ICW Kritik Wacana Pilkada via DPRD: Bandingkan Anggaran Rp37 Triliun dengan Makan Gratis Rp71 Triliun
ICW mengkritik wacana Pilkada via DPRD dengan membandingkan anggaran Pilkada Rp37 triliun dan Program Makan Gratis Rp71 triliun.
Nusantaraterkini.co, โJAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) melontarkan kritik keras terhadap wacana pengembalian mekanisme Pilkada ke tangan DPRD dengan dalih efisiensi anggaran. ICW menilai alasan tersebut tidak konsisten, mengingat pemerintah justru menggelontorkan dana jauh lebih besar mencapai Rp71 triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai masih memiliki masalah tata kelola, namun tidak dianggap sebagai pemborosan.
“Dilihat dari sisi manapun, wacana ini tidak beralasan dan justru mengandung logika yang mengkhawatirkan,” ujar Staf Divisi Advokasi ICW, Seira Tamara, di Jakarta, Kamis (1/1/2026).
Baca Juga : Rektor Universitas Paramadina Usulkan Pilkada Jalan Tengah: Solusi Atasi Politik Uang dan Ketergantungan pada Cukong
Ia menjelaskan, dana hibah dari APBD untuk pelaksanaan Pilkada 2024 yang diperkirakan mencapai Rp 37 triliun, masih lebih kecil dibandingkan biaya penyelenggaraan Pemilu 2024 yang menelan anggaran sekitar Rp 71,3 triliun.
Ia mempertanyakan konsistensi logika pemerintah apabila besarnya anggaran dijadikan tolok ukur perubahan sistem pemilihan.
“Bila besarnya anggaran adalah tolak ukur, apakah Pemilihan Presiden dan Legislatif yang juga diselenggarakan secara langsung juga harus diubah mekanismenya?” ujar Seira.
Di sisi lain, Seira menyoroti anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2025 yang mencapai Rp 71 triliun, jauh lebih besar dibandingkan anggaran Pilkada 2024. Menurutnya, program tersebut justru tidak dipandang sebagai pemborosan, meski dinilai sarat persoalan tata kelola.
“Program yang sarat akan masalah tata kelola itu bahkan tidak dipandang pemerintah sebagai pemborosan dan justru dinaikkan anggarannya hingga lima kali lipat untuk tahun berikutnya,” tuturnya.
Baca Juga : Pilkada Diusulkan Dipilih DPRD, Pakar: Demokrasi Tak Boleh Dikompromikan karena Alasan Finansial
Seira menilai perbandingan tersebut menunjukkan bahwa besarnya anggaran bukanlah persoalan utama yang sebenarnya diangkat dalam wacana penghapusan Pilkada langsung.
“Dengan logika yang sama, maka ada banyak program prioritas pemerintah dengan anggaran jumbo yang seharusnya juga dihentikan,” tandasnya.
(Cw1/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELDPR RI Soroti Rendahnya Penyerapan KUR di Sumsel dan Dorong Percepatan Kawasan Industri
hendra·25 menit yang lalu -
NEWSBobby Nasution Diminta Hentikan Sementara Proyek Turap Sungai di Tapteng, Besi Berkarat Jadi Sorotan
hendra·35 menit yang lalu -
NEWSPemkab Nias Selatan Finalisasi Ranperda Perlindungan Lahan Pertanian, Ini 5 Poin Penting Hasil FGD
hendra·45 menit yang lalu -
EKONOMIKetua DPD Ajak Daerah Jajaki Peluang Kerja Sama Ekonomi dengan Tatarstan Rusia
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
KESEHATANRSUD Pirngadi Medan Mulai Layani Penanganan Kateterisasi Jantung
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOPemerintah Angkat PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Rekrutmen CPNS Dibuka November 2026
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALNasional Institut Desak Kapolri Ungkap Mastermind di Balik Penyadapan Presiden Prabowo
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALGerebek Warnet di Medan Sunggal, 14 Pengunjung Diamankan karena Positif Sabu
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALDPO Penembakan Brigpol Ronald Enok Ditangkap Satgas Damai Cartenz di Puncak Jaya
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
SUMATERA TERKINITak Berhenti, Bupati Al-Farlaky Kembali Lobi Wamensos RI Perjuangkan Pencairan Jadup
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan