Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

22 Negara Berkumpul di Bali Atasi Krisis Tenaga Kesehatan

Sebanyak 22 negara mengikuti Konferensi AAAH ke-14 di Bali untuk membahas krisis dan pemerataan tenaga kesehatan.

Bagikan:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) menggelar Konferensi AAAH ke-14 di Bali pada 2–5 November 2026. (foto: who)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) menggelar Konferensi AAAH ke-14 di Bali pada 2–5 November 2026. (foto: who)
A A

Nusantaraterkini.co, — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) menggelar ke-14 di Bali pada 2–5 November 2026. Pertemuan ini menghimpun perwakilan dari 22 negara anggota untuk memperkuat kerja sama regional dalam mengatasi kekurangan serta ketimpangan distribusi .

​Mengusung tema "Membangun Masa Depan", forum internasional ini menjadi ajang pertukaran pengetahuan bagi sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan. Pertemuan strategis tersebut menyoroti empat fokus utama, yakni penguatan kepemimpinan, pendidikan transformatif, peningkatan kesejahteraan, hingga transformasi digital.

​Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus menegaskan, investasi pada sumber daya manusia kesehatan harus menjadi prioritas utama setiap negara. Menurutnya, keberadaan tenaga kesehatan yang terlatih dan berdedikasi merupakan fondasi vital dalam mewujudkan pelayanan medis berkualitas.

​“Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, pendidikan kesehatan yang lebih baik, dan transformasi digital. Kita juga harus memperkuat kerja sama regional, berbagi pengetahuan, dan saling belajar dari pengalaman satu sama lain,” ujar Wamenkes Benny melalui rekaman video, Senin (2/11/2026).

​Ia menambahkan, Indonesia siap memperkuat kolaborasi bersama negara-negara di kawasan Asia-Pasifik demi menjawab tantangan pembangunan SDM kesehatan. Diharapkan konferensi ini membuahkan gagasan praktis serta komitmen nyata bagi keberlanjutan sistem kesehatan global.

​Sementara itu, Ketua AAAH Anna Kurniati menyebutkan bahwa para tenaga medis saat ini menghadapi tantangan yang kian kompleks. Peningkatan populasi lansia, beban penyakit tidak menular, potensi infeksi baru, hingga krisis iklim menjadi persoalan serius di tingkat global.

​Proyeksi menunjukkan dunia akan mengalami kekurangan sekitar 10 juta tenaga kesehatan pada 2030, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

​“Marilah kita manfaatkan empat hari ini sebaik-baiknya dan janganlah kita hanya saling terhubung di konferensi ini saja. Kita perlu menindaklanjuti diskusi dan rekomendasi dengan kerja nyata untuk membangun tenaga kesehatan masa depan yang kompeten, tangguh, adil, dan berkelanjutan,” kata Anna.

​Konferensi ini membedah tiga pilar utama, mulai dari tata kelola, pendidikan dan kesejahteraan, hingga penerapan teknologi seperti layanan kesehatan jarak jauh (telemedicine).

​Direktur Regional Pasifik Barat Dr Saia Ma’u Piukala menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan antara pasien dan tenaga medis. Ia mendesak pemenuhan kondisi kerja yang layak serta perlindungan keselamatan bagi seluruh pekerja kesehatan.

​“Saya dulu adalah seorang tenaga kesehatan, sebagai dokter bedah, dan saya paham betul apa artinya ketika seorang ibu membawa anaknya yang sakit kepada Anda dengan harapan sederhana bahwa Anda akan melakukan yang terbaik. Ia mempercayai Anda, dan kita tidak boleh merusak kepercayaan itu karena setiap pasien, setiap ibu, dan setiap anak berhak mendapatkan yang terbaik,” ungkap Dr Saia.

​Berdasarkan data Kemenkes, pemerataan tenaga medis di Indonesia sendiri masih menghadapi benteng tantangan yang cukup besar. Sebanyak 37 persen puskesmas tercatat belum memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan prioritas secara lengkap, sementara 41 persen RSUD kabupaten/kota masih kekurangan tujuh dokter spesialis dasar.

​Menanggapi ketimpangan ini, pemerintah memanfaatkan Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan untuk memetakan distribusi dan proyeksi kebutuhan secara presisi. Langkah ini diprioritaskan untuk menangani wilayah dengan akses terbatas seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

​

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru