Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Alex Indra Lukman: Negara Tak Cukup Urus Hutan Hanya dengan Doa

Alex Indra Lukman kritik keterlambatan anggaran kehutanan yang hambat pemulihan hutan pasca bencana di Sumatera

Wakil Ketua Komisi IV DPR, Alex Indra Lukman saat diwawancarai, Kamis (21/5/2026). Dianmenyoroti tambahan anggaran Kemenhut Rp8,4 triliun belum cair. (Foto: istimewa)
Wakil Ketua Komisi IV DPR, Alex Indra Lukman saat diwawancarai, Kamis (21/5/2026). Dianmenyoroti tambahan anggaran Kemenhut Rp8,4 triliun belum cair. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Wakil Ketua menyoroti belum direalisasikannya tambahan anggaran sebesar Rp8,4 triliun yang diajukan sejak Februari 2026. 

Menurutnya, keterlambatan tersebut menghambat upaya pemulihan kawasan hutan di daerah terdampak bencana.

“Sampai Mei 2026 ini, tambahan anggaran itu masih belum direalisasi. Artinya, upaya perbaikan kawasan hutan di daerah bencana masih belum bisa dilakukan. Kira-kira, kita ini masih punya hati nurani gak sih membenahi dampak bencana yang telah sebabkan korban jiwa dan kerugian puluhan triliun rupiah,” kata Alex, Kamis (21/5/2026).

Padahal, lanjutnya, telah menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp10,68 triliun pada 2025 hanya dari satu pos, yakni denda administrasi.

Alex menegaskan, pemulihan kawasan hutan tidak cukup hanya mengandalkan doa tanpa langkah konkret dari negara. Menurutnya, kerusakan hutan yang terus terjadi harus segera diatasi melalui intervensi nyata pemerintah.

“Sebagai warga negara yang Pancasilais, saya meyakini kita semua berdoa setiap hari, setiap saat. Tapi, negara ini tak cukup diurus (hanya) dengan doa saja,” tegas politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan tahun 2025, angka neto di mencapai 78.030,6 hektare. Angka tersebut menunjukkan luas deforestasi masih lebih besar dibandingkan lahan hasil reforestasi atau reboisasi.

sendiri merupakan pengurangan tutupan hutan secara permanen yang kemudian dialihfungsikan menjadi lahan non-hutan. Sementara reforestasi adalah proses penanaman kembali atau pemulihan ekosistem hutan yang mengalami kerusakan.

Alex menilai tingginya angka deforestasi di berkorelasi dengan meningkatnya bencana banjir dan tanah longsor dalam beberapa tahun terakhir.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah kejadian banjir dan longsor periode 2020-2025 mencapai 4.779 kejadian atau meningkat tajam dibandingkan periode 2014-2019 yang sebanyak 882 kejadian, serta periode 2008-2013 yang tercatat 780 kejadian.

“Jika tak ada upaya intervensi negara untuk di daerah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, sama saja kita menunggu takdir malapetaka berikutnya,” ujar Alex yang juga Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat.

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait