Nusantaraterkini.co, MEDAN - Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sumatera Utara (Sumut) menilai rekonstruksi pembakaran rumah wartawan Rico Sempurna Pasaribu (47) di Kabanjahe, Karo, Jumat (19/7/2024) kemarin, ada yang janggal.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Medan selaku tim hukum KKJ Sumut menyebut, rekonstruksi tidak utuh dan tidak transparan.
"Ada sejumlah kejanggalan yang kami catat dari proses rekonstruksi itu. Ini ibarat hanya drama dan membuktikan penanganan kasus yang tidak berperspektif terhadap korban,” ujar Direktur LBH Medan Irvan Saputra di Kota Medan, Selasa (23/7/2024).
Baca Juga : Jumat Besok, Polisi Gelar Rekonstruksi Pembakaran Rumah Wartawan di Karo
Dari pantauan saat rekonstruksi, adegan pertama diketahui Koptu HB bertemu dengan tersangka Bebas Ginting alias Bulang di warung yang ada di Jalan Kapten Bom Ginting, Senin (24/7/2024).
Dalam pertemuan itu, Koptu HB menunjukkan unggahan diduga artikel soal perjudian yang ditulis
Rico. Dia menyuruh Bulang untuk meminta Rico Sempurna menghapus postingan itu.
Baca Juga : Foto Disuruh Hapus, Wartawan Diintimidasi saat Liputan Sidang di Pengadilan Negeri Medan
"Bulang mengiyakan perintah Koptu HB. Kejanggalan dalam rekonstruksi itu," kata Irvan.
Namun, dalam rekonstruksi tidak menampilkan adegan pertemuan antara saksi V, A alias E dengan Rico Sempurna pada Minggu (23/6/2024).
"Mereka bertemu di warung itu. Namun Rico Sempurna saat itu hanya berada di dalam mobil. Saat bertemu Koptu HB dan Bulang, saksi V dan A alias E diberikan uang oleh oknum TNI tersebut," kata Irvan.
Baca Juga : Muncul Bukti Baru, Desakan Penyelidikan Koptu HB di Kasus Pembakaran Wartawan Menguat
Lalu, setelah menerima uang, V dan A alias E, kembali ke mobil menemui Rico Sempurna Pasaribu. Mereka pun meninggalkan warung diduga tempat perjudian itu.
Di dalam perjalanan, V dan A mengatakan pada Rico Sempurna Pasaribu, agar menerima uang yang diberikan oleh Koptu HB. Tujuannya agar Rico menghapus pemberitaan terkait perjudian yang telah dimuat di media online Tribrata TV.
"Atas bujukan saksi V dan A, Rico Sempurna Pasaribu akhirnya sepakat untuk kembali menemui Koptu HB dan Bulang. Namun, saat kembali lagi, saksi V tidak ikut. Karena saksi langsung pulang ke rumahnya," kata Irvan.
Saksi A alias E dan Rico Sempurna bertemu dengan Koptu HB dan Bulang, pada Hari Minggu. Dalam pertemuan itu sempat terjadi komunikasi antara Sempurna dan Koptu HB.
"Saat itu, Sempurna disebut menolak untuk menerima uang dari Koptu HB," ujarnya.
Usai berbincang, korban pun kemudian pergi meninggalkanlokasi bersama saksi A.
“Setelah pertemuan itu, korban merasa terancam. Bahkan dia menyebut ingin membawa keluarganya ke Polda Sumut untuk meminta perlindungan,” kata Irvan.
KKJ Sumut pun melihat kejanggalan mengapa dalam rekonstruksi itu tidak dihadirkan adegan korban bertemu Koptu HB pada tanggal 23 Juni 2024, begitu juga Koptu HB juga tidak dihadirkan.
Harusnya, Koptu HB dihadirkan sebagai saksi dalam perkara itu. Sama seperti saksi A alias E yang juga dihadirkan. Koptu HB dalam adegan rekonstruksi diperagakan oleh peran pengganti.
“Kami juga heran kenapa polisi juga tidak memanggil saksi V. Padahal keterangan saksi tersebut sangat penting dalam mengungkap dugaan keterlibatan Koptu HB,” ungkap Irvan.
KKJ Sumut juga menyayangkan sikap Polda Sumut yang seakan menutup rapat keterangan detil soal rekonstruksi itu.
Hal lain yang juga menjadi misteri adalah hasil autopsi terhadap masing-masing korban yang meninggal dunia.
Dokter RS Bhayangkara Tingkat II Medan yang ditugaskan melakukan autopsi tak kunjung memberikan hasil pemeriksaan jenazah.
Begitu juga soal rekaman CCTV yang dimiliki polisi, Irvan bilang, polisi tidak utuh mengungkap rekaman CCTV di lokasi kejadian.
Dari hasil investigasi KKJ Sumut, ada sejumlah rekaman CCTV yang sudah disita oleh petugas.
“Kita tetap mendesak kasus ini harus diungkap ke publik. Ini sudah menjadi perhatian," tukasnya.
Diketahui, kebakaran melanda rumah milik seorang wartawan di Jalan Nabung Surbakti, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (27/6/2024) dini hari.
Kebakaran ini merenggut 4 orang korban meninggal dunia. Keempat korban masing-masing bernama Sempurna Pasaribu (47), istrinya Efrida Boru Ginting (48), anaknya, Sudi Inveseti Pasaribu (12) dan cucunya Lowi Situngkir (3).
(cw5/nusantaraterkini.co)
