Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Negosiasi Greenland-Denmark dengan AS Alami Kebuntuan, Masalah 'Garis Merah' Jadi Sorotan

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Foto yang diambil pada 6 Februari 2026 ini menunjukkan pemandangan di Nuuk, Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark. (Foto: Xinhua/Li Ying)

Nusantaraterkini.co, NUUK - Menteri Luar Negeri (Menlu) Greenland Vivian Motzfeldt dan Menlu Denmark Lars Lokke Rasmussen pada Sabtu (7/2/2026) mengatakan, negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS) masih belum sesuai harapan yang menandakan kesepakatan akhir masih jauh tercapai.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers trilateral dengan Kanada untuk menandai pembukaan konsulat pertama Kanada di Nuuk, Motzfeldt mengakui, situasinya telah membaik dibandingkan sebulan yang lalu, seraya menyebut terbentuknya sebuah jalur diplomatik dan dialog langsung dengan Washington.

Baca Juga : Protes Besar di Denmark & Greenland Tolak Ambisi AS,Trump Ancam Tarif 25%

Namun, Motzfeldt menyampaikan posisi Greenland masih belum sesuai harapan dan bahwa jalan yang harus dilalui masih panjang. 

Baca Juga : Tantang Rencana Trump, Prancis Akan Buka Konsulat di Greenland pada 6 Februari 2026

"Jadi masih terlalu dini untuk mengatakan posisi akhirnya," katanya. 

Sementara itu, Rasmussen mengatakan, pihaknya telah menyatakan dengan sangat jelas sejak awal bahwa setiap solusi harus menghormati garis merah mereka. 

Baca Juga : Tekanan Bear Market Menguat, Wacana RUU Bitcoin AS Kian Meredup

Dia juga mengatakan yakin bahwa "solusi yang menghormati garis merah bisa dicapai. 

Baca Juga : Lawan Sabotase Energi: Havana Kecam Praktik Premanisme Global Amerika Serikat

Namun, Rasmussen menolak untuk mengungkapkan rincian negosiasi tersebut. 

"Kami tidak melakukan negosiasi ini secara terbuka," ujarnya, seraya menambahkan bahwa mereka telah berjuang untuk bertemu dalam satu ruangan di mana pihak-pihak yang terlibat dapat saling berbicara satu sama lain secara layak.

Diketahui, Greenland, pulau terbesar di dunia, merupakan wilayah otonom dalam lingkup Kerajaan Denmark, dengan Kopenhagen memegang kendali atas pertahanan dan kebijakan luar negerinya.

Sejak kembali menjabat pada 2025, Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan keinginan untuk mendapatkan Greenland, sebuah langkah yang telah memicu reaksi keras di seluruh Eropa.

Kanada dan Prancis membuka konsulat-konsulat baru di Nuuk pada Jumat (6/2/2026) sebagai bentuk solidaritas terhadap Greenland dan populasi Inuit-nya.

(*/nusantaraterkini.co) 

Sumber: Xinhua