Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Fenomena warga Indonesia yang memilih berobat ke Penang, Malaysia, kembali mendapat sorotan dari DPR.
Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, menilai tren ini bukan sekadar pilihan individual pasien, melainkan cermin dari persoalan serius dalam ekosistem layanan kesehatan nasional.
Baca Juga : Gubernur Sumsel Instruksikan Biro Travel Kenalkan Layanan Kesehatan dalam Paket Wisata
Dalam kunjungan kerja Komisi IX DPR ke Murni Teguh Memorial Hospital, Medan, Sumatera Utara, Irma menegaskan, rumah sakit di Penang unggul bukan hanya karena teknologi medis atau reputasi dokter, tetapi karena pelayanan yang efisien, biaya yang transparan, serta sistem yang memudahkan pasien sejak pendaftaran hingga pengobatan.
Baca Juga : Dinkes Sumut Pastikan Biaya Bayi ANZ di RS Adam Malik Ditanggung Pemerintah
“Ini tantangan nyata bagi industri kesehatan domestik, khususnya di wilayah Sumatera. Pasien memilih Penang karena cepat, jelas, dan nyaman. Bukan semata-mata karena dokter kita kalah kompeten,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Ia membandingkan proses pelayanan di Malaysia yang relatif singkat dan terstruktur dengan antrean panjang serta birokrasi berlapis yang masih kerap ditemui di rumah sakit Indonesia. Ironisnya, biaya pengobatan di Penang termasuk untuk tindakan medis serius kerap lebih terjangkau dibandingkan rumah sakit swasta premium di dalam negeri.
Baca Juga : Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di NTT, DPR Nilai Negara Gagal Penuhi Hak Dasar Pendidikan
“Penang itu dekat, mudah dijangkau dari Sumatera. Ketika layanan di luar negeri terasa lebih sederhana dan pasti, masyarakat tentu akan memilih yang memberi rasa aman,” katanya.
Baca Juga : Pengamat: Jokowi Tak Sekadar Bangun Optimisme, PSI Disiapkan Jadi Kendaraan Politik 2029
Irma juga menyoroti pentingnya pendekatan layanan berbasis keramahan atau hospitality. Menurutnya, pelayanan staf yang komunikatif dan empatik sering kali menjadi faktor penentu kenyamanan pasien, bahkan sebelum aspek medis dipertimbangkan.
Ia mendorong Murni Teguh Memorial Hospital Medan untuk terus berbenah dan menonjolkan keunggulan kompetitifnya, baik dari sisi teknologi, sistem informasi, metode pengobatan, maupun kualitas sumber daya manusia.
“Apa nilai lebih rumah sakit ini dibandingkan rumah sakit lain di Medan atau daerah lain? Ini yang harus dijawab secara konkret, bukan hanya slogan,” tegas politisi Partai NasDem tersebut.
Irma menekankan bahwa persaingan dengan rumah sakit luar negeri seharusnya menjadi pemicu perbaikan, bukan alasan defensif. Masalah utama, menurutnya, terletak pada ekosistem layanan mulai dari transparansi biaya, efisiensi pelayanan, hingga pemanfaatan teknologi yang belum sepenuhnya berpihak pada pasien.
Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medis Murni Teguh Memorial Hospital Medan, Bangbang Buhari, menyampaikan, kebutuhan sumber daya manusia selalu dievaluasi berdasarkan beban kerja. Pihak rumah sakit juga rutin menggelar pelatihan internal untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis.
Terkait pengembangan wisata medis, Bangbang berharap adanya dukungan konkret dari pemerintah, termasuk kebijakan fiskal yang lebih ramah bagi sektor kesehatan.
“Kami mohon peralatan kesehatan dan medis tidak dikenakan pajak barang mewah. Tanpa dukungan kebijakan, sulit bagi rumah sakit dalam negeri untuk bersaing secara setara,” pungkasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
