Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Menguat ke Rp17.936 per Dolar AS, Pasar Cermati Data Ekonomi

Rupiah menguat ke Rp17.936 per dolar AS pada pembukaan 30 September 2026. Pasar mencermati data perdagangan dan kebijakan Bank Indonesia.

Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar mengawali perdagangan Rabu (30/9/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah dibuka naik 0,22 persen ke level Rp17.936 per dolar AS.

Pergerakan masih menjadi perhatian pelaku pasar di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global. Sebelumnya, rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan 29 September 2026, tertekan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia.

Dari sisi domestik, pasar juga mencermati perkembangan neraca perdagangan dan sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis. Berdasarkan survei ekonom yang dilakukan Reuters, surplus perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$630 juta. Data perdagangan tersebut dijadwalkan dirilis pada 1 Oktober 2026.

Dalam proyeksi tersebut, impor diperkirakan tumbuh 27,8 persen secara tahunan, meningkat dari pertumbuhan 27,02 persen pada periode sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan ekspor diperkirakan mencapai 2,5 persen secara tahunan, melambat dibandingkan 6,05 persen pada bulan sebelumnya.

Selain data perdagangan, arah rupiah juga akan dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, kebijakan bank sentral, pergerakan imbal hasil obligasi, serta rilis data ekonomi Indonesia dan AS.

Bank Indonesia menyatakan strategi stabilisasi rupiah terus diperkuat di tengah tekanan eksternal. Dalam Tinjauan Kebijakan Moneter September 2026, BI menyebut optimalisasi intervensi valuta asing dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

BI pada 22–23 September 2026 juga mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, arah pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen eksternal dan kekuatan fundamental ekonomi dalam negeri.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait