Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Menjaga Keberagaman di Sumatera Utara: Antara Tantangan dan Harapan

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi. (Foto: istockphoto)

Oleh: Etania Purba & Yenni Maslina

Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau, 1.300 suku bangsa, dan lebih dari 700 bahasa daerah, adalah contoh nyata masyarakat multikultural. Keberagaman ini seharusnya menjadi kekuatan yang memperkaya identitas nasional.

Namun, realitas menunjukkan bahwa tantangan dalam menjaga harmoni sosial masih kerap muncul. Kasus intoleransi dan ketidakharmonisan antarsuku, agama, dan etnik masih sering terjadi.

Konflik antarsuku dan kasus intoleransi agama menjadi bukti bahwa nilai-nilai multikulturalisme belum sepenuhnya terinternalisasi dalam masyarakat. Selain itu, meningkatnya radikalisme dalam satu dekade terakhir menambah kompleksitas permasalahan ini.

Baca Juga: Maulid Nabi Ingatkan Teladan Rasulullah tentang Persatuan dalam Keragaman

Pendidikan multikulturalisme menjadi kunci dalam membentuk generasi yang toleran dan menghargai perbedaan. Dengan menanamkan nilai-nilai ini sejak dini, diharapkan tercipta masyarakat yang siap hidup dalam keberagaman dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk membangun persatuan.

Tetapi, upaya ini tidak akan berhasil tanpa dukungan semua pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang menghargai perbedaan dan menolak segala bentuk diskriminasi.

Namun, pendidikan multikultural tidak cukup hanya diajarkan dalam mata pelajaran tertentu, tetapi harus menjadi bagian dari sistem pendidikan yang lebih luas. Kurikulum sekolah sebaiknya tidak hanya mengajarkan sejarah dan budaya dari perspektif nasional, tetapi juga menyoroti kearifan lokal di Sumatera Utara.

Misalnya, dalam pelajaran sejarah, siswa dapat diperkenalkan dengan tradisi gotong royong dalam budaya Batak, Melayu, dan Tionghoa sebagai contoh konkret bagaimana multikulturalisme telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Selain itu, program pertukaran budaya antar sekolah dan kampanye anti-diskriminasi di lingkungan pendidikan perlu lebih digalakkan agar generasi muda tumbuh dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang keberagaman.

Salah satu kasus yang mencerminkan tantangan multikulturalisme di Sumatera Utara adalah ketegangan antar etnis dan agama dalam beberapa tahun terakhir. Contohnya adalah kasus di Kota Binjai pada 2023, di mana terjadi ketegangan antara kelompok masyarakat terkait perbedaan keyakinan dan praktik keagamaan.

Baca Juga: Bahas Isu Keragaman dan Kesetaraan, Sekjen PSI Silaturahim dengan Pendeta

Konflik ini dipicu oleh kesalahpahaman serta penyebaran ujaran kebencian di media sosial yang memperkeruh suasana. Selain itu, di Medan, gesekan sosial juga pernah terjadi antara komunitas etnis tertentu, terutama dalam konteks politik dan ekonomi.

Sebagai kota dengan populasi beragam, Medan sering kali menghadapi tantangan dalam menjaga harmoni antarsuku, terutama antara suku Batak, Melayu, Tionghoa, dan komunitas lainnya. Persoalan lahan, serta diskriminasi dalam sektor pekerjaan juga menjadi isu yang sering mencuat.

Namun, ada juga contoh positif dari multikultural di Sumatera Utara, seperti perayaan bersama dalam acara-acara budaya dan keagamaan. Festival budaya, seperti Pesta Budaya Nusantara dan Pekan Budaya Tionghoa di Medan, menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki semangat untuk menjaga keberagaman dan persatuan.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa meskipun Sumatera Utara memiliki sejarah panjang dalam keberagaman budaya, tantangan dalam mempertahankan toleransi tetap ada. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih inklusif dalam pendidikan, kebijakan sosial, serta peran aktif tokoh masyarakat untuk terus memperkuat nilai-nilai multikulturalisme.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa Sumatra Utara memiliki sejarah panjang keanekaragaman budaya, tetapi tantangannya tetap dalam mempertahankan toleransi. Oleh karena itu, pendekatan terintegrasi untuk pendidikan, kebijakan sosial dan peran aktif eksekutif masyarakat adalah untuk lebih memperkuat nilai-nilai multikulturalisme.

Selain itu, pedoman yang melindungi hak -hak kelompok minoritas harus diperkuat sehingga akses ke layanan publik, pendidikan dan pekerjaan tidak memberikan diskriminasi Dengan demikian, keragaman di Sumatra Utara tidak hanya identitas, tetapi juga kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan lebih sukses. (*)

Penulis adalah Mahasiswa Unimed Antropologi Angkatan 2022