Nusantaraterkini.co, MEDAN — Peringatan Hari Buruh Internasional di Medan, Kamis (1/5/2025), berubah menjadi panggung perlawanan panas ketika ribuan massa dari Akumulasi Kemarahan Buruh dan Rakyat Sumatera Utara (Akbar Sumut) terlibat ketegangan serius dengan aparat kepolisian.
Akar kericuhan, sebuah boneka kepala babi berkepala gurita yang hendak dibakar sebagai simbol perlawanan terhadap kerakusan penguasa.
BACA JUGA: Bentuk Satgas PHK Nasional, Prabowo: Negara tak akan Biarkan Pekerja di-PHK Seenaknya!
Sekitar pukul 18.20 WIB, di depan gerbang utama Kantor Gubernur Sumut yang dijaga ketat aparat bersenjata, massa mencoba menyalakan api untuk membakar boneka raksasa yang mereka sebut sebagai perwujudan dari kapitalisme yang rakus dan menindas. Polisi bereaksi cepat, berusaha mencegah pembakaran dengan alasan keamanan dan provokasi.
Saling dorong pun tak terhindarkan. Ucapan keras melayang di udara yang makin pekat oleh aroma bensin dan semangat perlawanan.
"Kami tidak sedang bermain simbol. Ini ekspresi kemarahan kolektif! Kenapa polisi selalu takut pada api rakyat, tapi diam pada pembakaran hak-hak buruh setiap hari?" teriak seorang demonstran.
Suasana sempat memanas. Namun setelah beberapa menit ketegangan, pihak kepolisian mundur selangkah, membiarkan boneka itu terbakar perlahan di tengah lantunan lagu-lagu perlawanan yang dinyanyikan penuh emosi oleh para buruh.
Api menjilat lambat kepala boneka, menyisakan bau plastik terbakar yang menyatu dengan semangat membara para demonstran.
Adinda Zahra, koordinator aksi, menjelaskan bahwa boneka babi berkepala gurita bukan dipilih secara acak.
“Simbol ini kami ciptakan untuk menggambarkan kerakusan elit dan cengkeraman kekuasaan yang menyedot keringat buruh tanpa henti. Dia bukan hanya menyambangi kantor DPRD dan Gubernur, tapi membawa pesan: buruh tidak akan diam,” tegasnya lantang.
Aksi Akbar Sumut ini bukan sekadar seremoni May Day. Di balik poster dan orasi, mereka menyampaikan pesan tajam, sistem kapitalisme yang menindas harus dihancurkan.
BACA JUGA: Cerita Cikal Ramadan, PMI Asal Binjai yang Mengaku Mendapat Perlakuan Buruk di Kamboja
Tuntutan mereka meliputi upah layak, jaminan sosial yang inklusif, serta perlindungan hukum yang tidak memihak pemilik modal.
“Ini bukan akhir. Ini titik mula perlawanan yang lebih masif. May Day bukan festival bunga, ini hari pembangkangan terhadap sistem yang gagal,” pungkas Adinda dari atas mobil komando, disambut sorakan “Hidup buruh!”
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
