Nusantaraterkini.co - Direktur Utama BPJS Kesehatan Prof Ali Ghufron Mukti membicarakan tentang kemungkinan kenaikan iuran imbas potensi defisit berjalan. Tingginya inflasi di bidang kesehatan disebabkan oleh peningkatan klaim asuransi pada tahun ini.
"Tahun ini bisa defisit tahun berjalan, tapi bukan defisit BPJS ya. Karena kita punya aset," tuturnya dalam media briefing di Nusa Dua, Bali, Rabu, (6/2/2024), dilansir dari detikcom.
Peningkatan besaran klaim juga dilatarbelakangi oleh peningkatan jumlah pengguna BPJS Kesehatan di masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap jaminan kesehatan nasional (JKN) terus tumbuh.
Baca Juga : Irma Suryani: Penonaktifan PBI BPJS Harus Tepat Sasaran dan Lindungi Warga Miskin
"Kepercayaan masyarakat yang meningkat tajam, masyarakat yang tidak mau pakai, sekarang pakai," lanjut dia.
"Tahun ini ada tambahan 45 triliun. Tambahan saja 45 triliun belum yang dibayarkan," sambungnya.
Jumlah besaran yang diklaim pada tahun 2022 sebanyak Rp 113.472.538, sementara di 2023 meningkat menjadi Rp 158.852.391.
Baca Juga : 9 Korban Ledakan Gas Palembang Dijamin Penuh BPJS Kesehatan di RS Pelabuhan
Prof Ghufron mengatakan diperlukan solusi yang ideal untuk menghadapi risiko defisit berjalan. Namun, hal ini juga memerlukan pengkajian lebih lanjut mengenai kesiapan masyarakat terkait besarannya.
"Warga Indonesia yang nunggak kan kena denda saja, langsung teriak-teriak," katanya.
Menurutnya, terdapay banyak strategi yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko potensi defisit berjalan. Salah satunya adalah kebijakan di hampir seluruh negara yang melakukan cost sharing.
Baca Juga : BPJS Kesehatan Pastikan Jamin Biaya Pelayanan Kesehatan KPPS
"Coba liat di Australia, setiap beli ada obat ada copayment, di Jepang setiap RS 30 persen, di Korea bayar, range-nya harga 20 hingga 30 persen," jelas Prof Ghufron.
"Jadi kita cari solusi yang pas, kita sampaikan laporan persentase, kalau presiden lama mau naikkan ya bagus-bagus saja kita lebih senang, cuma masyarakatnya lebih senang atau nggak? Itu kan persoalan lain," pungkasnya.
(Ann/Nusantaraterkini.co)
Sumber: detikHealth
