Nusantaraterkini.co, Jakarta - Memasuki akhir tahun ditengah tren penguatan dolar Amerika Serikat (AS), harga emas diperkirakan masih akan diselimuti tren positif. Namun laju penguatannya diperkirakan tidak akan secepat sebelumnya.
BACA: Harga Emas Antam Mengalami Kenaikan 1,66% dalam Sebulan
Menanggapi hal tersebut, Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan permintaan emas sebagai aset safe haven akan terus menguat, didorong oleh berbagai faktor ekonomi dan geopolitik.
Baca Juga : Harga Emas Antam Hari Ini 4 Februari 2026 Melonjak Drastis ke Rp2.946.000 per Gram!
Ketidakpastian ekonomi global yang sedang berlangsung, termasuk kekhawatiran tentang inflasi dan potensi resesi.
BACA: Harga Emas Spot Tercatat Turun 0,96% dari Posisi US$ 2.648,23 Per Ons Troi Dalam Sepekan
Mendorong investor beralih ke emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan ekonomi. Sehingga membuat permintaan emas sebagai aset safe haven semakin besar.
Baca Juga : Harga Emas Tahun 2026 Masih Bullish
Selain itu, sejumlah bank sentral di dunia juga telah meningkatkan pembelian emas secara signifikan, ini menunjukkan permintaan yang kuat.
BACA: Harga Emas Spot Sedikit Berubah Berada di Level US$ 2.596,89 Per Ons Troi
"Tren tersebut diperkirakan akan terus berlanjut, mendukung harga emas," kata Sutopo.
Baca Juga : Rupiah Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Ditutup Melemah di Kisaran Rp16.800 per Dolar AS
Di sisi lain kebijakan moneter bank sentral terkait keputusan suku bunga, berdampak signifikan pada harga emas.
BACA: Harga Emas Merosot Mendekati Level Terendah ke Level US$ 2.588,8 Per Ons Troi
Sutopo bilang dengan sikap hawkish The Fed terkait ekspektasi penurunan suku bunga yang lebih lambat pada tahun 2025, bakal meredam momentum kenaikan harga emas untuk naik signifikan.
Baca Juga : Dolar AS Bangkit Usai Terseret, Pasar Bereaksi atas Penunjukan Kevin Warsh
Berdasarkan kondisi itulah, Sutopo memperkirakan pada kuartal I 2025, harga emas diperkirakan akan berada dalam kisaran US$ 2.600 - US$ 2.700 per ons troi.
Menurutnya ini adalah momentum yang tepat untuk membeli emas karena harga masih berpotensi melaju hingga US$ 3.000 pada akhir 2025. Secara historis, memang harga emas cenderung lebih rendah pada awal tahun.
Baca Juga : Pasar Menanti Data PDB, IHSG Berpeluang Menguat Terbatas
"Sertakan emas sebagai bagian dari portofolio yang terdiversifikasi untuk melindungi diri dari ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Pendekatan ini membantu dalam meratakan harga pembelian dari waktu ke waktu," tandas Sutopo.
Untuk diketahui berdasarkan Trading Ecnomics, Kamis (19/12) pukul 18:14 WIB, harga emas bertengger di level Rp 2.621 per ons troi, menguat 1,29% dalam sehari. Tetapi dalam sepekan harganya turun 0,97%, begitupun dalam sebulan turun 1,37%.(kontan)
