Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Alami Tekanan Besar, Apakah BTC Bisa Kembali Bangkit Setelah Ekonomi AS Terpuruk?

Editor:  Akbar
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi Bitcoin (Istockphoto.com)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Aksi jual pada pasar keuangan di AS termasuk di Asia pada perdagangan kemarin, juga terjadi pada pasar uang kripto bitcoin (BTC). 

Harga Bitcoin terpantau mengalami koreksi hebat, hingga menyentuh level $49.825. Terpuruk cukup dalam jika membandingkan dengan kinerja BTC pada hari jumat yang sempat menyentuh $64.848.

“Dan jika berkaca pada kinerja BTC pada sore ini, harganya sudah tengah mengalami pemulihan di level $54.867. Harga Bitcoin secara keseluruhan bergerak menguat pada hari ini setelah mengalami tekanan besar pada perdagangan awal pekan kemarin,” kata Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin.

nusantaraterkini.co/uploads/images/202408/image_870x_66b0bd3183417.jpg" alt="">

Baca Juga: IHSG Alami Technical Rebound, Bursa di AS Masih Dilanda Aksi Jual

Ia mengatakan pemicu utama koreksi pada Bitcoin maupun sejumlah uang kripto adalah memburuknya ekonomi AS, yang menggiring AS kian dekat dengan potensi resesi.

Rilis data ekonomi AS pada hari jumat kemarin menunjukan adanya peningkatan jumlah pengangguran, ditambah dengan memburuknya data ketenagakerjaan AS. “Data penyerapan tenaga kerja AS di bulan Juli diluar sektor pertanian anjlok menjadi 114 ribu jiwa, lebih rendah dari eskpektasi pasar sebesar 175 ribu jiwa. Selanjutnya data tingkat pengangguran AS juga mengalami kenaikan menjadi 4.3% di bulan Juli,” terang Gunawan Benjamin kepada www.nusantaraterkini.co pada Selasa (6/8/2024).

Baca Juga: Bitcoin, Berapa Harganya Setelah Turun di Pasaran

Memburuknya data tersebut, akunya, memicu terjadinya aksi jual di pasar uang kripto. Karena pelaku pasar mengkuatirkan bahwa disaat terjadi tekanan pada daya beli masyarakat. “Atau disaat ada indikasi kemungkinan terjadinya krisis. Maka investor akan lebih memilih menjual aset yang beresiko,” ujarnya.

Masih dikatakan Gunawan Benjamin, koreksi yang terjadi bada bitcoin atau uang kripto pada umumnya juga telah memicu koreksi pada kinerja perusahaan yang berbasiskan uang kripto. “Kinerja uang kripto kedepan masih akan dipengaruhi oleh agenda Pilpres di AS. Sangat berpeluang bergerak volatile dan berpeluang menguat senadainya The FED atau Bank Sentral AS memangkas bunga acuannya,” pungkasnya.

(Akb/nusantaraterkini.co)