Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Dari Waktu Luang Jadi Peluang & Tumbuh Harapan dari Tangan Perempuan

Rumah Kreatif Puhaman binaan Pertamina di Muara Enim berdayakan perempuan buat batik ramah lingkungan

Salah seorang pembatik muda, Syafira Desi Novianti yang menjalani peran sebagai perajin di Desa Rambang, Kabupaten Muara Enim. (Foto: tia/nusantaraterkini.co)
Salah seorang pembatik muda, Syafira Desi Novianti yang menjalani peran sebagai perajin di Desa Rambang, Kabupaten Muara Enim. (Foto: tia/nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG -ย Di Desa Lubuk Rambang, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan pagi datang bersama embun yang menggantung di ujung daun. Di antara hamparan kebun karet dan pepohonan yang tumbuh subur, warga memulai hari dengan rutinitas yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan mereka, yakni menyadap karet sejak matahari belum sepenuhnya meninggi.

Bagi sebagian warga, terutama para ibu rumah tangga, pekerjaan itu menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, ketika pekerjaan di kebun usai, masih ada waktu yang tersisa. Waktu yang dahulu berlalu begitu saja, perlahan menemukan makna baru ketika selembar kain putih mulai menjadi ruang untuk berkarya.

Dari desa yang lekat dengan kehidupan perkebunan itu, tumbuh sebuah gerakan pemberdayaan melalui Rumah Kreatif Puhaman (Pusat Usaha Handal Mandiri). Bukan sekadar tempat mengolah kain menjadi batik, rumah kreatif ini menjadi ruang bagi warga untuk mengembangkan keterampilan, menambah penghasilan, sekaligus merawat lingkungan.

Perjalanan tersebut mendapat dukungan PT Pertamina (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diinisiasi Field. Berangkat dari pemetaan sosial (social mapping) di wilayah sekitar operasi perusahaan, Pertamina melihat potensi masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi desa.

Pembinaan terpadu yang dimulai pada 2022 kemudian membuka jalan bagi Rumah Kreatif Puhaman untuk tumbuh lebih terarah. Pelatihan keterampilan, penguatan manajemen, hingga dukungan operasional menjadi bagian dari proses panjang membangun kemandirian masyarakat.

Merangkai Keterampilan, Menenun Kemandirian

Ketua Rumah Kreatif Puhaman, Etika Oktasari masih mengingat bagaimana proses pembinaan itu bermula. Sebelum berkembang seperti sekarang, para perajin masih bergerak dalam kelompok-kelompok kecil. Keterampilan telah dimiliki, tetapi ruang untuk mengembangkan usaha dan memperluas jangkauan masih terbatas.ย 

Kehadiran Pertamina menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan mereka. Warga tidak hanya mendapatkan kesempatan belajar membatik, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai teknik produksi dan pengelolaan usaha.

"Kalau dari Pertamina dia membina kita, itu mulai dari pelatihan maupun operasional, di tahun 2022 mulainya. Yang diberikan dari Pertamina pemberdayaan dalam arti pelatihan, pelatihan itu ada pelatihan bagaimana cara membatik pewarnaan alam, bagaimana teknik jumputan, terus ada juga manajemen," tutur Etika.

Dari pelatihan tersebut, kegiatan warga kemudian berkembang menjadi sebuah ekosistem usaha yang saling terhubung. Rumah Kreatif Puhaman menaungi sejumlah kelompok dengan keahlian dan peran masing-masing.

Kelompok Batik Haman menjadi pusat kegiatan membatik dengan memanfaatkan pewarna alami. Kelompok Buluh Bulu mengolah bambu menjadi berbagai produk kerajinan anyaman. Tidak berhenti pada pemanfaatan bambu, kelompok ini juga mengolah limbahnya menjadi arang aktif yang digunakan sebagai salah satu bahan penyaring limbah batik.

Sementara itu, kelompok Laskar Haman berperan dalam pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), memastikan proses produksi batik turut memperhatikan kelestarian lingkungan. Ketiganya membentuk mata rantai yang mempertemukan keterampilan, ekonomi, dan kepedulian terhadap alam. Apa yang semula hanya berupa aktivitas kelompok kecil kini berkembang menjadi usaha kreatif dengan produk yang mulai dikenal di pasar nasional.

Batik pewarnaan alam dari Lubuk Rambang dipasarkan dengan harga berkisar Rp200 ribu hingga Rp700 ribu per lembar, bergantung pada motif, bahan, dan tingkat pengerjaannya. Di balik setiap lembar kain, ada ketekunan tangan para perajin serta harapan agar keterampilan yang mereka miliki dapat memberi nilai tambah bagi keluarga.

