Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita
Iklan

Rupiah Tertekan Geopolitik, Dolar AS Menguat, Simak Proyeksi Kurs Hari Ini 13 Oktober 2026

Rupiah diprediksi melemah ke Rp17.960 per dolar AS hari ini, Selasa 13 Oktober 2026, di tengah konflik geopolitik dan prospek suku bunga The Fed.

Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
A A

Nusantaraterkini.co,ย JAKARTA โ€“ Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, serta prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS menjadi sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.

Rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS.

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (12/10/2026), rupiah ditutup turun 14 poin ke level Rp17.913 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai perkembangan konflik geopolitik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah, terutama melalui dampaknya terhadap harga energi dan sentimen investor.

Konflik Geopolitik Membayangi Rupiah

Ketegangan internasional masih menjadi perhatian pelaku pasar. Dalam perkembangan yang disampaikan Ibrahim, Presiden AS Donald Trump menyebut Rusia dan Ukraina telah menyepakati penghentian serangan terhadap fasilitas energi masing-masing, menyusul kesepakatan pasokan diesel AS dengan Moskow.

Namun, situasi di Timur Tengah masih diwarnai eskalasi konflik. Kelompok Houthi dilaporkan menyerang Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi, dengan korban jiwa dan luka-luka sebagaimana disebutkan dalam keterangan yang menjadi sumber berita ini.

Ketegangan semakin meningkat setelah Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan keterlibatan dalam serangan Arab Saudi terhadap kelompok Houthi.

Ibrahim menilai perkembangan tersebut berkaitan dengan dinamika konflik regional yang lebih luas, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran.

โ€œIni adalah sebuah dampak lanjutan dari perang yang lebih luas dengan Iran yang dimulai oleh AS dan Israel pada bulan Februari,โ€ kata Ibrahim, Senin (12/10/2026).

Ketidakpastian geopolitik dapat memicu perubahan sentimen investor dan meningkatkan volatilitas pasar valuta asing. Pergerakan harga minyak dan energi juga perlu diperhatikan karena berpotensi memengaruhi ekspektasi inflasi serta kebutuhan valuta asing.

Prospek Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian

Selain perkembangan geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat turut menjadi perhatian pasar. Sejumlah pernyataan pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan bahwa pengetatan kebijakan moneter tambahan masih mungkin dilakukan apabila tekanan inflasi belum mereda.

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan bahwa pengetatan moneter lebih lanjut mungkin diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke sasaran yang ditetapkan.

Pandangan serupa disampaikan Gubernur The Fed Christopher Waller, yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan apabila data ekonomi berkembang sesuai perkiraan.

Prospek suku bunga AS menjadi faktor penting bagi pasar keuangan global. Apabila ekspektasi suku bunga tinggi bertahan, dolar AS berpotensi memperoleh dukungan, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat menghadapi tekanan.

Data Inflasi AS Dinantikan Pasar

Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan menjadi perhatian sepanjang pekan ini. Data inflasi konsumen dan produsen, angka penjualan ritel, serta pernyataan lanjutan para pejabat The Fed berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter berikutnya.

Hasil data tersebut dapat menjadi petunjuk bagi investor untuk menilai apakah tekanan inflasi AS mulai mereda atau justru membutuhkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Bagi rupiah, kombinasi perkembangan geopolitik, pergerakan harga energi, dan ekspektasi kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting yang menentukan arah perdagangan.

Dengan proyeksi pergerakan di kisaran Rp17.910โ€“Rp17.960 per dolar AS, pelaku pasar perlu mewaspadai volatilitas nilai tukar sepanjang perdagangan Selasa (13/10/2026). Proyeksi tersebut merupakan perkiraan analis dan bukan kepastian arah pergerakan kurs.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait