Janpatar Simamora: Urus Legalitas Tanah Sekarang atau Hadapi Masalah di Masa Depan
Janpatar Simamora mengimbau masyarakat adat Tapanuli segera melegalkan tanah untuk mencegah konflik agraria di masa depan.
Nusantaraterkini.co, โMEDAN – Masyarakat adat di wilayah Tapanuli dan sekitarnya diimbau untuk segera melegalkan status kepemilikan tanah mereka melalui jalur hukum negara. Hal ini dinilai mendesak guna menghindari potensi konflik agraria yang kian meningkat seiring dengan meroketnya nilai ekonomi tanah saat ini.
โ
Hal ini dikatakan Dekan Fakultas Hukum (FH) Universitas HKBP Nommensen Medan Dr Janpatar Simamora SH MH, saat menjadi narasumber pada konfrensi pers Catatan Akhir Tahun 2025 Perhimpunan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (Bakumsu), di Medan, Senin (22/8/2025).
Baca Juga : Bakumsu Rilis Statistik Kelam HAM 2025: 51 Kasus Pelanggaran Melibatkan Aktor Negara
Janpatar menekankan bahwa model kepemilikan tanah berdasarkan hukum adat atau warisan turun-temurun tanpa dokumen tertulis kini sangat rentan bermasalah. Tradisi "pesan lisan" dari orang tua ke anak cucu yang selama ini dianggap sah di mata masyarakat adat, tidak lagi cukup kuat untuk menghadapi tuntutan hukum di masa modern.
โ
“Kita tidak boleh lagi terlena. Jika ingin menghindari masalah, segera urus legalitas kepemilikan wilayah atau tanah yang kita punya. Tidak cukup lagi hanya mengandalkan adat istiadat sebagai dasar klaim kepemilikan,” ujarnya.
โDalam kesempatan tersebut, Janpatar menyebutkan, data di lapangan menunjukkan bahwa sengketa tanah menjadi perkara yang paling mendominasi di wilayah Tapanuli. Menurutnya, hal ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni
โstatus hukum yang tidak jelas. "Banyak pemukiman warga yang status hukumnya belum memiliki legalitas negara yang kuat," ungkapnya.
โYang kedua, sebutnya, nilai ekonomi tinggi. Tanah kini dipandang sebagai aset ekonomi yang berharga, memicu berbagai pihak untuk saling memperebutkan lahan yang statusnya belum jelas secara hukum.
Baca Juga : Polda Sumut Tanggapi Kritik Pelanggaran HAM: Kami Terbuka terhadap Kritik, Namun Harus Bedakan Institusi dan Oknum
โKarenanya, sebut Janpatar, masyarakat diharapkan tidak hanya menunggu langkah pemerintah yang sedang menyiapkan regulasi terkait tanah adat. Sebaliknya, warga diimbau aktif melakukan inventarisasi dan mendaftarkan hak milik mereka agar selaras dengan hukum tertulis negara.
"Langkah proaktif ini sebagai solusi jangka panjang agar masyarakat adat tidak kehilangan hak-hak atas tanah leluhur mereka, hanya karena ketiadaan dokumen formal yang diakui negara," pungkasnya.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWSPPMSU Siapkan Aksi ke Kafe Satuan.co Binjai, Oza Hasibuan Sebut Acara Halloween Tak Miliki Izin
hendra·14 menit yang lalu -
-
HUKUM DAN KRIMINALKejagung Geledah 6 Lokasi Kasus Korupsi Tambang Nikel Sultra, Sita Uang Rp11,8 Miliar
hendra·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOKetua DPD Terima Delegasi Tatarstan, Jajaki Peluang Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Rusia
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
SUMSELDPR RI Soroti Rendahnya Penyerapan KUR di Sumsel dan Dorong Percepatan Kawasan Industri
hendra·2 jam yang lalu -
NEWSBobby Nasution Diminta Hentikan Sementara Proyek Turap Sungai di Tapteng, Besi Berkarat Jadi Sorotan
hendra·2 jam yang lalu -
NEWSPemkab Nias Selatan Finalisasi Ranperda Perlindungan Lahan Pertanian, Ini 5 Poin Penting Hasil FGD
hendra·2 jam yang lalu -
EKONOMIKetua DPD Ajak Daerah Jajaki Peluang Kerja Sama Ekonomi dengan Tatarstan Rusia
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
KESEHATANRSUD Pirngadi Medan Mulai Layani Penanganan Kateterisasi Jantung
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NEWS VIDEOPemerintah Angkat PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Rekrutmen CPNS Dibuka November 2026
Fadli Tara·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan