Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Krisis Migran di Ceuta: 18 Tewas, Lebih dari 48 Ribu Orang Dipulangkan ke Maroko

Gelombang migran dari Maroko ke Ceuta memicu krisis di Spanyol. Sebanyak 18 orang tewas dan lebih dari 48 ribu migran dipulangkan.

Para migran dari Maroko tiba di perbatasan Spanyol, di Ceuta, Spanyol, Jumat (31/7/2026). (Foto: Fabian Bimmer/REUTERS)
Para migran dari Maroko tiba di perbatasan Spanyol, di Ceuta, Spanyol, Jumat (31/7/2026). (Foto: Fabian Bimmer/REUTERS)
A A

Nusantaraterkini.co, – Gelombang besar dari menuju wilayah kantong Spanyol, , memicu krisis kemanusiaan sekaligus tantangan baru bagi pemerintah Spanyol. Dalam beberapa hari terakhir, puluhan ribu orang nekat menyeberangi perbatasan laut demi mencapai wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan AFP, Jumat (31/7/2026), aparat kepolisian memperkirakan sekitar 40 ribu berhasil memasuki yang hanya dihuni sekitar 80 ribu penduduk. Ribuan lainnya terus berdatangan sejak Kamis malam hingga Jumat pagi.

"Arus kedatangan berlangsung sepanjang malam dan masih berlanjut hingga Jumat pagi," ujar sumber kepolisian Spanyol.

Sejumlah rekaman di lokasi memperlihatkan pria, perempuan, hingga anak-anak berenang mengitari pagar pembatas antara dan Ceuta dengan bantuan pelampung sederhana. Setelah berhasil mencapai daratan, mereka meninggalkan pelampung tersebut di pantai.

Tragedi juga mewarnai gelombang migrasi tersebut. Sedikitnya 18 orang dilaporkan meninggal dunia saat berusaha mencapai Ceuta melalui jalur laut.

Pemerintah Spanyol segera mengirim personel keamanan tambahan untuk memperketat pengawasan di wilayah perbatasan. Perdana Menteri bersama Menteri Dalam Negeri dijadwalkan meninjau langsung pos perbatasan Tarajal guna memastikan penanganan situasi di lapangan.

Lonjakan migran tidak hanya menjadi persoalan Spanyol, tetapi juga menimbulkan reaksi dari sejumlah negara Eropa.

Prancis memperketat pemeriksaan di perbatasannya dengan Spanyol guna mengantisipasi perpindahan migran ke wilayahnya.

Sementara itu, Italia menyerukan agar Spanyol ditangguhkan dari kawasan bebas perbatasan Schengen. Pernyataan tersebut mendapat respons keras dari Madrid yang memanggil Duta Besar Italia dan menilai pernyataan itu bermuatan politik.

Hingga kini, penyebab pasti lonjakan migrasi dari Maroko menuju Ceuta masih belum dipastikan.

Pernah Terjadi pada 2021

Fenomena serupa pernah terjadi pada 2021 ketika lebih dari 10 ribu migran memasuki Ceuta hanya dalam waktu dua hari.

Kala itu, Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan di tengah memburuknya hubungan diplomatik dengan Spanyol setelah Madrid menerima pemimpin Front Polisario untuk menjalani perawatan medis.

Hubungan kedua negara mulai membaik pada 2022 setelah Spanyol menyatakan dukungan terhadap rencana Maroko mengenai status Sahara Barat. Kebijakan tersebut sempat memicu ketegangan baru dengan Aljazair yang selama ini mendukung Front Polisario.

Ceuta bersama Melilla merupakan dua wilayah enklave Spanyol di yang menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Benua Afrika. Kawasan ini telah lama menjadi salah satu jalur utama migrasi menuju Eropa.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan proses pemulangan migran ke Maroko terus berlangsung.

Hingga Jumat (31/7/2026) pukul 18.00 waktu setempat, sebanyak 48.300 migran telah kembali melintasi perbatasan menuju Maroko.

Pemerintah Spanyol kini terus berkoordinasi dengan otoritas Maroko untuk mengendalikan arus migrasi serta menjaga stabilitas di wilayah perbatasan yang menjadi salah satu titik paling sensitif di kawasan Eropa dan Afrika.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait