Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Lebih dari 434.000 Hektare Lahan Hangus Terbakar di Eropa pada 2026

Lebih dari 434.000 hektare lahan di Eropa hangus terbakar akibat gelombang panas dan kekeringan ekstrem

Foto yang diabadikan pada 25 Juli 2026 ini menunjukkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area Lembah Tietar di Provinsi Avila, Spanyol. (Foto: Xinhua/Bruno Thevenin)
Foto yang diabadikan pada 25 Juli 2026 ini menunjukkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area Lembah Tietar di Provinsi Avila, Spanyol. (Foto: Xinhua/Bruno Thevenin)
A A

Nusantaraterkini.co, JENEWA - Lebih dari 434.000 hektare lahan di seluruh Eropa telah hangus terbakar pada tahun ini, berdasarkan data terbaru yang tersedia, ungkap Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Eropa (United Nations Economic Commission for Europe/) pada Kamis (30/7/2026).

Kebakaran dahsyat di wilayah Gironde, , menghancurkan sekitar 42.000 hektare hutan pinus dan memaksa evakuasi puluhan ribu penduduk dan wisatawan.

mengalami salah satu musim dan lahan (karhutla) terburuk dalam beberapa dekade, dengan lebih dari 200.000 hektare lahan hangus terbakar atau dua kali lipat dari rata-rata tahunan historisnya, menurut rilis pers UNECE.

Uni Eropa (UE) pada Rabu (29/7/2026) memperingatkan bahwa krisis karhutla sedang bergeser ke arah timur, dengan Yunani dan Italia diperkirakan akan menghadapi bahaya yang semakin besar seiring berlanjutnya gelombang panas, kekeringan dan angin kencang hingga awal Agustus mendatang.

Di seberang Atlantik, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Amerika Serikat (AS) mencatat sekitar 1.849.000 hektare lahan telah hangus terbakar sejauh ini pada 2026, sementara Kanada dilanda lebih dari 4.000 karhutla yang menghanguskan 3.770.000 hektare lahan, dengan puluhan kebakaran berskala besar masih belum dapat dikendalikan.

"Setiap musim panas mengingatkan kita bahwa karhutla bukan lagi sebuah peristiwa luar biasa, melainkan konsekuensi yang semakin dapat diprediksi dari iklim yang memanas," ujar Paola Deda, direktur Divisi Lingkungan dan Kehutanan .

"Meski upaya tanggap darurat tetap esensial, peluang terbesar kita terletak pada langkah pencegahan, pengelolaan hutan yang berkelanjutan, serta pembangunan bentang alam dan masyarakat yang lebih tangguh."

Seiring karhutla yang terus berkobar di seluruh Eropa dan Amerika Utara, yang menghancurkan hutan-hutan, mengancam masyarakat dan melepaskan karbon dalam jumlah sangat besar ke atmosfer, musim kebakaran 2026 lagi-lagi menunjukkan bahwa meskipun banyak kebakaran tidak dapat dihentikan saat mencapai intensitas penuh, masih banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah bencana di masa mendatang, papar UNECE.

Karhutla mengancam jiwa, menghancurkan rumah, infrastruktur dan mata pencaharian, serta memaksa seluruh masyarakat untuk mengungsi. Dampak yang ditimbulkan menjangkau jauh melampaui perimeter kebakaran. Asap dapat menyebar hingga ratusan bahkan ribuan kilometer, menurunkan kualitas udara, serta meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular di area-area yang jauh dari sumber api.

memicu terjadinya karhutla yang lebih sering dan intens, sementara emisi karbon yang sangat besar dari kebakaran tersebut kian mempercepat pemanasan global, sehingga menciptakan siklus umpan balik berbahaya yang semakin memperburuk kedua masalah tersebut.

Dampak ekonominya pun tidak kalah signifikan. Di UE saja, nilai kerugian akibat karhutla diperkirakan mencapai sekitar 2,5 miliar euro (1 euro = Rp20.616) setiap tahunnya, melalui kerusakan infrastruktur, hilangnya pendapatan dari sektor pariwisata, serta terganggunya aktivitas ekonomi. Namun demikian, estimasi tersebut hanya memotret sebagian dari dampak secara keseluruhan.

Sekitar sembilan dari 10 karhutla disebabkan oleh aktivitas manusia, demikian peringatan dari organisasi PBB yang berkantor pusat di Jenewa tersebut. Hal itu menjadikan upaya pencegahan melalui peningkatan kesadaran masyarakat, regulasi, dan pengelolaan hutan berkelanjutan, yang mencakup penilaian risiko, deteksi dini, serta pemulihan pascakebakaran, sangat penting untuk menekan risiko kebakaran.

(*/Nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua 

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait