Nusantaraterkini.co - Korea Utara (Korut) mengecam keras latihan militer gabungan yang dilakukan Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) sejak awal pekan ini, Pyongyang memperingatkan akan konsekuensi latihan militer gabungan itu yang dianggap sebagai latihan perang.
Dilansir dari detikNews, Militer AS dan Korsel melakukan latihan militer gabungan mulai musim semi, yang merupakan latihan tahunan, sejak Senin (4/3/2024) waktu setempat, dengan jumlah pasukan yang terlibat mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Latihan gabungan semacam ini bertujuan untuk meningkatkan respons kedua negara terhadap ancaman nuklir dan rudal Korut yang semakin berkembang.
Baca Juga : Kim Jong Un Janji Dukung Tanpa Syarat Semua Kebijakan Vladimir Putin dan Rusia
Dalam serangkaian pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Pyongyang, Korea Utara menyerukan penolakannya terhadap latihan militer tersebut.
Dilansir dari Kompas.com, Korea Utara menilai latihan tersebut dianggap sebagai tindakan panik dan sembrono. Selama ini, mereka menganggap simulasi itu sebagai "agenda perang" melawan Pyongyang, bukan latihan.
Korea Utara menilai peningkatan skala latihan dan partisipasi 11 negara anggota Komando PBB sebagai ancaman yang serius.
Baca Juga : Teguh Santosa: MoU Indonesia dan Korea Utara Langkah Diplomatik Strategis bagi ASEAN
"Dalam situasi seperti ini, percikan api kecil pun bisa memicu perang nuklir," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Utara dalam pernyataannya yang dikutip oleh KCNA.
Mereka mengingatkan bahwa tindakan agresif semacam ini dapat membawa konsekuensi serius bagi kedua negara tersebut. Amerika Serikat dan Korea Selatan diimbau akan "membayar harga yang mahal" atas keputusan mereka yang dianggap salah oleh Korea Utara.
Pyongyang bersumpah untuk melakukan segala upaya guna mengendalikan situasi keamanan yang semakin tidak stabil di wilayah tersebut.
Baca Juga : Korsel Resmi Sahkan UU AI 2026, Aturan Tegas Lawan Deepfake dan Misinformasi
Latihan militer yang disebut "Freedom Shield" ini berlangsung hingga tanggal 14 Maret, sejalan dengan upaya Korea Utara dalam pengembang kemampuan nuklirnya melalui uji coba rudal dan senjata strategis lainnya.
Latihan ini dirancang untuk menetralisir ancaman nuklir Korea Utara, termasuk dengan mengidentifikasi dan menyerang rudal jelajah yang dianggap sebagai ancaman serius. Namun, Pyongyang menanggapinya dengan kemarahan dan menyebutnya sebagai latihan perang nuklir.
Sementara itu, Seoul dan Washington mempertahankan bahwa latihan tersebut bersifat defensif dan merupakan respons terhadap ancaman yang terus berkembang dari Korea Utara.
Situasi di Semenanjung Korea terus memanas seiring dengan saling tuding antara kedua belah pihak.
(Ann/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Kompas.com
