Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Satgas Karhutla OKI Intensifkan Ground Check Titik Panas di Lapangan

Satgas Karhutla OKI mengintensifkan pengecekan titik panas. Hotspot turun menjadi 335 titik pada 23 Oktober 2026 dari 1.007 sehari sebelumnya.

Bupati OKI, Muchendi Mahzareki saat meninjau lokasi Kebakaran Hutan dan Lahan. (foto: istimewa)
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki saat meninjau lokasi Kebakaran Hutan dan Lahan. (foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, OKI - Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mengintensifkan pengecekan lapangan terhadap titik panas untuk memastikan keberadaan api.

“Setiap titik panas harus dicek di lapangan untuk memastikan apakah benar ada api atau tidak. Jika ditemukan kebakaran, petugas harus segera mengambil tindakan agar api tidak meluas,” ujar Bupati OKI, Muchendi Mahzareki dalam keterangan yang diterima, Minggu (25/10/2026).

Muchendi menyampaikan jika jumlah titik panas di wilayahnya tercatat sebanyak 335 titik berdasarkan data pemantauan Sipongi Kementerian Kehutanan hingga 23 Oktober 2025.

Jumlah tersebut mengalami penurunan secara signifikan jika dibandingkan dengan kondisi sehari sebelumnya yang sempat mencapai 1.007 titik.

“Kecepatan memperoleh informasi harus diikuti dengan ketepatan verifikasi agar petugas dapat menentukan prioritas penanganan berdasarkan kondisi nyata di lokasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BPBD OKI, Pratama Suryadi mengatakan jika data titik panas dari Kementerian Kehutanan menjadi dasar pengawasan. Namun, tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran.

“Kami mengacu pada data hotspot dari Sipongi, tetapi tetap dilakukan ground check. Belum tentu hotspot itu ada api,” katanya.

Berdasarkan data pemantauan sepanjang 16–23 Oktober 2026, jumlah titik panas di OKI tercatat berfluktuasi secara dinamis setiap harinya.

Pada 16 Oktober tercatat 871 titik, kemudian meningkat menjadi 1.199 titik pada 17 Oktober, lalu turun menjadi 473 titik pada 18 Oktober. Tren penurunan berlanjut menjadi 386 titik pada 19 Oktober dan 286 titik pada 20 Oktober.

Titik panas kembali meningkat menjadi 695 titik pada 21 Oktober dan 1.007 titik pada 22 Oktober, sebelum turun menjadi 335 titik pada 23 Oktober.

Pratama memaparkan bahwa satelit mendeteksi titik panas berdasarkan karakteristik suhu dan tingkat kepercayaan dari hasil pemantauan.

Objek bersuhu tinggi seperti permukaan seng atau aspal yang terpapar panas matahari juga berpotensi terdeteksi sebagai titik panas oleh satelit.

“Ketika satelit mendeteksi titik panas, personel perlu turun ke lokasi sesuai koordinat untuk memastikan apakah ada api atau tidak,” terangnya.

Selain pemantauan satelit, BPBD OKI juga mengandalkan laporan langsung dari masyarakat guna mempercepat respons penanganan di lapangan.

Warga yang melihat indikasi kebakaran diimbau segera menyampaikan laporan lengkap disertai foto, video, serta titik koordinat lokasi.

“Kalau masyarakat melapor, kami minta foto, video, dan titik koordinatnya. Setelah itu, tim langsung bergerak ke lokasi tanpa harus melalui prosedur berjenjang,” tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk tetap proaktif melaporkan kejadian kebakaran meskipun lokasi tersebut belum sempat terpantau oleh satelit.

“Laporan yang akurat dan disampaikan sejak dini dapat membantu petugas menjangkau lokasi lebih cepat,” pungkasnya. 

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru