Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita
Iklan

Kabut Asap Makin Pekat, Berikut Cara Lindungi Diri Agar Tidak Gampang Sakit

Kabut asap bukan sekadar mengganggu jarak pandang semata. Kondisi ini juga dapat membahayakan kesehatan, terutama kabut asap yang disebabkan oleh karhutla

Bagikan:
Ilustrsi kabut asap yang melanda Indonesia karena adanya kebakaran hutan dan lahan. (Istockphoto.com)
Ilustrsi kabut asap yang melanda Indonesia karena adanya kebakaran hutan dan lahan. (Istockphoto.com)
A A

nusantaraterkini.co - bukan sekadar mengganggu jarak pandang semata. Kondisi ini juga dapat membahayakan kesehatan, terutama kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (). 

Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, batuk, iritasi tenggorokan sampai memperburuk penyakit pernapasan.

Asap yang ditimbulkan dari kebakaran mengandung campuran gas dan partikel halus yang dapat terhirup saat seseorang bernafas. Partikel ini berukuran sangat kecil, sehingga dapat langsung masuk jauh ke dalam paru-paru.

Kementerian Kesehatan RI sudah mengingatkan perihal yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, termasuk iritasi mata dan saluran pernapasan serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Risiko dampaknya juga berbeda-beda pada setiap orang, tergantung kondisi kesehatan dan tingkat paparannya.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan dan menjaga kesehatan selama memburuk.

Cara Mengatasi Kabut Asap

  • Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Ketika kabut asap mulai terlihat dan atau kualitas udara memburuk, masyarakat sebaiknya membatasi kegiatan di luar rumah. Aktivitas seperti olahraga, bersepeda, bermain di lapangan, dan pekerjaan fisik berat dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup sehingga memperbesar paparan partikel pencemaran.

Jika kegiatan tidak mendesak, tunda sampai membaik. Sekolah, kantor dan penyelenggara kegiatan luar ruangan juga perlu mempertimbangkan kondisi kualitas udara sebelum menjalankan aktivitas.

  • Memantau Kualitas Udara Secara Berkala

Jangan hanya mengandalkan pandangan mata untuk menilai kondisi udara. Kabut asap yang tampak tipis belum tentu berarti udara aman untuk dihirup.

Masyarakat dapat memeriksa informasi kualitas udara melalui sumber resmi pemerintah atau layanan pemantauan kualitas udara yang terpercaya. Perhatikan kategori kualitas udara dan rekomendasi aktivitas yang menyertainya.

Informasi tersebut membantu masyarakat menentukan apakah perlu membatasi kegiatan di luar ruangan, menggunakan perlindungan tambahan, atau mencari tempat dengan udara yang lebih bersih.

  • Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Pencegahan merupakan bagian penting dalam mengatasi kabut asap. Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar yang menyebar mengikuti arah angin dan memengaruhi wilayah yang jauh dari sumber api.

Masyarakat perlu menghindari pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, tidak membuang puntung rokok yang masih menyala di area rawan kebakaran, serta segera melaporkan titik api kepada petugas berwenang. Pemerintah dan pihak terkait juga perlu memperkuat pengawasan wilayah rawan kebakaran, meningkatkan kesiapsiagaan petugas, serta melakukan pemadaman secara cepat dan tepat.

  • Menjaga Kebersihan Udara di Dalam Rumah

Ketika udara luar dipenuhi asap, rumah sebaiknya dijadikan tempat berlindung sementara dengan paparan yang seminimal mungkin. Tutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan sekitar.

Jika tersedia, gunakan penyaring udara portabel dengan filter HEPA yang sesuai untuk membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

Hindari aktivitas yang menghasilkan polusi tambahan di dalam rumah, seperti merokok, membakar dupa, atau menggunakan alat pembakaran tanpa ventilasi yang memadai.

Apabila kondisi rumah tidak memungkinkan untuk mendapatkan udara yang lebih bersih, pertimbangkan mencari tempat perlindungan lain yang memiliki kualitas udara lebih baik.

Dampak Kabut Asap

Dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan lingkungan semata. Kualitas udara yang buruk dapat memengaruhi kesehatan, kegiatan sosial, pendidikan, perekonomian, dan aktivitas masyarakat.

  • Iritasi Mata dan Saluran Pernapasan

Satu dampak kabut asap yang paling mudah dirasakan adalah iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan.

Akibatnya, mata menjadi merah, berair, hidung berair, tenggorokan terasa gatal, batuk atau bersin. Keluhan tersebut dapat muncul ketika tubuh terpapar partikel dan gas yang bersifat mengiritasi.

Bagi sebagian orang, gejala mungkin terasa ringan. Namun, paparan yang lebih tinggi atau berlangsung lebih lama dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan.

  • Memperburuk Penyakit Asma dan paru-paru

Kabut asap juga perlu diwaspadai oleh orang yang memiliki riwayat asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau gangguan pernapasan lainnya.

Partikel pencemar dapat memicu peradangan dan memperburuk gejala, seperti batuk, dada terasa sesak, serta kesulitan bernapas.

Orang dengan penyakit jantung juga perlu lebih berhati-hati karena polusi udara dapat memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Jika memiliki penyakit kronis, ikuti saran dokter mengenai langkah perlindungan tambahan selama kabut asap.

  • Meningkatkan Risiko Gangguan Kesehatan pada Kelompok Rentan

Anak-anak, ibu hamil, lansia dan orang yang memiliki penyakit kronis perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara menurun.

Anak-anak masih berada dalam tahap pertumbuhan dan dapat menghabiskan banyak waktu untuk beraktivitas di luar ruangan. Sementara itu, lansia dan penderita penyakit kronis mungkin lebih rentan mengalami komplikasi akibat paparan polusi udara.

Karena itu, keluarga perlu memastikan kelompok tersebut memperoleh lingkungan yang lebih bersih, mengurangi aktivitas luar ruang, dan mendapatkan pertolongan medis jika muncul keluhan yang mengkhawatirkan.

  • Menganggu Kegiatan Pendidikan dan Pekerjaan

Kabut asap yang pekat dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu transportasi. Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan, khususnya bagi pengendara kendaraan bermotor.

Sekolah juga mungkin perlu menyesuaikan kegiatan luar ruang atau mempertimbangkan langkah lain berdasarkan kondisi setempat. Pekerja yang beraktivitas di lapangan dapat menghadapi risiko paparan lebih besar jika tidak memperoleh perlindungan memadai.

Di sisi lain, kabut asap dapat menghambat distribusi barang, mengganggu kegiatan usaha dan mengurangi produktivitas masyarakat.

Bahaya Hirup Kabut Asap

Menghirup kabut asap dapat membahayakan kesehatan. Tingkat bahayanya bergantung pada jenis polutan, konsentrasi pencemar, lamanya paparan, serta kondisi kesehatan orang yang terpapar. 

Seseorang yang hanya sebentar berada di lingkungan dengan asap ringan mungkin mengalami iritasi sementara. Namun, kondisi tersebut tidak berarti semua paparan aman. Asap dengan konsentrasi tinggi atau paparan yang berulang dapat menimbulkan risiko lebih besar.

Partikel Halus dalam Asap Berbahaya

Asap dari kebakaran hutan mengandung berbagai partikel dan gas. Satu yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yaitu partikel dengan diameter aerodinamis sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Karena ukurannya sangat kecil, partikel tersebut dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian paru-paru yang berperan dalam pertukaran gas.

Paparan partikel halus dapat memicu peradangan dan memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Maka dari itu, masyarakat tidak boleh menganggap udara aman hanya karena tidak terlihat sangat berasap atau tidak langsung menimbulkan keluhan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Setelah terpapar kabut asap, perhatikan perubahan kondisi tubuh, seperti; 

  • Mata terasa perih, merah atau berair
  • Hidung dan tenggorokan terasa teriritasi
  • Batuk yang muncul atau semakin sering
  • Napas terasa pendek atau sesak
  • Mengi atau muncul suara seperti siulan ketika bernapas
  • Dada terasa tidak nyaman
  • Tubuh terasa lebih mudah lelah

Gejala ringan sebaiknya tidak diabaikan apabila berlangsung terus-menerus atau semakin parah.

Jika mengalami kesulitan bernapas, nyeri dada, kebingungan, atau gejala berat lainnya. Segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk.

Gunakan Masker yang Sesuai

Jika harus keluar rumah saat kabut asap, gunakan respirator partikulat yang sesuai, seperti N95 atau KN95 yang memenuhi standar terkait dan terpasang rapat di wajah.

Masker tersebut dapat membantu menyaring partikel halus apabila kualitas produk dan pemasangannya memadai. Celah di sekitar hidung atau pipi dapat mengurangi efektivitas perlindungan.

Masker kain atau masker bedah biasa tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus dari asap. Selain itu, respirator partikulat tidak melindungi dari semua jenis gas berbahaya. Bagi anak-anak, pilih perlindungan yang sesuai dengan ukuran wajah dan standar keselamatan yang berlaku. Jangan memaksakan masker pada anak kecil jika penggunaannya tidak aman.

Jaga Kecukupan Cairan dan Kebersihan Diri

Minum air secara cukup sesuai kebutuhan tubuh, konsumsi makanan bergizi dan beristirahat dengan baik. Kebiasaan ini membantu menjaga kondisi tubuh, meskipun tidak dapat menghilangkan partikel asap yang telah terhirup.

Setelah beraktivitas di luar ruangan, cuci tangan dan wajah. Mandi serta mengganti pakaian juga dapat membantu menghilangkan partikel yang menempel pada tubuh dan pakaian.

Lindiungi makanan dan air minum dari debu serta pencemar lingkungan. Cuci buah dan sayuran menggunakan air bersih sebelum dikonsumsi.

(Akb/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru