Ghompok Kolektif Buka Arsip Karhutla Sumsel 2015–2026 dalam Pameran 'Menjaga Api'
Ghompok Kolektif membuka arsip foto karhutla Sumsel 2015–2026 dalam pameran Menjaga Api di Palembang, mengangkat krisis lingkungan dan kritik sosial.
Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Ghompok Kolektif berpartisipasi dalam pameran bertajuk "Menjaga Api: Unjuk Rupa, Unjuk Rasa" yang akan diselenggarakan di Kopi Lawas, Palembang, pada 10 Desember 2026 mendatang.
Dalam pameran ini, Ghompok akan menghadirkan arsip fotografi yang merekam peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan sepanjang rentang tahun 2015 hingga 2026.
Pengarsipan visual atas bencana yang berulang selama lebih dari satu dekade tersebut melibatkan delapan fotografer Ghompok Kolektif, yakni Adam Rachman, Bagus Kurniawan, Humaidi Aditya, Kemas Prima, Nopri Ismi, M. Keysar, Prabu Rizki Sunda Riadi, dan Robby Arock.
Anggota Ghompok Kolektif, Ahmad Rizki Prabu menyampaikan jika dokumentasi tersebut digagas untuk membaca kembali jejak kebakaran lahan dari tahun ke tahun, merawat ingatan publik, serta menghubungkan peristiwa masa lalu dengan kondisi hari ini.
“Melalui arsip yang merentang dari 2015 hingga 2026, kami ingin mengingatkan masyarakat bahwa karhutla bukan persoalan baru. Meski terjadi hampir setiap tahun, penyelesaian konkret untuk menghentikan kejadian serupa masih menjadi persoalan,” ujar Prabu, Senin (12/10/2026).
Ia menyebut jika foto-foto yang dipamerkan bukan sekadar dokumentasi masa lalu, melainkan catatan dampak karhutla sekaligus pengingat jika persoalan lingkungan ini belum tuntas. Sehingga, membuka ruang refleksi atas penanganannya di Sumsel.
Selain arsip fotografi, pameran "Menjaga Api: Unjuk Rupa, Unjuk Rasa" pihaknya akan turut menampilkan karya-karya dari Pebri Yansyah, seorang perupa yang memanfaatkan seni sebagai medium menyuarakan keresahan lingkungan ke ruang publik.
Kehadiran arsip foto Ghompok Kolektif dan karya Pebri Yansyah memastikan ingatan publik tentang karhutla tidak berhenti sebagai dokumentasi masa lalu semata.
“Arsip dan karya seni ini hadir sebagai pengingat bahwa persoalan lingkungan masih berlangsung dan membutuhkan perhatian bersama dari seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Karya-karya Pebri mengangkat isu krisis ekologis, dampak karhutla bagi kehidupan masyarakat, kebijakan publik, kepentingan industri ekstraktif, serta praktik pengelolaan lahan yang berisiko memperparah kerusakan lingkungan.
Salah satu karya rupa yang ditampilkan adalah "Presiden 2045" yang dibuat pada tahun 2023 sebagai bentuk ekspresi estetis sekaligus kritik sosial.
“Awalnya karena keresahan soal isu lingkungan yang kian mengkhawatirkan,” kata Pebri mengenai latar belakang penciptaan karyanya.
Pebri memanfaatkan intervensi visual di sejumlah titik kota untuk membawa isu lingkungan keluar dari ruang pameran dan mendekatkannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Nantinya, pameran ini akan menghadirkan beragam medium ekspresi. Mulai dari fotografi, karya rupa, instalasi, hingga zine, yang mempertemukan dua pendekatan dalam membaca krisis ekologis: fotografi merekam jejak sejarah, sementara seni rupa menyampaikan kritik.
(Tia/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
EKONOMIHarga Emas Antam Menguat Tipis ke Rp2.594.000 per Gram Hari Ini
Rozie Winata·15 menit yang lalu -
EKONOMIRupiah Menguat ke Rp17.860 per Dolar AS, BI Siap Intervensi Lebih Agresif
hendra·40 menit yang lalu -
-
EKONOMIIHSG Berpeluang Menguat ke 6.267, Redanya Ketegangan Timur Tengah Jadi Katalis
hendra·1 jam yang lalu -
SUMSELGhompok Kolektif Buka Arsip Karhutla Sumsel 2015–2026 dalam Pameran 'Menjaga Api'
hendra·1 jam yang lalu -
-
PERISTIWABanjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah Aceh, Puluhan Rumah Terendam dan Warga Mengungsi
hendra·2 jam yang lalu -
NEWSFirman Soebagyo Tegaskan Karhutla Bukan Takdir, Desak Evaluasi Total Tata Kelola Hutan
hendra·3 jam yang lalu -
-
KRIMINALSopir Taksi Online di Sumedang Ditemukan Tewas Terkubur, Dua Orang Ditangkap
hendra·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan