Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Pelaku Pasar Memperhatikan Data Ekonomi AS: Imbas Positif bagi IHSG, Namun Menekan Rupiah

Editor:  Rozie Winata
Reporter: Elvirida Lady Angel Purba
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan yang signifikan di sesi perdagangan pagi kemarin, seiring dengan perbaikan kinerja bursa di seluruh Asia.

IHSG dibuka dengan menguat di kisaran 7.668, mengikuti langkah positif bursa regional setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kebijakan suku bunga acuan. 

Baca Juga : Pasar Menanti Data PDB, IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang antara 7.640 hingga 7.690, menandakan optimisme pasar terhadap potensi pertumbuhan ekonomi domestik.

Baca Juga : IHSG Berpeluang Lanjutkan Reli ke 8.122, Ini 4 Saham Pilihan Analis

Meskipun IHSG menunjukkan tren positif, kondisi yang berbeda terlihat pada mata uang Rupiah. Setelah mengalami penguatan tajam pasca pengumuman kebijakan BI, Rupiah kini terpantau melemah tipis ke level 15.515 per US Dolar.

Hal ini menunjukkan adanya hubungan erat antara kebijakan BI dan pergerakan Rupiah terhadap Dolar AS. Di tengah minimnya sentimen pasar, Dolar AS cenderung bergerak sideways terhadap mata uang Asia lainnya, menciptakan ketidakpastian bagi pelaku pasar.

Baca Juga : Harga Emas Tahun 2026 Masih Bullish

Fokus utama pelaku pasar tertuju pada data penjualan ritel dan klaim pengangguran di AS yang akan dirilis. Proyeksi menunjukkan bahwa kedua data tersebut akan menunjukkan perbaikan, yang dapat memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi AS. Jika hasilnya sesuai harapan, dampak beragam dapat terlihat di pasar keuangan domestik. 

Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis Diprediksi Jaga Ekonomi Sumut di Level 5% pada 2026

"Kedua data ini akan sangat diperhatikan karena dapat mempengaruhi kebijakan moneter The Fed ke depan," kata Gunawan Benjamin, seorang pengamat ekonomi, Kamis (17/10/2024). 

Gunawan menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini sangat memperhatikan data penjualan ritel dan klaim pengangguran di AS. Jika kedua data tersebut menunjukkan perbaikan.

Baca Juga : Peternak Lokal Merugi Gegara Daging Impor, China Lakukan Penyelidikan

"Kita bisa melihat dampak positif pada IHSG, meskipun Rupiah mungkin akan tertekan akibat spekulasi bahwa The Fed tidak akan mengurangi suku bunga acuan secara agresif. Ini adalah waktu yang krusial bagi investor untuk tetap waspada dan melakukan analisis mendalam terhadap pergerakan pasar," jelasnya.

Baca Juga : Polri Bina Sebanyak 3.490 UMKM, Kapolri: Menjaga Pasar Domestik

Di sisi lain, harga emas juga menunjukkan tren penguatan, diperdagangkan di level $2.681 per ons troy. Kenaikan ini didorong oleh ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di beberapa wilayah, yang telah menjadikan emas sebagai aset aman (safe haven) bagi investor.

Harga emas yang terus menguat juga mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas global, dan dapat menjadi indikator penting bagi pelaku pasar yang mencari perlindungan terhadap risiko. 

Dengan sentimen campur aduk ini, pelaku pasar harus terus memantau perkembangan selanjutnya agar dapat membuat keputusan investasi yang cerdas dan tepat waktu. Ketidakpastian di pasar global dan domestik menuntut perhatian ekstra dari investor untuk memahami dinamika yang ada, serta mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

"Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, strategi investasi yang baik dan informasi yang akurat akan sangat penting untuk mengoptimalkan potensi keuntungan dan meminimalkan risiko," pungkasnya.

(Cw9/Nusantaraterkini.co)