Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Lahan Tergenang Air Usai Optimalisasi Lahan, Petani Desa Huraba Mengeluh Tak Bisa Bercocok Tanam

Editor:  hendra
Reporter: Reza
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Lahan yang tergenang air dan tak bisa ditanami oleh para petani di Desa Huraba usai Optimalisasi Lahan, Rabu (29/1/2025). (Foto: Reza)

nusantaraterkini.co, MADINA - Dikira untung ternyata buntung, seperti itulah yang disampaikan para petani di Desa Huraba, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Pasalnya usai pelaksanaan kegiatan optimalisasi lahan (oplah) sejumlah petani di wilayah tersebut tidak bisa bercocok tanam akibat areal persawahan yang selama ini mereka garap tidak bisa ditanami akibat tergenang air.

Seperti diketahui, dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat petani, Kementerian Pertanian telah mengucurkan dana milyaran rupiah dalam kegiatan optimalisasi lahan pertanian termasuk diantaranya di Desa Huraba, Kecamatan Siabu dengan sasaran lahan gambut yang dimiliki oleh masyarakat petani.

Baca Juga : Terkait Sengketa Pilkada Madina, Salman Alfarisi Simanjuntak: Pengacara Tidak Boleh Identik dengan Klien

Berdasarkan informasi yang diterima di lapangan bahwa kegiatan oplah tersebut adalah kerjasama antara Kementerian Pertanian dengan Gapoktan Bintang Terang yang ada di Desa Huraba, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal.

Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang petani pemilik lahan Arsyad Siregar di areal tanah gambut di Desa Huraba, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, dimana dia mengatakan bahwa sebelum dilaksanakan oplah, lahan pertanian miliknya dapat ditanami dengan baik, namun setelah pelaksanaan oplah tersebut dia bersama petani lainnya tidak bisa bercocok tanam.

Baca Juga : PETI Kotanopan Tak Kunjung Berhenti, Kapolres Madina Diminta Tegas dan Tangkap Pelaku

"Dulu sebelum kegiatan tersebut (oplah_red) lahan pertanian saya dengan cuaca seperti ini dapat ditanami dengan baik, namun setelah kegiatan tersebut hujan sedikit saja lahan pertanian kami tidak bisa ditanami dengan baik lagi," jelasnya kepada wartawan, Rabu (29/01/2025).

Dilanjutkan Arsyad bahwa sekarang ini hujan sedikit saja lahan pertanian kami sudah tergenang air, sehingga tanaman padi yang kami tanam membusuk dan mati.

"Kami sudah beberapa kali menanami lahan pertanian kami, namun tetap saja tergenang air yang mengakibatkan tanaman kami membusuk, padahal sebelum kegiatan oplah tersebut tidak seperti itu," keluhnya.

Baca Juga : DPP FMPM Minta Komjak Awasi Proses Pemeriksaan Dugaan Korupsi Stunting Madina di Kejati Sumut

Kasmir Dalimunthe Ketua Gapoktan yang dikonfirmasi menjelaskan bahwa dia tidak mengetahui dalam kegiatan optimalisasi lahan tersebut, karena dia tidak dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

"Sebenarnya saya tidak mengetahui kegiatan tersebut, karena pas pengajuan kegiatan tersebut saya diberhentikan dari Ketua Gapoktan Bintang Terang dengan tanpa musyawarah, namun tiba-tiba jabatan ketua Gapoktan sudah beralih kepada orang lain," jelas Kasmir.

Lebih lanjut disampaikan Kasmir bahwa banyak Ketua Kelompok Tani yang bertanya kepadanya apakah dia mengundurkan diri dan kapan musyawarah pergantian ketua Gapoktan Bintang Terang.

"Memang kejadian pertukaran ketua Gapoktan Bintang Terang, banyak ketua Kelompok Tani yang datang kepada saya, namun saya jelaskan kepada mereka bahwa saya sendiri tidak mengetahui bahwa saya diberhentikan dari ketua Gapoktan," ujar Kasmir Dalimunthe.

(Mra/nusantraterkini.co)