Nusantaraterkini.co, WASHINGTON-Inisiatif Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menghadapi jalan terjal di daratan Eropa. Dua sekutu strategis Washington, Polandia dan Italia, secara kompak menyatakan tidak akan bergabung dalam dewan perdamaian tersebut. Penolakan ini menandakan adanya keraguan mendalam di kalangan negara Barat terhadap forum yang dikhawatirkan akan menjadi tandingan bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memperluas kendali sepihak AS dalam resolusi konflik global.
Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, secara terbuka mengungkapkan bahwa negaranya masih menyimpan skeptisisme terhadap struktur organisasi yang dirancang Trump. Meski tetap menempatkan hubungan dengan AS sebagai prioritas keamanan nasional, Warsawa memilih untuk melakukan pengamatan dari luar sebelum benar-benar terlibat.
Baca Juga : Washington Post PHK Massal, CEO Will Lewis Mundur
“Dengan mempertimbangkan beberapa keraguan nasional mengenai bentuk dewan tersebut, dalam keadaan ini Polandia tidak akan bergabung dalam kerja Dewan Perdamaian, tetapi kami akan menganalisisnya,” ujar Tusk dalam rapat pemerintah, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga : Negosiasi Greenland-Denmark dengan AS Alami Kebuntuan, Masalah 'Garis Merah' Jadi Sorotan
Senada dengan Polandia, Italia melandasi penolakannya pada prinsip-prinsip kedaulatan hukum yang lebih fundamental. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menegaskan bahwa struktur Board of Peace saat ini berbenturan langsung dengan konstitusi nasional Italia. Roma merasa keberatan dengan kewenangan eksekutif yang sangat luas di tangan Presiden Trump, yang dianggap tidak memberikan kedudukan setara bagi negara anggota lainnya.
“Kami tidak dapat bergabung dengan Dewan Perdamaian karena ada hambatan konstitusional yang tidak dapat diatasi di pihak Italia,” tegas Tajani.
Baca Juga : Trump dan Netanyahu Bertemu di Gedung Putih, Negosiasi AS-Iran Dipastikan Tetap Berjalan
Dilansir RMOL, berdasarkan aturan di Italia, mereka hanya diizinkan bergabung dalam organisasi internasional yang menjunjung prinsip kesetaraan anggota, syarat yang dinilai belum terpenuhi dalam draf BoP saat ini.
Meskipun menolak secara institusional, kedua negara tersebut tetap menyisakan ruang untuk kerja sama di sektor lain, terutama dalam upaya rekonstruksi pascakonflik di Gaza.
Baca Juga : Menlu Rusia Sergey Lavrov: Penggunaan Kekuatan Militer ke Iran Hanya akan Menambah Masalah
Namun, sikap "dingin" dari Tusk dan Meloni ini menjadi sinyal kuat bagi Gedung Putih bahwa diplomasi transatlantik di era Trump kali ini tidak akan berjalan semulus sebelumnya. Terutama jika struktur organisasi internasional yang ditawarkan dianggap terlalu sentralistik dan mengabaikan norma-norma kolektif yang telah ada.
Baca Juga : Tim Panjat Tebing RI Peroleh 2 Emas dan 1 Perak di Kejuaraan Dunia
(Emn/Nusantaraterkini.co)