Bagi Etika, perubahan paling berarti bukan semata-mata meningkatnya jumlah produksi atau luasnya jangkauan pemasaran. Ada cerita tentang para ibu yang kini memiliki penghasilan tambahan, bahkan mampu membantu membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi.

"Jadi yang didapat dari perekonomiannya selama ini tadi dapat tambahan, ya, tambahan hasil. Jadi yang ibu rumah tangga itu bisa menyekolahkan anak sampai ke kuliah gitu. Nah, selama ini kan ibu-ibu rumah tangga ini menyadap karet. Waktu ruang kosong setelah menyadap karet, mereka mengebatik. Nah, mengebatik ini jadi ada nilai tambahan untuk keluarga," ungkapnya.

Di sela pekerjaan menyadap karet, mereka kini memiliki kesibukan lain yang menghasilkan. Waktu luang tidak lagi sekadar menjadi jeda di antara rutinitas, melainkan kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang bernilai.

Ke depan, Etika ingin semangat tersebut menjangkau wilayah yang lebih luas. Salah satu rencana yang tengah dijajaki adalah kolaborasi dengan Kecamatan Semende untuk mengembangkan potensi pewarnaan alami berbasis kopi. Muara Enim yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi memiliki kekayaan bahan alam yang dapat diolah menjadi ciri khas produk batik.

"Harapannya, kreativitas yang tumbuh di Lubuk Rambang dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain, sekaligus memperkenalkan kekayaan alam Muara Enim melalui karya yang memiliki nilai ekonomi," ucapnya.

Selembar Kain, Sejuta Peluang bagi Generasi Muda

Di antara para perajin yang tekun mencanting dan memberi warna pada kain, ada generasi muda yang menemukan jalan untuk merawat cita-cita. Salah satunya Syafira Desi Novianti, pembatik muda yang menjalani peran sebagai perajin di sela kesibukannya menempuh pendidikan tinggi.

Berbekal latar belakang pendidikan desain saat bersekolah di SMK, Syafira mulai mengenal dunia batik melalui ajakan Etika Oktasari yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Ketertarikan itu kemudian tumbuh menjadi keterampilan yang mendatangkan penghasilan.

Kesibukan kuliah di Universitas Bina Dharma tidak membuatnya berhenti berkarya. Ketika masa libur tiba, ia kembali ke Lubuk Rambang dan memanfaatkan waktu untuk mengerjakan kain batik. Dengan teknik pengerjaan manual menggunakan kuas dan canting, Syafira dapat menghasilkan beberapa meter kain dalam sehari.

"Setiap aku pulang kuliah, itu aku seminggu libur. Setiap kain itu sehari itu aku dapat 2 atau 3 meter, atau 4 meter kain. Jadi seminggu itu bisa menghasilkan Rp500 ribu," cerita Syafira.

Setiap meter kain yang diselesaikannya dihargai sekitar Rp50 ribu. Dari pekerjaan tersebut, ia memperoleh penghasilan yang berkisar Rp500 ribu hingga Rp2 juta per bulan, bergantung pada jumlah kain yang dikerjakan dan waktu yang tersedia.

Penghasilan itu bukan sekadar angka. Ada biaya kos, kebutuhan sehari-hari, dan keperluan kuliah yang dapat ia bantu penuhi dari hasil tangannya sendiri. Sebuah bentuk kemandirian yang tumbuh dari keterampilan sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi perjalanan masa depannya.

Syafira juga merasakan perubahan setelah Rumah Kreatif Puhaman mendapat pendampingan Pertamina. Dukungan fasilitas dan peralatan membuat kegiatan membatik semakin optimal. Pengenalan produk kepada masyarakat pun semakin luas.

"Adik rasa, yang tersebut awal-awal kan mungkin batik ini belum banyak dikenal orang, setelah ikut Pertamina, banyak alat juga dipenuhin semuanya, jadi ya batik optimal, terus banyak dikenal orang, banyak orang yang masuk," kenangnya.

Bagi Syafira, membatik bukan hanya kegiatan mengisi waktu libur. Dari selembar kain, ia belajar bahwa keterampilan dapat membuka peluang, sementara ketekunan bisa menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh.

Menjaga Alam, Menguatkan Rantai Manfaat

Di balik berkembangnya Rumah Kreatif Puhaman, terdapat upaya untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berjalan dengan mengabaikan lingkungan. Pemberdayaan yang dilakukan Field dirancang agar masyarakat tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola usaha secara bertanggung jawab.

Suharjono, Superintendent HSSE Operation Pertamina EP Limau Field, menjelaskan bahwa dampak program tidak berhenti pada anggota kelompok yang terlibat langsung. Manfaatnya turut dirasakan oleh masyarakat yang berada di sekitar kegiatan.

