Risiko Pemanasan Laut, Terumbu Karang Australia Diprediksi Runtuh pada Tahun 2075
Evaluasi global IUCN ungkap seluruh terumbu karang Australia berisiko runtuh total pada 2075 akibat pemanasan laut
Nusantaraterkini.co, MELBOURNE - Setiap ekosistem terumbu karang di perairan dangkal Australia menghadapi risiko keruntuhan yang sangat tinggi pada 2075, terutama akibat pemanasan laut yang telah diperkirakan, demikian menurut sebuah evaluasi global.
Evaluasi tersebut, yang dipimpin oleh para peneliti dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature/IUCN) di Universitas Melbourne, Australia, bersama lebih dari 250 peneliti yang berasal dari 80 lebih negara dan kawasan, menemukan bahwa 96 persen ekosistem terumbu karang di dunia yang telah dievaluasi dikategorikan sebagai terancam kritis (critically endangered), termasuk seluruh 17 ekosistem terumbu karang di Australia, papar pernyataan universitas yang dirilis pada Kamis (22/10/2026).
Para peneliti mengidentifikasi pemanasan laut akibat perubahan iklim sebagai ancaman yang paling luas penyebarannya dan paling parah bagi terumbu karang, dengan gelombang panas laut yang semakin sering terjadi mengakibatkan pemutihan karang secara massal dan kematian karang dalam skala luas.
Studi tersebut mengevaluasi ekosistem terumbu karang di 127 ekoregion laut tropis dan subtropis, termasuk Great Barrier Reef di Australia, Coral Triangle di Asia Tenggara dan Pasifik bagian barat, Mesoamerican Barrier Reef, serta Laut Merah.
Mishal Gudka, seorang peneliti di Universitas Melbourne sekaligus pemimpin ilmiah dalam evaluasi ini, mengatakan bahwa sebagian besar risiko tersebut dipicu oleh perubahan yang telah diprediksi namun belum sepenuhnya terwujud, sehingga saat ini merupakan periode krusial bagi upaya konservasi dan aksi iklim.
Meskipun hanya mencakup kurang dari 1 persen area dasar laut, terumbu karang menjadi tempat hidup bagi sekitar seperempat dari seluruh spesies laut serta menyediakan habitat, makanan, dan tempat berkembang biak bagi ribuan spesies, sekaligus mendukung perikanan, pariwisata, dan perlindungan pesisir bagi jutaan orang, kata para peneliti.
Evaluasi tersebut memperingatkan bahwa pengelolaan lokal yang lebih kuat dan dekarbonisasi yang cepat dapat membantu mencegah keruntuhan terumbu karang, tetapi kesempatan untuk mengambil tindakan semakin sempit.
(*/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELKurangi Gangguan Jalan Umum, Overpass Tambang Sepanjang 190 Meter Dibangun di Lahat
Rozie Winata·38 menit yang lalu -
SUMUTPLN UP3 Pematangsiantar Temui Kapolres Demi Perkuat Keandalan Listrik dan Keamanan Kota
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
INTERNASIONALRisiko Pemanasan Laut, Terumbu Karang Australia Diprediksi Runtuh pada Tahun 2075
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALKPK Buka Peluang Periksa Bobby Nasution Terkait Kasus Proyek Jalan Sumut
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SEPAKBOLAEks Bintang Chelsea Gustavo Poyet Prediksi Cole Palmer Bisa Capai Level Eden Hazard
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
-
HUKUM DAN KRIMINALPimpinan Komisi III DPR Apresiasi Pengungkapan Ketamin, Dorong Penelusuran Bandar Besar
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
INTERNASIONALAmazon Brasil Kini Lepaskan Lebih Banyak Karbon, Terancam Kehilangan Fungsi Pengatur Iklim
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
PENDIDIKANJK Beberkan Empat Biang Kerok Tekanan Ekonomi RI di Harvard
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
SUMUTAKBP Noval NG Desky Ajak Masyarakat Berantas Narkoba di Padangsidimpuan
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan