Nusantaraterkini.co, Medan - Menjelang Pilkada Kota Medan yang akan digelar tahun depan, pengamat politik sekaligus dosen Universitas Sumatera Utara, Agus Suryadi, mengangkat persoalan tata ruang yang dihadapi Medan sebagai kota megapolitan dalam diskusi podcast pada Kamis (7/11/2024),
Agus menyebut Medan sebagai “kota tanpa bayangan” karena berkembang pesat tanpa perencanaan tata ruang yang terpadu dan berkelanjutan.
Baca Juga : Pilkada Tak Langsung Dinilai Curi Kedaulatan Rakyat, Alarm Bahaya bagi Partai Penguasa
Menurut Agus, arus kapitalisasi di Medan mendorong pembangunan infrastruktur dan perumahan di pinggiran kota tanpa diimbangi regulasi yang jelas. Hal ini, lanjutnya, menyebabkan semakin padatnya wilayah inti kota sementara daerah suburban terus mengalami ekspansi permukiman yang merambah lahan hijau.
Baca Juga : Shohibul Anshor Siregar: Pilkada Langsung tak Langsung Hanya Prosedural Mempertahankan Oligarki
“Tata ruang Medan seolah tidak punya bayangan, sebuah perkembangan tanpa rencana jangka panjang yang matang,” ujarnya.
Kondisi ini, jelas Agus, berdampak pada infrastruktur dan ketimpangan sosial. Tingginya angka imigrasi ke Medan, menurutnya, ikut meningkatkan pengangguran dan masalah sosial seperti kriminalitas. Fenomena ini mencerminkan wajah Medan sebagai megapolitan yang berkembang di bawah tekanan ekonomi kapitalis.
Baca Juga : Respon Cepat Wali Kota Rico Waas Beri Bantuan Kursi Roda untuk Ketua JMSI Medan
Selain itu, Agus menyoroti kebijakan tata ruang yang kurang memerhatikan kawasan perbatasan, terutama wilayah yang berbatasan dengan Deli Serdang. Ketidakjelasan dalam perencanaan ini menciptakan tantangan baru di daerah suburban, seperti Marelan, yang terus mengalami pertumbuhan pesat tanpa pengelolaan yang tepat.
Baca Juga : Rico Waas Dorong Transformasi PUD Pasar Medan: Harus Mandiri, Profesional, dan Buang Pola Pikir Birokrat
Agus menegaskan bahwa pemerintah kota harus segera memperbaiki perencanaan tata ruang dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. Ia mendorong agar pemerintah lebih kreatif menarik investor untuk berkontribusi dalam pengembangan tata ruang jangka panjang dan berkelanjutan di Medan.
“Medan saat ini adalah megapolitan dengan tantangan besar. Diperlukan kebijakan yang berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara inti kota dan pinggiran agar Medan tidak berkembang tanpa bayangan,” pungkasnya.
Baca Juga : Pemprov Sumsel Beri Toleransi 1 Bulan bagi Truk Batubara Lintasi Jalan Nasional
(Cw9/Nusantaraterkini.co)
