nusantaraterkini.co, MEDAN – Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Umumnya, bakteri ini menyerang paru-paru, tetapi dalam kondisi tertentu juga bisa menyebar ke organ lain seperti ginjal, kelenjar getah bening, tulang, hingga selaput otak. Jika sudah mengenai organ di luar paru, kondisi tersebut dikenal dengan istilah TB ekstra paru.
Sejak merebak kembali pada 1985, angka kasus TBC terus meningkat, terutama akibat meluasnya infeksi HIV yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Di Indonesia sendiri, TBC masih menjadi masalah serius. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada 2020 tercatat lebih dari 350 ribu kasus, mayoritas diderita usia produktif.
Baca Juga : Kenali Nutrisi dan 9 Manfaat Talas bagi Kesehatan Tubuh
Karena penyebarannya sangat mudah melalui percikan udara saat penderita batuk, bersin, bahkan berbicara, oleh karena itu, penting bagi sahabat Nuter (sebutan bagi pembaca setia nusantaraterkini.co) untuk memahami gejala, penyebab, serta langkah pencegahannya.
Jenis-Jenis TBC
TBC dibedakan menjadi dua tipe utama:
1. TBC Laten
Pada kondisi ini, bakteri sudah ada di dalam tubuh tetapi sistem imun mampu menahannya. Penderitanya tidak menimbulkan gejala dan tidak menularkan ke orang lain. Meski demikian, TBC laten bisa berubah menjadi aktif ketika daya tahan tubuh melemah, misalnya pada penderita HIV, malnutrisi, atau sedang sakit berat.
2. TBC Aktif
Terjadi ketika bakteri berkembang biak dan menimbulkan gejala. Inilah fase yang berbahaya karena pasien bisa menularkan penyakitnya kepada orang lain. Sebagian besar kasus TBC aktif pada orang dewasa berawal dari TBC laten yang “bangun” kembali.
Baca Juga : Mengenal Jamur Kulit yang Bisa Menyerang Area Intim: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya
Gejala TBC
Gejala TBC bervariasi tergantung lokasi infeksi.
Jika menyerang paru-paru, gejala umumnya meliputi:
Batuk lebih dari tiga minggu
Batuk berdahak atau berdarah
Nyeri dada
Mudah lelah dan lemah
Demam dan menggigil
Keringat malam berlebih
Hilang nafsu makan dan berat badan menurun
Jika menyebar ke organ lain (TB ekstra paru), dapat menyebabkan:
Darah dalam urine (jika menyerang ginjal)
Nyeri punggung, kekakuan, hingga kelainan tulang belakang (jika menyerang tulang)
Mual, muntah, gangguan kesadaran (jika menyerang otak).
Baca Juga : Bahaya Gorengan bagi Kesehatan dan Cara Mengatasinya
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab utama TBC adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis. Namun, beberapa kondisi berikut meningkatkan risiko seseorang tertular atau sakit TBC:
Mengidap HIV atau penyakit kronis lain yang melemahkan imun
Diabetes atau gagal ginjal
Kanker
Malnutrisi
Kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol jangka panjang
Sedang mengonsumsi obat penekan sistem imun (misalnya pasca transplantasi organ)
Tinggal atau bepergian ke wilayah dengan kasus TBC tinggi
Cara Penularan
TBC menular melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Droplet berisi bakteri dapat terhirup oleh orang lain dan masuk ke paru-paru.
Prosesnya biasanya melalui tiga tahap:
1. Infeksi primer – bakteri masuk ke paru-paru dan mulai berkembang biak.
2. Infeksi laten – sistem imun menahan pertumbuhan bakteri, gejala tidak muncul.
3. Infeksi aktif – sistem imun melemah sehingga bakteri bebas berkembang biak dan menimbulkan gejala.
Pengobatan TBC
Pengobatan TBC membutuhkan disiplin tinggi karena harus dijalani selama 6–12 bulan. Tujuannya untuk membunuh bakteri secara bertahap dan mencegah resistensi obat.
Obat lini pertama yang umum diberikan antara lain: Isoniazid, Rifampin, Ethambutol, Pyrazinamide, Rifapentine.
Pada kasus resistensi obat, dokter akan memberikan obat lini kedua, seperti levofloxacin, amikacin, linezolid, hingga bedaquiline.
Penting diingat, obat TBC harus diminum setiap hari pada jam yang sama sesuai anjuran dokter, sebagian besar sebaiknya dikonsumsi saat perut kosong.
Cara Mencegah TBC
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:
Menjalani pola makan sehat dan bergizi seimbang
Cukup tidur dan istirahat
Menghindari rokok dan alkohol
Rutin berolahraga untuk menjaga daya tahan tubuh
Mendapatkan vaksin BCG, terutama pada bayi dan anak-anak, untuk mencegah TBC berat
Rutin melakukan medical check-up, khususnya jika pernah kontak erat dengan penderita TBC
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri sahabat Nuter jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, terutama bila disertai gejala lain seperti demam, keringat malam, atau penurunan berat badan. Juga, jika Anda pernah kontak erat dengan penderita TBC, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan meski belum timbul gejala.
Dengan mengenali gejala sejak dini, disiplin menjalani pengobatan, serta menjaga pola hidup sehat, TBC dapat dicegah dan dikendalikan.
(Dra/nusantaraterkini.co).
