Nusantaraterkini.co, MEDAN – Geliat industri pariwisata di Sumatera Utara (Sumut) menunjukkan performa yang menggembirakan pada penghujung tahun 2025. Berdasarkan data yang dikutip dari Berita Resmi Statistik (BRS), Kamis (5/2/2026), Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di wilayah ini mencatatkan tren positif dengan rata-rata okupansi mencapai 44,43 persen pada bulan Desember 2025.
Capaian ini mencerminkan kenaikan sebesar 1,81 persen poin jika dibandingkan dengan bulan November 2025 yang tercatat sebesar 42,62 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa daya tarik Sumatera Utara sebagai destinasi liburan akhir tahun tetap kuat bagi para pelancong, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
Baca Juga : Tingkat Hunian Hotel di Sumut Naik Tipis pada Oktober 2025, Namun Masih Jauh dari Capaian Tahun Lalu
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Asim Saputra, merinci, hotel klasifikasi bintang 5 tetap menjadi primadona utama bagi wisatawan yang mencari kenyamanan eksklusif. Kelompok hotel mewah ini mencatatkan tingkat hunian tertinggi yakni mencapai 55,58 persen, disusul oleh hotel bintang 4 yang juga menunjukkan performa solid sebesar 51,03 persen.
Baca Juga : Naik Paling Tinggi, Wisatawan Tiongkok Jadi Primadona Baru Pariwisata Sumut
Tidak hanya di sektor hotel berbintang, geliat ekonomi juga dirasakan pada sektor akomodasi non-bintang. TPK hotel non-bintang pada Desember 2025 tercatat sebesar 24,61 persen, naik 2,00 persen poin dari bulan sebelumnya. Di antara berbagai klasifikasi non-bintang, hotel kelas 3 menjadi kontributor utama dengan okupansi mencapai 27,33 persen. Secara agregat, gabungan antara hotel bintang dan non-bintang di seluruh Sumatera Utara berada pada angka rata-rata 31,79 persen.
Namun, di balik kenaikan angka hunian tersebut, terdapat anomali pada perilaku tamu yang menunjukkan tren berbanding terbalik. Meski jumlah kamar yang terisi meningkat, durasi menginap para tamu justru mengalami penurunan. Rata-rata lama menginap tamu, baik asing maupun domestik pada hotel bintang, menyusut menjadi 1,24 malam. Angka ini turun 0,08 poin dibanding bulan November 2025 yang sempat mencapai 1,32 malam.
Baca Juga : Pemprov Sumut Klaim Keberhasilan Membangun Iklim Investasi yang Kondusif
Dalam rincian data per kategori, hotel bintang 4 menjadi satu-satunya akomodasi yang mampu menahan tamu lebih lama dengan rata-rata durasi 1,34 malam, sementara kategori lainnya cenderung mencatatkan waktu tinggal yang lebih singkat.
Perbedaan perilaku antara wisatawan domestik dan mancanegara juga terlihat jelas dalam laporan statistik kali ini.
"Rata-rata lama menginap tamu asing di hotel bintang selama Desember 2025 mencapai 1,44 malam, atau mengalami penurunan 0,08 persen poin dibandingkan November 2025 sebesar 1,52 malam," ujar Asim Saputra.
Di sisi lain, tamu asal Indonesia atau wisatawan domestik terpantau memiliki durasi menginap yang jauh lebih singkat dengan rata-rata 1,24 malam.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa meskipun volume kunjungan ke hotel-hotel di Sumatera Utara melonjak drastis akibat euforia libur Natal dan Tahun Baru, sebagian besar tamu lebih memilih pola perjalanan singkat atau short getaway.
"Wisatawan tampaknya lebih mengutamakan intensitas kunjungan ke berbagai titik destinasi dalam waktu cepat dibandingkan berdiam lama di satu akomodasi," lanjut Asim.
Menurutnya, bagi para pelaku industri perhotelan, data ini menjadi sinyal penting untuk terus mengoptimalkan layanan yang cepat dan paket promosi yang menarik bagi tamu dengan durasi tinggal pendek. Hal ini untuk mempertahankan momentum pertumbuhan okupansi yang sudah terbangun di penghujung tahun 2025.
"Pertumbuhan ini diharapkan terus berlanjut ke awal tahun 2026 sebagai bagian dari pemulihan ekonomi sektor pariwisata daerah yang berkelanjutan," pungkas Asim.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
