Nusantaraterkini.co, MEDAN - Kopi dikenal sebagai teman setia bagi banyak orang, khususnya kalangan mahasiswa dan pekerja yang sibuk.
Namun, seiring meningkatnya konsumsi kopi, muncul kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kesehatan mental.
Baca Juga : AS Hapus Tarif Resiprokal: Kopi, Teh, dan Buah Tropis Bebas Bea
Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli menjelaskan tanda-tanda ketergantungan pada kopi dan bagaimana konsumsi berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.
Baca Juga : Vietnam Raup 7,4 Miliar Dolar AS dari Ekspor Kopi dalam 10 Bulan
Irna Minauli mengungkapkan, bahwa penelitian di Amerika menunjukkan hampir 80 persen orang dewasa mengonsumsi kafein, terutama dalam bentuk kopi.
Meski kafein memiliki efek positif sebagai "cognitive booster" yang dapat meningkatkan konsentrasi, konsumsinya yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan.
Baca Juga : Manfaat Minum Kopi Pahit, Tergantung Porsi yang Kalian Konsumsi
Menurutnya, seseorang dianggap mengalami kecanduan kopi jika mengonsumsi lebih dari 400 miligram kafein, atau sekitar empat cangkir kopi, perhari.
Baca Juga : Efek Samping Kelebihan Kafein pada Tubuh, Bisa Mengakibatkan Hal Ini
"Kecanduan kopi masuk dalam kategori problematic caffeine consumption, yang ditandai oleh beberapa gejala," jelas Irna.
Beberapa tanda tersebut meliputi, keinginan untuk berhenti minum kopi tetapi tidak bisa mengontrolnya. Kemudian mengalami gejala putus kafein, seperti sakit kepala dan mudah tersinggung, saat tidak minum kopi.
Baca Juga : Panic Attack Semakin Marak di Kalangan Gen Z, Apa Penyebabnya?
Selanjutnya, toleransi yang terus meningkat, di mana seseorang membutuhkan lebih banyak kopi untuk merasakan efek yang sama.
Baca Juga : Kenali Ciri-Ciri Manipulatif Agar Tidak Menjadi Korban, Ini Penjelasan Pakar
Gejala withdrawal yang muncul pada seseorang yang sudah ketergantungan kopi, bahkan bisa menyerupai orang yang sakau.
"Orang tersebut akan merasa sakit kepala, lelah, sulit berkonsentrasi, hingga merasa murung atau depresi saat tidak mengonsumsi kopi," sebutnya.
Konsumsi kopi yang berlebihan juga bisa mengganggu kesehatan mental secara signifikan. Kafein, sebagai senyawa kimia yang mirip dengan neuromodulator adenosine, membuat seseorang merasa terjaga dan menekan rasa lelah.
Namun, konsumsi berlebih bisa menyebabkan gangguan tidur dan kecemasan, terutama di kalangan pemuda.
"Kafein dapat meningkatkan kewaspadaan dan denyut jantung, bahkan memicu serangan panik yang mirip dengan gejala gangguan kecemasan," jelas Irna.
Hal ini bisa memperparah kondisi kecemasan atau stres yang sudah dialami oleh seseorang, terutama yang mengonsumsi kopi dalam jumlah besar setiap hari.
Bagi pemuda yang merasa sudah mulai ketergantungan pada kopi tetapi ingin tetap produktif, Irna menyarankan untuk mengurangi konsumsi secara bertahap.
"Kurangi asupan kafein secara bertahap selama beberapa minggu untuk menghindari gejala sakau yang parah," sarannya. Biasanya, gejala kecanduan akan hilang setelah 7-12 hari jika konsumsi kafein terus dikurangi," katanya.
"Jika berhasil berhenti sepenuhnya, otak akan kembali ke kondisi normal, dan jumlah reseptor adenosine dalam otak akan berkurang," sambungnya.
Irna menegaskan bahwa proses ini memungkinkan seseorang tetap produktif tanpa perlu ketergantungan pada kopi.
Dalam jangka panjang, kebiasaan minum kopi secara berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosional seseorang.
Irna melanjutkan, bahwa ketergantungan yang tidak terkontrol dapat memperburuk gangguan tidur, kecemasan, dan suasana hati seseorang. Lebih jauh lagi, kopi yang dikonsumsi secara terus-menerus tanpa kontrol bisa mempengaruhi keseimbangan emosional.
"Pemuda yang mengandalkan kopi sebagai penenang atau pendorong produktivitas perlu berhati-hati. Ketergantungan yang berlebihan tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga mental mereka," pungkasnya.
(cw9/Nusantaraterkini.co)
