Rupiah Kian Tertekan, Pekan Depan Berpotensi Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Rupiah melemah ke Rp17.915 per dolar AS. Simak penyebab tekanan rupiah dan proyeksi kurs yang berpotensi mendekati Rp18.000 pekan depan.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi kombinasi sentimen domestik, mulai dari berkurangnya keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi hingga kekhawatiran atas kualitas penerimaan negara. Dari eksternal, ketegangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS turut membebani pergerakan rupiah.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 28 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.915 per dolar AS pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.887 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, salah satu faktor yang perlu dicermati adalah penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada September 2026. Meski masih berada di zona optimistis, indikator tersebut menunjukkan bahwa tingkat keyakinan masyarakat terhadap perekonomian sedikit berkurang.
IKK September tercatat sebesar 118,1, turun dari 118,5 pada Agustus 2026. Angka di atas 100 menunjukkan bahwa konsumen masih memiliki pandangan optimistis terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek enam bulan mendatang.
"Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia tetap berada di zona optimistis. Namun pada September, optimisme tersebut sedikit memudar," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026).
Kondisi ekonomi saat ini melemah
Penurunan IKK terutama dipengaruhi Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang merosot dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September 2026. Pergerakan ini mengindikasikan penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini tidak sekuat bulan sebelumnya.
Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru mengalami peningkatan. Indeks tersebut naik dari 127,6 menjadi 128,7, mencerminkan pandangan masyarakat yang semakin positif terhadap prospek ekonomi dalam enam bulan ke depan.
Selain indikator konsumsi, kondisi fiskal pemerintah juga menjadi perhatian pelaku pasar. Realisasi APBN hingga Agustus 2026 mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pendapatan negara baru mencapai 65,2 persen dari target Rp3.153 triliun. Sementara itu, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari pagu Rp3.842 triliun.
Menurut Ibrahim, angka realisasi tersebut perlu dicermati secara menyeluruh. Persentase penerimaan negara yang telah masuk belum tentu sepenuhnya mencerminkan kondisi penerimaan bersih apabila masih terdapat kewajiban restitusi pajak yang belum dibayarkan.
Restitusi merupakan pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada wajib pajak. Apabila pembayaran restitusi meningkat, penerimaan bersih pemerintah dapat mengalami penyesuaian.
Kondisi itu berpotensi memengaruhi perhitungan defisit APBN pada kuartal IV 2026, terutama jika pembayaran restitusi pajak pertambahan nilai (PPN) kepada eksportir dan penyelesaian kewajiban pajak badan meningkat.
Meski demikian, besarnya dampak terhadap defisit bergantung pada jumlah restitusi yang masih menunggu pembayaran serta waktu pencairannya. Karena itu, kewajiban restitusi yang belum dibayar tidak serta-merta berarti seluruhnya akan menjadi tambahan defisit.
Konflik geopolitik menambah tekanan
Dari sisi eksternal, perkembangan konflik di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar keuangan. Risiko gangguan pasokan energi dan keamanan jalur pelayaran minyak berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia.
Ibrahim menyoroti ketegangan yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Situasi tersebut meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak, khususnya setelah muncul laporan serangan terhadap fasilitas minyak di Riyadh.
Di sisi lain, aliran pasokan minyak dari Timur Tengah dilaporkan meningkat pada September, dengan arus pengiriman melalui Selat Hormuz sempat melampaui tingkat sebelum perang.
Namun, risiko terhadap jalur pelayaran di kawasan Teluk kembali menjadi perhatian pada Oktober. Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia yang sebelum konflik mengalirkan minyak dan bahan bakar dalam volume setara sekitar 20 persen pasokan global.
Laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker juga menambah ketidakpastian. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Rabu melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil di sekitar 51 mil laut di utara Madinat ash Shamal, Qatar. Insiden tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa.
Ketidakpastian geopolitik dapat mendorong perubahan sentimen investor terhadap aset berisiko dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Apabila harga energi kembali melonjak, tekanan inflasi global juga berpotensi meningkat.
Kebijakan The Fed turut dicermati
Faktor lain yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar mencermati kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026 setelah kenaikan 25 basis poin pada September, sebagaimana disampaikan dalam analisis Ibrahim.
Namun, prospek inflasi yang masih berisiko meningkat, termasuk akibat tingginya harga energi, membuat arah kebijakan moneter AS berikutnya tetap menjadi perhatian. Kemungkinan perubahan suku bunga pada Desember juga akan bergantung pada perkembangan inflasi dan data ekonomi terbaru.
Pasar turut menantikan data mingguan klaim awal tunjangan pengangguran AS yang dijadwalkan dirilis pada Kamis malam sekitar pukul 19.30 WIB. Data tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter AS.
Pergerakan dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed menjadi faktor penting bagi rupiah. Jika dolar menguat akibat perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat bertambah.
Rupiah berpotensi mendekati Rp18.000
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Jumat (9/10/2026).
Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.910 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Untuk pekan depan, rentang pergerakan rupiah diperkirakan berada di Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS. Proyeksi tersebut membuka peluang bagi rupiah untuk menguji level psikologis Rp18.000 apabila tekanan dari dalam negeri maupun pasar global berlanjut.
Meski demikian, arah pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi perkembangan sentimen pasar, terutama kondisi fiskal domestik, dinamika konflik geopolitik, harga energi, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
PERISTIWAHilang Kendali, Fortuner Hitam Hantam Pintu Ruko Cafe di Jalan Brigjen Katamso Medan
Rozie Winata·25 menit yang lalu -
PENDIDIKANWacana Tak Naik Kelas 2027, Pengamat Desak Pemerintah Benahi Dulu Kualitas Guru
Rozie Winata·37 menit yang lalu -
NASIONALJokowi Tak Lagi Tegas Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode, Pengamat Ungkap Dua Faktor: Peluang Duet Kian Tipis
hendra·45 menit yang lalu -
EKONOMIRupiah Kian Tertekan, Pekan Depan Berpotensi Tembus Rp18.000 per Dolar AS
hendra·1 jam yang lalu -
POLITIKPutusan MK soal Gibran, Pengamat: Harapan Politik Jokowi Bisa Bertumpu ke Kaesang
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
POLITIKEka Widodo Usulkan Pansus DPR Usut Polemik Ijazah Gibran Pasca-Putusan MK
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
PERISTIWAHNSI Sumut Desak Usut Tuntas Kasus Kapal Asing Tabrak Nelayan di Selat Malaka
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMSELAtasi Karhutla, Sumsel Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Picu Hujan di Titik Rawan
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
PERISTIWA13 Jam Terombang-ambing, Empat Nelayan asal Belawan jadi Korban Tabrak Lari Kapal Tuna Taiwan di Selat Malaka
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NASIONALUsman Husin: Jangan Sampai Warga Miskin Tak Terima Bantuan Pangan Akibat Data Tak Akurat
Rozie Winata·2 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan