Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pengunduran diri Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Partai Golkar sulit dipercaya.
Pasalnya, momentum yang dipilih oleh Airlangga itu bukan waktu yang tepat untuk dianggap sebagai sebuah tindakan pribadi atau personal.
Baca Juga : Stimulus Lebaran 2026: Pemerintah Kucurkan Rp12,8 Triliun demi Dongkrak Konsumsi Domestik
"Bagaimana bisa, ketika puja-puji atas prestasinya sebagai Ketua Umum Golkar, Airlangga justru memilih mundur?. Padahal logikanya, dengan prestasi yang ditorehnya, ia layak untuk menuntut apresiasi berupa penambahan periode kepemimpinannya?," kata peneliti Formappi Lucius Karus kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (13/8/2024).
Baca Juga : Danantara Bahas Rencana Perminas Kelola Tambang Emas Martabe Pasca-Izin Agincourt Dicabut
Lucius melanjutkan, jadi hampir mustahil pengunduran diri Airlangga muncul dari situasi lepas bebas. Apalagi, lebih masuk akal untuk menduga ada faktor lain dari pihak eksternal Golkar yang memaksa Airlangga "gantung kursi".
Karena bahkan sulit untuk memahami alasan itu berasal dari persoalan internal Golkar. Dengan raihan Partai Golkar di Pemilu 2024, tak ada kader yang akan reseh ingin mendongkel Airlangga.
Baca Juga : Panitia Minta Polisi Usut Dalang Kericuhan di Luar Arena Musda XI Golkar Sumut
"Jadi kembali lagi ini rasanya bukan pengunduran diri, tetapi diundurkan orang lain yang punya kekuatan. Yang punya kekuatan untuk mendongkel itu rasanya sekarang ini ya pihak kekuasaan," ujarnya.
Baca Juga : Musda Golkar, Andar Amin Harahap Terpilih Secara Aklamasi jadi Ketua DPD Sumut
Lebih lanjut Lucius menilai, dari perjalanan waktu sesungguhnya mudah untuk mengarahkan telunjuk, siapa pihak berkuasa yang punya kepentingan mendongkel Airlangga untuk memastikan kendali atas Golkar selanjutnya?
"Sudah lama kita mendengar rumor soal keinginan menggelar munaslub untuk menggantikan Airlangga. Dan sekarang mulai tersingkap bahwa rumor-rumor itu sesungguhnya punya dasar atau sumber yang cukup kredibel," tegasnya.
Baca Juga : Formappi: Rentetan Keputusan Mendadak Awal 2026 Tunjukkan Pelemahan Demokrasi
"Jadi ya kaget soal waktu aja sih. dan kagetnya bukan pada keputusan Airlangga, tetapi pada keberanian pihak yang menginisiasi pengunduran diri Airlangga itu," tandasnya.
Baca Juga : Formappi: Pemilihan Adies Kadir sebagai Hakim Konstitusi Sarat Kejanggalan
(cw1/Nusantaraterkini.co)
