Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Antara Intoleransi dan Konflik Sosial

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi. (Foto: istockphoto)

Oleh: Maudhy H Utami & Rachel H Simanjuntak

Konflik sosial dan intoleransi di Indonesia masih jadi masalah serius yang sering membuat hubungan antar masyarakat menjadi renggang. Konflik ini bisa muncul karena perbedaan agama, suku, ras, atau kepentingan tertentu (SARA), sehingga terkadang, hal kecil bisa menjadi besar gara-gara salah paham atau ada yang sengaja memprovokasi.

Misalnya, di media sosial sering terjadi debat panas yang awalnya hanya diawali beda pendapat. Tetapi lama-lama menjadi adu emosi dan saling serang. Apalagi kalau ada yang nyebar hoaks atau berita bohong, sehingga memperparah situasinya dan membuat orang-orang langsung terbawa emosi tanpa cek dulu kebenarannya.

Selain di dunia maya, konflik sosial juga sering terjadi di kehidupan nyata. Misalnya, bentrokan antar kelompok karena rebutan lahan, perbedaan keyakinan, atau persaingan ekonomi. Hal-hal seperti ini sering membuat suasana jadi tidak kondusif dan bisa merugikan banyak orang.

Baca Juga: Konflik Suku di Papua Nugini: Ketika Emas Menjadi Kutukan

Intoleransi juga makin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang susah menerima perbedaan dan malah menjelek-jelekkan kelompok lain. Padahal, Indonesia ini negara yang punya banyak suku, agama, dan budaya. Harusnya kita bisa hidup berdampingan dengan damai.

Kadang, intoleransi juga muncul di sekolah atau tempat kerja. Misalnya, ada anak yang dikucilkan karena beda agama atau budaya. Ada juga karyawan yang susah naik jabatan karena dianggap beda dari mayoritas. Hal ini kerap membikin masyarakat jadi terpecah belah.

Penyebab konflik sosial dan intoleransi ini ada banyak. Bisa karena kurangnya pendidikan, doktrin yang salah, pengaruh lingkungan, atau kepentingan politik. Ada juga pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan perbedaan buat kepentingan pribadi atau golongan mereka.

Padahal, kalau kita bisa lebih terbuka dan saling menghormati, banyak masalah bisa dihindari. Beda itu bukan berarti musuhan. Justru, keberagaman bisa bikin kita lebih kaya dalam budaya, pengalaman dan cara berpikir.

Baca Juga: Menjaga Keberagaman di Sumatera Utara: Antara Tantangan dan Harapan

Solusi buat masalah ini juga nggak bisa cuma dari pemerintah saja. Kita sebagai masyarakat juga harus sadar dan berusaha buat lebih toleran. Mulai dari hal kecil, kayak nggak gampang terpancing provokasi dan selalu berpikir sebelum bertindak.

Pendidikan juga penting dalam membangun sikap toleransi. Kalau dari kecil sudah diajari buat menghargai perbedaan, kemungkinan besar mereka bakal tumbuh jadi orang yang lebih terbuka dan tidak gampang terprovokasi.

Pada akhirnya, konflik sosial dan intoleransi hanya bisa diatasi kalau semua orang mau kerja sama. Indonesia itu rumah buat semua, bukan hanya buat satu golongan aja. Kalau kita bisa saling menghargai dan menjaga persatuan, pasti hidup jadi lebih damai dan nyaman.

Selain itu, peran media juga sangat besar dalam memperkuat atau meredam konflik sosial dan intoleransi. Sayangnya, masih banyak media yang justru memperkeruh suasana dengan menampilkan berita-berita yang provokatif tanpa memikirkan dampaknya ke masyarakat.

Padahal, media seharusnya bisa jadi jembatan untuk mempererat hubungan antar kelompok dengan menyajikan informasi yang akurat dan berimbang.  

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga punya dua sisi. Di satu sisi, teknologi memudahkan buat terhubung satu sama lain, tapi di sisi lain juga membuat informasi hoaks gampang tersebar. Makanya, penting buat kita bijak dalam menggunakan media sosial dan teknologi. Jangan asal sebar info yang belum tentu benar, apalagi kalau itu bisa memicu perpecahan.  

Kesadaran kolektif buat saling menjaga kerukunan harus terus dibangun. Mulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga, sekolah, sampai komunitas masyarakat. Kalau masing-masing individu punya rasa tanggung jawab buat menciptakan suasana yang damai dan menghargai perbedaan, niscaya konflik sosial dan intoleransi bisa berkurang secara perlahan. (*)

Penulis adalah Mahasiswa Unimed