Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Tomat Anjlok ke Rp1.000 Per Kilogram, Petani Simalungun Menjerit

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Elvrida Lady Angel Purba
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Hasil panen Tomat di Simalungun (2/10/24) (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, SIMALUNGUN - Petani tomat di Simalungun tengah menghadapi krisis akibat harga tomat yang merosot tajam hingga hanya Rp1.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat banyak petani terjepit di tengah harga pupuk yang terus melambung.

Baca Juga : Bulog Sumsel Babel Optimalkan Penyerapan Gabah di Lalan, Dorong Peningkatan Indeks Tanam

Situasi ini semakin berat, sehingga banyak dari mereka mengeluhkan beban yang semakin tak tertahankan.

Baca Juga : Curi 110 Kilogram Biji Kopi Petani, Dua Pemuda di OKU Diringkus Polisi

Salah seorang petani, Mardin (50), menyampaikan keluhannya kepada Nusantaraterkini.co. Menurutnya, harga jual tomat yang anjlok tidak lagi menutupi biaya produksi.

"Sekarang harga tomat hanya Rp1.000 per kilo. Buat kami, ini seperti tak ada harganya. Pupuk makin mahal, biaya tenaga kerja juga naik. Kami benar-benar kesulitan," ungkapnya dengan nada sedih.

Baca Juga : Harga Tomat Tembus Rp18.000 per Kilogram, Pembeli dan Penjual Mengeluh

Ia menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir, biaya pupuk terus meningkat, sementara harga hasil pertanian seperti tomat terus menurun.

Baca Juga : Kenaikan Harga Tomat Tak Pengaruhi Daya Beli Masyarakat di Samosir

"Kami menanam, merawat, tapi hasilnya tidak sebanding. Harga pupuk bisa sampai ratusan ribu per sak, tapi saat panen, tomat malah tidak laku dijual dengan harga layak," kata Mardin.

Petani lain, Herman (45), juga mengutarakan hal serupa. Ia menyebutkan bahwa rendahnya harga jual membuat banyak petani terpaksa membiarkan tomat mereka membusuk di ladang.

Baca Juga : AS Hapus Tarif Resiprokal: Kopi, Teh, dan Buah Tropis Bebas Bea

"Untuk apa kami memanen kalau hasilnya tidak bisa menutup biaya?. Lebih baik biarkan tomat busuk di ladang daripada kami semakin rugi," ujarnya getir.

Baca Juga : TPL Salurkan Dukungan Pertanian untuk Empat Kelompok Tani Simalungun

Para petani berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memberikan solusi atas masalah ini.

Karena dengan kondisi harga tomat yang anjlok dan biaya pertanian yang tinggi, petani di Simalungun hanya bisa berharap ada intervensi dari pemerintah atau pihak terkait agar dapat bertahan di tengah situasi yang semakin sulit ini.

"Kami mohon bantuan agar ada stabilisasi harga, atau paling tidak pupuk bisa lebih terjangkau. Kalau terus seperti ini, petani bisa bangkrut," pungkas Herman.

(cw9/Nusantaraterkini.co)