nilai tukar rupiah," kata David.
