Pemerintah Gelontorkan 1,6 Juta Ton Beras Impor, Ini Kata Peneliti Core
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Kenaikan harga beras menjelang Ramadan tahun ini terjadi karena stok beras di pasar cenderung menipis.
Baca Juga : Harga Cabai Rawit Naik Hingga 104,2%, Disperindag ESDM Sumut Siapkan Langkah Antisipasi
Penyebabnya panen raya diperkirakan mundur akibat mundurnya masa tanam akhir tahun lalu, karena kekeringan yang juga menyebabkan turunnya produksi nasional.
Baca Juga : Soal Impor Beras Sabang Jadi Polemik, Legislator Ingatkan Prinsip Kehati-hatian
Demikian hal ini disampaikan Peneliti Core Indonesia, Muhammad Ishak Razak menanggapi Pemerintah memutuskan menambah penugasan impor beras kepada Perum Bulog sebanyak 1,6 juta ton untuk sepanjang tahun 2024 ini.
"Stok yang menipis ini mendorong produsen dan pedagang menaikkan harga. Harga beras internasional juga masih sangat tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meskipun mulai sedikit menurun pada bulan Februari," kata Ishak kepada nusantaraterkini.co, Selasa (27/9/2024).
Baca Juga : Ribuan Ton Beras Impor Diduga Masuk RI, Komisi IV Tagih Komitmen Pemerintah
Di samping itu, sambung Ishak, ada kecenderungan masyarakat meningkatkan konsumsinya di bulan Ramadan, sehingga secara umum harga-harga barang cenderung meningkat, termasuk beras. Apalagi, pembagian bansos besar-besaran oleh pemerintah juga mempercepat penurunan cadangan bulog.
Baca Juga : 2.000 Ton Beras Impor Vietnam Jadi Stok Beras Bulog Palopo
Disisi lain Ishak mengatakan, kenaikan beras yang sangat tinggi bulan ini memang harus disikapi secara tangkas. Terlebih, Pemerintah seharusnya melakukan operasi pasar dengan menjual beras murah di pasar-pasar tradisional.
"Pemerintah harus memerintahkan Bulog untuk mengeluarkan cadangan berasnya khususnya kepada masyarakat miskin," tegasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