"Menambah pendapatan, menambah income untuk seluruh masyarakat, sehingga kalau kita lihat sekarang, kemarin yang kita bina itu 47 orang, tapi punya multiplier effect sampai yang berdampak tidak langsung 400-an. Dan ini adalah 1.000 persen dampak yang dikembangkan oleh perubahan-perubahan ini," papar Suharjono.

Dari sekitar 47 orang yang menjadi penerima manfaat langsung, program ini disebut telah memberikan dampak tidak langsung kepada sekitar 400 orang. Angka tersebut memperlihatkan bagaimana satu kegiatan pemberdayaan dapat menjalar menjadi manfaat yang lebih luas ketika keterampilan dan peluang ekonomi mulai tumbuh di tengah masyarakat.

Pendekatan yang diterapkan juga dibangun melalui rantai kegiatan dari hulu hingga hilir. Penguatan kemampuan produksi berjalan beriringan dengan penyediaan fasilitas pendukung, pengelolaan limbah, hingga upaya memperluas pemasaran produk.

Pada aspek lingkungan, pemanfaatan limbah menjadi salah satu perhatian utama. Limbah bambu yang diolah menjadi arang aktif dimanfaatkan sebagai bahan penyaring dalam pengelolaan limbah batik. Sementara itu, keberadaan IPAL mendukung proses pengolahan air limbah agar dampak kegiatan produksi terhadap lingkungan dapat diminimalkan.

Dengan demikian, kegiatan membatik tidak hanya menghasilkan kain bernilai jual, tetapi juga mendorong kebiasaan produksi yang lebih bertanggung jawab. Bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diupayakan kembali memiliki fungsi, sedangkan air limbah dikelola melalui fasilitas pengolahan yang tersedia.

Bagi Suharjono, pemberdayaan masyarakat harus memiliki arah yang jelas: mengantarkan kelompok binaan menuju kemandirian. Pendampingan bukan dimaksudkan untuk berlangsung selamanya, melainkan menjadi proses yang memberi ruang bagi masyarakat untuk mengelola usaha secara mandiri.

"Jadi kita memisahkan satu sirkular ya, sirkular ini sampai dia benar-benar mandiri dan jika kita evaluasi sudah cukup, sebenarnya kita punya range setelah 5 tahunan ya, jika kita indikatornya memenuhi semua, itu kita exit," jelasnya.

Artinya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari bantuan yang telah diberikan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan kegiatan, mengembangkan usaha, serta mengelola sumber daya yang dimiliki setelah masa pendampingan berakhir.

Hasil evaluasi program mencatat sekitar 86 persen anggota kelompok Ibu Puhaman mengalami peningkatan kesejahteraan secara langsung. Rata-rata pendapatan perajin mencapai Rp1,6 juta per bulan. Capaian ini menjadi gambaran perubahan ekonomi yang tumbuh dari keterampilan mengolah potensi lokal.

Menyalakan Harapan dari Desa

Perjalanan Rumah Kreatif Puhaman menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu berawal dari sesuatu yang megah. Terkadang, ia tumbuh dari hal-hal sederhana: waktu luang setelah menyadap karet, selembar kain putih, warna yang berasal dari alam, dan kemauan untuk belajar bersama.

Di Lubuk Rambang, keterampilan membatik telah membuka ruang bagi para ibu untuk menambah penghasilan. Bagi generasi muda seperti Syafira, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk membangun kemandirian tanpa harus meninggalkan pendidikan. Sementara bagi lingkungan, pengolahan limbah dan pengelolaan air menjadi bagian dari upaya menjaga agar kegiatan ekonomi tetap berjalan selaras dengan alam.

Dukungan Pertamina EP Limau Field melalui program TJSL turut memperkuat proses tersebut. Pendampingan, pelatihan, dan penyediaan fasilitas menjadi pemantik bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang sebelumnya belum sepenuhnya tergarap.

Kini, Rumah Kreatif Puhaman bukan sekadar tempat menghasilkan kain batik. Ia menjadi ruang bertemunya pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian. Di dalamnya, para perajin belajar bahwa kesejahteraan dapat dibangun dari potensi desa sendiri, sementara kelestarian alam dapat dijaga melalui kebiasaan dan inovasi yang dilakukan bersama.

Dari kebun karet menuju lembaran batik, Lubuk Rambang sedang menenun kisahnya sendiri. Kisah tentang perempuan yang menemukan tambahan penghasilan, anak muda yang merawat cita-cita, dan masyarakat yang perlahan membangun masa depan dengan tangan mereka sendiri.

Sebab, pada akhirnya, pemberdayaan bukan hanya tentang menghadirkan bantuan. Ia adalah tentang menyalakan keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk tumbuh. Dan ketika potensi itu dirawat bersama, selembar kain pun dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih luasโ€”bagi keluarga, bagi desa, dan bagi bumi yang terus memberi kehidupan.

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait