Nusantaraterkini.co - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti sejumlah petisi dan pernyataan kritis terkait polemik yang terjadi belakangan ini yang dilayangkan para akademisi kampus untuk pemerintahan Jokowi pada Pemilu 2024.
SBY mengatakan gerakan yang muncul dari berbagai daerah dan sejumlah rektor, guru besar serta mahasiswa itu sejatinya menyuarakan pentingnya pemilu Indonesia yang damai, jujur, dan adil.
"Secara implisit, mereka khawatir jika pemilu tahun 2024 ini tidak berlangsung secara damai, secara jujur, dan secara adil," kata SBY dalam pidato politik 'Indonesia 5 tahun ke depan' di Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, (7/22024).
Baca Juga : Jokowi Bantah SBY di Balik Isu Ijazah Palsu
Selanjutnya, SBY juga menyoroti munculnya pernyataan politik yang dinilainya berlebihan. Misalnya apabila pilpres hanya berlangsung satu putaran berarti curang. Dan apabila gelaran pilpres curang, maka rakyat tidak akan terima dan negara siap-siap mengalami kekacauan.
"Jadi begini jalan pikiran saya. Kita ingin, saya yakin rakyat kita juga ingin, Pilpres 2024 ini hasilnya sah. Sah dan diterima oleh rakyat. Dengan keabsahan ini, pemimpin baru kita akan memiliki legitimasi yang kuat," ujarnya.
Dalam sepekan belakangan, perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta ramai-ramai mengeluarkan pernyataan sikap mengkritik demokrasi era Jokowi yang dianggap mengalami kemunduran serta menuntut Pemilu 2024 yang jujur dan adil.
Baca Juga : Sakit dan Jalani Perawatan di RSPAD, SBY Masih Melukis meski Tangan Diinfus
Berawal dari Petisi Bulaksumur, UGM, Yogyakarta pada 31 Januari lalu, pernyataan sikap tersebut terus merebak di kampus-kampus penjuru Indonesia.
Kampus-kampus pada intinya menyampaikan kritik sekaligus kekhawatiran atas netralitas penyelenggara negara di Pemilu 2024, serta kemunduran demokrasi.
(Ann/Nusantaraterkini.co)
Baca Juga : Ciptakan Pemilu Damai, Forum Guru Besar Imbau Civitas Akademik Untuk Solutif Dibanding Provokatif
