Nusantaraterkini.co, MEDAN - Pemerintah Indonesia dan Korea Utara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat hubungan bilateral di kota Pyongyang, Korut, pada Sabtu (11/10/2025).
Kesepakatan itu mencakup kerja sama di berbagai bidang, mulai dari politik, sosial-budaya, hingga sektor teknis dan olahraga.
Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis Indonesia memperluas jangkauan diplomasi di kawasan Asia Timur, di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menandatangani kesepakatan tersebut atas nama Pemerintah Indonesia. Sementara dari pihak Korea Utara, MoU itu disebut sebagai simbol keterbukaan negara tersebut terhadap hubungan diplomatik yang lebih luas di kawasan.
Pengamat Hubungan Internasional, Teguh Santosa, menilai kesepakatan itu sebagai langkah positif yang dapat memperkuat posisi ASEAN di tengah ketegangan politik Asia Timur.
“Langkah ini menjadi kesempatan bagi Korea Utara untuk memperoleh manfaat dari ASEAN, sekaligus memberi ruang bagi ASEAN untuk mendapatkan manfaat dari hubungan dengan Korea Utara,” kata Teguh dalam wawancara dengan RRI Pro 3, Sabtu (25/10/2025).
Ketua Umum JMSI ini menilai, kerja sama ini juga menandai meningkatnya kepercayaan internasional terhadap ASEAN sebagai organisasi regional yang relatif stabil dibandingkan blok-blok kawasan lain.
Menurut Teguh, Korea Utara saat ini sedang fokus pada proyek pembangunan besar-besaran yang disebut sebagai pembangunan kawasan 20 kali 10 program pembangunan 200 kota baru dalam kurun 10 tahun ke depan.
“Pembangunan ini tentu membutuhkan dukungan sumber daya besar. ASEAN, khususnya Indonesia, dapat memainkan peran penting di sana. Masyarakat bisnis kita bisa dilibatkan dalam proses itu,” ujarnya.
Teguh yang juga Pemred Nusantaraterkini.co inimenambahkan, keterlibatan ASEAN dalam proyek ekonomi Korea Utara dapat menjadi “instrumen lunak” untuk mengontrol dinamika politik negara tersebut.
Baca Juga : Menunggu Parade Militer Korea Utara
“Kerja sama ekonomi bisa menjadi mekanisme untuk menekan potensi agresivitas, menggantikan pendekatan militer dengan pendekatan pembangunan yang lebih pasifis,” katanya.
Meski hubungan Pyongyang dengan sejumlah negara ASEAN sempat terganggu dalam satu dekade terakhir, Teguh menilai masih ada peluang besar untuk memperbaikinya.
“Hubungan Korea Utara dengan Indonesia, Vietnam, dan bahkan Singapura pernah berada di titik yang baik. Kita perlu melihat kembali bahwa isolasi terhadap Korea Utara justru bisa berdampak lebih buruk. Dengan membuka dialog, kita memberi ruang bagi kontrol dan kerja sama yang lebih konstruktif," ujar Teguh.
Teguh juga mengingatkan bahwa persepsi negatif dunia terhadap Korea Utara sering kali dibentuk oleh stigma dan praduga.
“Kita wajar khawatir terhadap uji coba senjata mereka, tapi setiap negara melakukan itu dalam konteks pertahanan. Yang terpenting adalah membangun mekanisme keterlibatan agar mereka merasa menjadi bagian dari ekosistem kawasan, bukan musuhnya,” kata Teguh.
Baca Juga : Teguh Santosa: Insya Allah Hubungan Indonesia-Korea Utara Semakin Baik
Indonesia dikenal memiliki hubungan historis panjang dengan Pyongyang sejak era Presiden Soekarno dan Kim Il-sung. Hubungan ini sempat mengendur pada masa sanksi internasional, namun kini kembali dibuka lewat diplomasi ekonomi dan sosial-budaya.
“Indonesia memiliki modal diplomatik dan sejarah yang kuat. Ini bisa menjadi jembatan bagi upaya memulihkan komunikasi antara Pyongyang dan negara-negara ASEAN lainnya,” ujar Teguh.
Ia menekankan, keterlibatan Korea Utara dalam ekosistem kerja sama ASEAN bukan untuk memperluas keanggotaan organisasi, tetapi untuk memperkuat stabilitas kawasan.
“Kalau kita ingin membangun Asia Timur dan Asia Tenggara yang damai dan sejahtera, maka pelibatan semua pihak termasuk Korea Utara adalah langkah penting,” pungkasnya.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
